Jumat, 31 Oktober 2014

Untuk Jiwa

kau lahir bersama satu paket tawa dan tangis
duka dan bahagia tercipta di setiap sendi,
di setiap buku jari

jadi, jangan khawatir
puji dan caci itu biasa
manis dan pahit adalah elemen-elemen pembangun rangka tubuhmu

jangan menangis, jiwa...
bertahanlah,
meski selalu saja ada beban berat yang memasung kakimu
teruslah melangkah!

Rabu, 22 Oktober 2014

Tulis, Kenang

*tengah hari yang gerah. bentar lagi pasti turun hujan*

kutuliskan ini untuk kukenang di kemudian hari nanti. akan kuingat bahwa aku pernah, di suatu hari di masa lalu - yakni di hari ini ketika aku menuliskan ini - menjalani hidup dengan cara yang tidak begitu kuinginkan.

kulewati hari dengan degup jantung yang semakin kencang di setiap detiknya
ada berbagai rasa yang berkecamuk dalam relung jiwa
kujalani dengan penuh rahasia, dengan gugup, sedikit takut, dan dibelenggu ketidak-pastian

ini bukan pilihanku.
atau, bisa jadi ini memang pilihanku
aku sendiri yang membuat semua menjadi seperti ini

akan kuingat aku pernah bekerja demikian keras, memaksa otak menghasilkan imajinasi-imajinasi hebat
semua harus berhasil tepat pada waktunya nanti
nanti, tapi kian lama waktu itu kian dekat
aku merasa berkeringat dingin dan menggigil
ini akibat dari memilih keluar jalur dan melawan arus
ini keyakinan. ini pendirian
aku harus bisa tiba di tujuan, serempak dengan 'mereka'
namun aku, dengan caraku sendiri.

aku harus tiba di sana, di ujung titik itu, titik penemuan identitas dan bukti tanggung jawab.
hanya satu yang membuatku tenang, yaitu TUAN PENOLONG yang bersemayam di atas sana.
yakin aku DIA mendengar semua ini.

*oktober 2014
di rumah kos

Kamis, 02 Oktober 2014

Racau

hai, kamu

jangan tatap aku seperti itu
duh, aku jadi kehilangan kata

tak gampang bilang sayang
meski aku kepayang
tapi aku....sayang kamu, tau!

ah, tak usahlah bingung dengan apa yang
kukatakan. aku juga tidak terlalu mengerti

begini,
anggap saja aku sedang meracau
meracau dengan penuh kesungguhan

Nostalgia Tiba-Tiba

wanita termuda dalam foto ini adalah adik nenek dari pihak ibu, yang sering kami tertawakan kepikunannya

Aku hanya mengenal satu nenek kandung, yakni ibunda dari ibuku. Aku tidak kenal baik nenek yang dari bapak karena beliau sudah tiada, bahkan sebelum bapak menikah dengan ibu. Rupanya hanya kuketahui melalui sebuah foto yang terbingkai cantik dan dipajang di lemari kaca ruang tamu. Di foto itu, nenek bersanding dengan kakek.

Nenek dari ibuku juga telah berpulang bertahun-tahun silam, ketika aku masih SD. Namun masih membekas dalam ingatan beberapa hal tentang beliau, yang terkenang hingga sekarang. Waktu yang telah kami lewati dulu, kini terasa sebagai salah satu momen terbaik dalam hidup.

Nenek sangat baik, tidak pernah marah atau memukul. Bahkan ia sangat memanjakan cucu-cucunya.
Aku juga ingat bahwa dulu aku sering mencabuti ubannya, tidur berdua di rumah tuanya meski ibu dan bapak sudah memiliki rumah yang lebih nyaman, berbagi sepiring nasi dengan lauk ikan teri, dan membaca bersama di pondok kecilnya yang berdiri di tengah kebun anyelir dan tanaman pre-nya.

Aku juga sering bermain-main dengan kulitnya yang keriput, dengan menarik-narik kulit punggung tangannya yang elastis dan kendor. Aku sering bertanya apakah ia kesakitan bila aku melakukannya, namun ia menggeleng dan malah tertidur sementara aku asyik menariki kulitnya itu, membentuk, lalu meratakannya kembali.

Beberapa hari lalu aku pergi ke sebuah percetakan, yang bertingkat dua dan sepertinya menyatu dengan rumah tempat tinggal si empunya. Pemilik percetakan itu memiliki 2 anak perempuan. Selama aku sibuk dengan printer dan lembaran kertas, dua bocah itu berkeliaran, merepotkan seorang wanita tua berambut kelabu yang kelelahan mengejarnya.

Satu jam setelah selesai berlarian, sang nenek kemudian membopong cucunya satu persatu untuk dimandikan. Namun bocah perempuan yang lebih tua sering sekali melawan, bahkan sebelum selesai mandi, ia berlari keluar kamar mandi dan naik ke atas. Ia tidak menghiraukan teriakan sang nenek yang memanggil untuk menyelesaikan mandinya.

Beberapa menit kemudian dia turun lagi dengan wajah merengut karena dinasehati bahwa ia bisa gatal-gatal kalau mandi tidak bersih. Sang nenek tetap sabar meski si cucu tampak tidak senang dengan aktivitas itu.

Aku hanya tersenyum melihatnya, tiba-tiba terkenang akan masa lalu. Ketika dewasa nanti, mungkin mereka baru akan menyadari betapa bahagianya memiliki seorang nenek.

Rabu, 27 Agustus 2014

Anak-Anak Sinabung 'Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu'

Pada tanggal 16 Agustus kemarin aku bersama seorang adik sepupu pergi mengunjungi sebuah posko pengungsi letusan Gunung Sinabung yang bertempat di UKA, Kabanjahe.Sebenarnya kami diundang oleh seorang kenalan yang mengelola sebuah rumah singgah untuk anak-anak Sinabung yang dinamakan 'Rumah Pandai'. Kami diminta untuk membawakan kebaktian singkat, atau lebih tepatnya dinamakan sebagai pendalaman alkitab untuk anak-anak, karena adik sepupuku tersebut kuliah di jurusan Teologi di sebuah kampus di Yogyakarta.

Jadilah Sabtu pagi itu kami menyediakan waktu ke sana. Awalnya kami, terlebih aku, agak sedikit was-was mengantisipasi apa yang akan terjadi di sana, mengingat ini pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan anak-anak pengungsi tersebut setelah sekian lama bencana ini melanda daerah kami.

Tapi ternyata semua diluar dugaan. Anak-anak yang berasal dari berbagai desa di kaki Gunung Sinabung itu sangat ceria. Sekitar empat puluhan anak menyambut kami dengan hangat. Mereka tidak susah dipandu bernyanyi dan tidak sulit diatur.  Mereka bernyanyi dengan gembira sambil bertepuk tangan, seolah mereka selalu menantikan waktu seperti ini. Sungguh, mereka sangat semangat! Aku menyadari kegiatan seperti ini memberi penyegaran bagi anak-anak ini selama tinggal di pengungsian, hampir setahun lamanya.

Yang muncul kemudian adalah sedikit sesal di hati karena tidak berinisiatif untuk mengunjungi mereka sejak awal-awal. Padahal ini merupakan pengalaman yang amat berharga.

Sekilas, mereka hanya kanak-kanak yang melewatkan setiap harinya dengan bermain dan tawa. Tapi sebenarnya mereka juga menyimpan tangis yang memilukan hati. Ketika anak-anak itu dibawa berdoa dengan metode meditasi, hampir semua menangis ketika dalam doa disebutkan penderitaan mereka, orang tua, kampung halaman, sekolah, dan sanak-saudara mereka.

Aku terpaku ketika diam-diam pengajar di sana berbisik sambil menunjuk beberapa anak yang sudah tidak punya ayah, atau tidak punya ibu lagi. Doa bercampur isak tangis dari mulut-mulut kecil itu membuatku terdiam dan merenung. Aku kemudian beranjak menuju seorang anak berbadan tambun dan memeluk tubuhnya yang berguncang pelan karena tangis.

"Semoga Tuhan segera memerdekakan mereka dari segala derita, cobaan dan tekanan hidup saat ini. Semoga Tuhan menghentikan erupsi Gunung Sinabung yang hingga kini masih terus terjadi. Semoga semua pengungsi ini segera dipulihkan."

Yang paling mengharukan adalah ketika di akhir acara, mereka malah menghibur kami, katanya sebagai ucapan terima kasih, dengan menyanyikan sebuah lagu yang amat menguatkan hati. Serta merta kesedihan beberapa menit lalu menguap ketika mereka semua bangkit berdiri, bersama-sama bernyanyi sambil membuat gerakan tubuh, meski beberapa anak masih terlihat menyeka pipi atau mengucek sudut mata untuk menghapus sisa air yang menggenang di sana.

                                                     Tak selamanya mendung itu kelabu
Nyatanya hari ini kulihat begitu ceria
Hutan dan rimba turut bernyanyi juga
Membuat hari ini berseri
Dunia penuh damai

Bintang berkedip dengan jenaka
Seakan tahu arti dan rasa
Oh kidung yang indah
Kau luputkan aku dari semua dosaku

Tak selamanya mendung itu kelabu
                                           Nyatanya hari ini kudapat bernyanyi kepadanya

Jumat, 16 Mei 2014

Lagu Jadul? Love It...!

Sabtu kemarin adikku pulang kuliah lumayan sore, padahal kegiatan kampusnya hanya sampai siang. Begitu tiba, ia langsung menyalakan laptop, mencolokkan flashdisk, utak atik sana sini, menyambungkan kabel speaker, lalu mengalunlah lagu Kau Tercipta Untukku, Bunga Sedap Malam, Gelas-Gelas Kaca, Semalam Di Malaysia, Tolong Carikan Kekasih, Siapa Bilang Aku Cinta, dan masih banyak lagi.

Ketik kutanya darimana ia memperoleh file musik nostalgia sebanyak itu, ia mengcopynya dari laptop seorang temannya, yang menjadi alasannya pulang sore. Kini harddisk laptop bertambah lagi penghuninya, yakni ratusan lagu lama dari album-album berbagai penyanyi legendaris mulai tahun 70-n hingga 2000-an. Diantaranya ada album D'lloyd, Panbers, Diana Nasution, Nia Daniaty, Koes Plus, Christine Panjaitan, hingga Ebiet G Ade.

Lalu semalaman itu kami mengakrabi tembang-tembang nostalgia, setelah malam-malam sebelumnya lagu yang berkumandang di kamar kos adalah lagu milik One Direction, John Legend, Lorde, Agnez Mo, dan masih banyak lagi penyanyi beken yang lagi jadi favorit banyak anak muda belakangan ini.

Kami terlena, terhanyut lirik-lirik dan nada lagu lama itu. Mendengarnya kembali di era tahun 2014 ini, rasanya seperti membongkar peti harta karun. Rasanya seperti kembali mengaduk-aduk ingatan ketika belasan tahun lalu, Bapak juga sering mencekoki kami dengan lagu seperti ini. Lagu-lagu semacam ini tidak asing di telinga kami, dan jujur, kami menikmatinya. Mungkin saja ada orang yang menilai selera kami rendah, terkesan kuno dan ketinggalan jaman. Namun, demikianlah kami masih punya rasa cinta dan ingin mengapresiasi lagu Indonesia yang jadul-jadul. Tiap orang pasti punya selera dan cara tersendiri kan, untuk mencintai musik?

Ketika dulu pertama kali Bapak membeli radio, aku langsung membeli kaset Peterpan (Noah sekarang), Westlife, MLTR, dan Naff. Sedangkan Bapak membeli kaset Panbers dan Ebiet G Ade. Kami membeli kaset penyanyi sesuai stambuk masing-masing :) Lalu kami bergantian memutar lagu dari penyanyi favorit masing-masing dan saling mendengar. Seperti bertukar genre.

Setelah kami dengar-dengar, banyak juga kok lagu lama yang jenius, liriknya romatis dan puitis. Agak kurang kontras dengan lirik lagu sekarang yang masih kurang 'ngena, gombal, bahkan terkesan asal jadi. Bukannya tidak menghargai para musisi yng sudah menciptakannya, namun kembali ke masalah selera tadi. Jenius menurutku, karena dalam liriknya masih diselipkan pantun, peribahasa, ungkapan asli Indonesia, dan banyak lagi hal yang membuat lagu itu indah dan harmonis. Lagu jadul ada kok yang gombal, tapi gombalnya puitis dan kreatif.

ah, ya! Kreatif! Bukan cuma lagu gombal. Lagu galau, lagu jatuh cinta, lagu putus cinta, lagu pernikahan, lagu perceraian, semua kreatif, terutama pada diksinya.

Selain jenius, lagu lama ini juga memorable. Ingat lagu Koes Plus yang Kolam Susu, Bujangan, dan Dara Manisku? Aku sangat yakin lagu-lagu semacam ini akan terus di dengar orang hingga berpuluh-puluh tahun ke depan, sekalipun nanti penyanyi aslinya telah tiada. Selain romatis, puitis, dan jenius, lagu-lagu lama ini juga banyak yang tak kalah positif dengan lagu sekarang. Coba dengar lagu Koes Plus yang Bujangan:

begini nasib, jadi bujangan
Kemana-mana asalkan suka, tiada orang yang melarang
hati senang walaupun tak punya uang, Ooo...
hati senang walaupun tak punya pacar (ups, ini liriknya saya ubah sendiri, untuk menyadarkan mereka yang berstatus single bin jomblo agar tidak selalu
bersedih dan merasa terpojok oleh mereka-mereka yang berstatus in relationship, hahaha...)
 
apa susahnya hidup bujangan
setiap hari, selalu bernyanyi
tak pernah hatinya bersedih

Atau lagunya yang berjudul Buat Apa Susah:

Kekasihku, apa yang kau risaukan
kerjamu hanya melamun saja
tak berguna kau bersedih hati
tertawalah sayang
Buat apa susah, lebih baik kita bergembira
 

kekasihku apa yang kau pikirkan
hidup ini hanya sementara
Bukankah petikan lagu itu sangat positif? Coba dengar sekali-sekali, dan rasakan aura positifnya :D
Dan, banyak juga lagu lama yang di remake sama penyanyi muda masa kini, seperti Rio Febrian dan Ello. Aransemen lgunya disesuaikan dengan selera masyarakat sekarang. Versi baru itu juga bagus, menurutku. Namun versi lamanya tetap punya tempat tersendiri di hatiku.

Aku bersyukur sejak dulu telah diperdengarkan Bapak lagu-lagu semacam ini. Lagu-lagu yang mungkin sudah dilupakan banyak orang ini tetap bisa menghibur, memberi pelajaran, bahkan memunculkan banyak inspirasi yang dapat kutuang menjadi sajak, puisi, cerpen dan sebagainya, karena aku sangat senang menulis.

Bukan hanya kami yang berusia di atas 20 tahun yang suka lagu jadul. Adikku yang bungsu, yang masih SMA, bahkan mahir berduet gitar dengan Bapak, membawakan lagu Teluk Bayur-nya Ernie Johan secara instrumental dengan gaya keroncong. Padahal, ia masih sangat muda dan kebanyakan gaya bermain gitar anak muda di lingkungannya sangat dipengaruhi gitaris-gitaris jaman sekarang. Salutnya lagi, ia belajar gaya keroncong pada gitarnya secara otodidak!

Rabu, 14 Mei 2014

Balada Seorang Pemuda Desa

konon, dikenal seorang pemuda desa
lelaki hidung belang ayahnya
ibunya, perempuan yang barangkali sedikit murahan
yang kemudian meninggal demi memperjuangkannya menghirup hidup

dari para penduduk desa
hanya sedikit terbersit iba
ia hidup, tumbuh dengan perhatian ala kadarnya
kisahnya menjadi gunjing
buruk, amat buruk
sedih, amat sedih hatinya

lalu, si pemuda beranikan diri jamah tanah rantau
ia melangkah dalam duka
tak pernah asri hidup di desa :

pujaan hati telah berpaling ke lain pemuda
tak ada gadis yang mau berbagi hidup dengannya
karna ia miskin rupa
tak berharta,
sebatang kara tanpa keluarga.

kini tambah lagi deritanya:
kota berkhianat, tak menyisakan tempat

ia kembali ke desa
ia hidup sendiri di puncak bukit kesepian
saban malam meniup seruling,
disertai ratapan : ayah bunda apa salah anakmu,
hidup demikan menyakitkan?

penduduk desa terlena dibuatnya,
terbuai oleh liukan nada-nada

sepuluh tahun sudah ia tiada
namun, sesekali terdengar sendu alunan serulingnya
berkolaborasi dengan orkestra suitan angin
mendayu-dayu mengitari malam

sekali waktu, seorang anak bertanya kepada ayahnya
siapa peniup seruling itu?

jawab sanga ayah :
itu adalah pemuda desa,
yang terbuang,
yang tersia,
menyenandungkan balada hidupnya