Kamis, 21 Mei 2020

Solilokui Strukturalisme Cerita Pendek dan Kematiannya di Tangan Cerpenis [Antologi Cerpen Pemenang Lomba Menulis Tulis.me 6]


Salam literasi!
dokumentasi pribadi
Akhirnya, buku antologi ini sampai juga ke tangan saya setelah penantian yang cukup panjang! Ini adalah buku antologi pertama saya, tanpa bermaksud narsis ataupun pamer. Ya iyalah, apa juga yang hendak dipamerkan? Masih ada banyak penulis yang lebih senior dan lebih sukses dari saya, serta sudah punya puluhan buku yang diterbitkan. Tapi, biarlah buku antologi saya yang pertama ini menjadi lecut penyemangat agar saya terus berkarya lebih baik lagi. Nah, izinkan saya mengulas buku yang sederhana ini.
          Buku antologi ini berisi lima cerita pendek dari enam penulis pemenang lomba menulis yang diadakan oleh Tulis.me pada tahun 2019 lalu, dimana saya menyabet posisi kedua. Menurut saya, buku ini diterbitkan lebih sebagai dokumentasi dan kenang-kenangan, alih-alih untuk komersil. Berikut saya cantumkan nama penulis serta judul masing-masing karyanya, dengan nomor urut sesuai dengan posisi pemenang:

Selasa, 05 Mei 2020

Proses Kreatif Penulisan Naskah ‘DUA RAHASIA’ [Salah Satu Pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak 2020 oleh Balai Bahasa Sumatera Utara]

Salam literasi!
Banner oleh Balai Bahasa Sumatera Utara


Naskah saya yang berjudul ‘DUA RAHASIA’ menjadi satu dari lima pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak 2020 yang diadakan oleh BBSU. Sebetulnya, naskah ini adalah gabungan dari dua tulisan saya yang sebelumnya. Yang pertama adalah sebuah cerita remaja yang saya tulis sekitar tahun 2015 dan satunya lagi adalah tulisan acak berisi pemikiran, curahan hati, dan pengalaman saya terkait budaya suku Karo. Kedua tulisan ini belum pernah saya publikasikan sebelumnya dan ketika mendengar sayembara yang diadakan BBSU, saya terpikir untuk menggabungkan kedua tulisan ini, tentu saya pun harus menyesuaikannya dengan syarat sayembaranya.

Senin, 23 Maret 2020

Coronavirus disease (COVID-19)


“Only one form of contagion travels faster than a virus. And that’s a fear.”
Dan Brown, INFERNO

Dunia sedang tidak baik-baik saja🌎

sumber foto: google

Masih adakah yang tidak aware dengan situasi saat ini? Barangkali tiga bulan lalu kita masih asyik dengan kegiatan sendiri dan menganggap hidup ini sempurna tanpa gangguan berarti; booklovers asyik dengan tumpukan bukunya, para pegawai/pekerja setiap hari hanya fokus pada rutinitas yang terjadwal, para K-popers tak peduli pada hal lain kecuali bintang-bintang Korea pujaannya, dll, dsb. Kini kita disatukan oleh sikap waspada dan terfokus pada satu krisis yang tengah merongrong negeri ini (dan negara-negara lain di dunia) yaitu Pandemi Covid-19. Yah, tidak ada kenyamanan hidup yang sempurna, sebab kesempurnaan tidaklah nyata.

foto: dok. pribadi

Jujur, saya juga lelah dijejali kabar korona setiap hari, baik dari televisi, radio, atau media sosial. Tapi, mau bagaimana lagi? Lelah atau tidak, kita tetap harus memantau penyebarannya dan memperbaharui info-info yang setiap hari berubah.  Belum lagi melihat perdebatan sengit yang menyertai perjalanan penyebaran virus ini di Indonesia, aksi tuding dan saling menyalahkan marak di media sosial. Masyarakat menuduh pemerintah tidak serius menanggapi korona. Sikap-sikap sebagian masyarakat yang bebal dan berbuat semaunya sendiri padahal sudah diingatkan agar mawas diri dan dibatasi pergerakannya. Serta, kesiapan negara ini dalam menangani korona secara keseluruhan mulai dari pusat hingga ke daerah-daerah memang terasa MENGKHAWATIRKAN.
          Tapi, yah, bagaimanapun juga kita harus turut berperan aktif dalam menangani korona ini. Kalaupun kita tidak punya uang berjuta-juta untuk disumbangkan, masih ada banyak hal-hal kecil namun berarti besar untuk dilakukan, seperti jangan menyebar berita hoaks dan kepanikan, rajin cuci tangan dan jaga kebersihan, serta menuruti segala imbauan pemerintah.
          Stay safe untuk semua masyarakat dunia, terkhusus untuk masyarakat Indonesia. Hormat saya untuk para tenaga medis, relawan, dan pihak-pihak yang berada di garda terdepan dalam melawan Covid-19. Tuhan memberkati anda-anda sekalian!😇

Senin, 03 Februari 2020

SATU HARI DI JANUARI 2020: berkunjung ke situs budaya Puteri Hijau, Museum Letjen Jamin Ginting, mengelilingi pedesaan, ‘menyentuh’ Danau Lau Kawar, menjemput malam di pemandian air panas Desa Semangat Gunung


Halo, Februari!
Selamat tinggal Januari! Tak terasa tahun 2020 sudah sebulan berlalu. Bagaimana harimu? Hidupmu? Beranjak dengan ceria? Atau sudah kelelahan dihajar berbagai problema dan cobaan? Kalaupun, ya, mari lupakan sejenak. Ada banyak hal menyenangkan dan berkesan yang patut dikenang. Dan, ini kenanganku—kenangan kami.
Sebelum kembali ke dalam jeratan rutinitas yang tak kenal ampun, saya bersama adik, abang dan saudara sepupu menyusun rencana untuk bepergian pada tanggal 14 Januari 2020. Here we go…

          1. Situs Budaya Puteri Hijau di Desa Seberaya, Kec. Tiga Panah, Kab. Karo
Pada pagi hari pukul 09.30, kami berangkat. Setelah mengisi bensin mobil, perjalanan dimulai. Adik sepupu selaku pengemudi memacu mobil menuju Simp. Ujung Aji, masuk ke dalam dan terus mengemudi mengikuti lekak-lekuk jalan aspal, berbelok ke sebuah persimpangan, terus melaju hingga tiba di sebuah gapura berwarna hijau.
Tujuan kami yang pertama: Situs Budaya Puteri Hijau Desa Seberaya. Setelah bertanya kepada seorang petani yang tengah menyiangi padinya, kami menemukan situs itu tidak jauh dari gerbang masuknya. Situs tersebut berada di sebuah bukit rendah dengan sejumlah anak tangga untuk mencapainya. Namun, demi melihat lokasi situs tersebut, kami terdiam dan berpandangan. Hal pertama yang ditangkap mata adalah kesan mistisnya.

Senin, 30 September 2019

BUKU ANTOLOGI PUISI+CERPEN ‘KOTA, KATA, KITA’ [44 Karya Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019]


…Segala perjuangan ibuku dulu tak sia-sia. Setiap tetes peluhnya yang berharga telah mengantarku ke kota ini. Kini perempuan itu telah tiada. Takkan kulupa bahwa ia adalah pahlawanku nomor satu. Dan, sepeninggalnya aku tak lantas sendiri dan merasa sepi. Ada ibu lain yang dipersiapkan semesta untukku. Diantaranya ada Nyak Lela yang penyayang, serta Jakarta, kota menjelma ibu yang menaungi dan menghidupiku….
Dian Nangin – IBU YANG LAIN
Pesimis.
Kata itulah yang menguasai diri saya begitu selesai mengirimkan naskah cerita pendek karya saya kepada panitia penyelenggara lomba menulis cerpen dan puisi tahun 2019 yang diadakan oleh DISPARBUD DKI Jakarta dalam rangka memeriahkan HUT Kota Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi yang berulang tahun pada 26 Juli. Mengapa pesimis? Pertama, kompetisi ini berskala nasional yang artinya pesertanya bisa begitu banyak dan peluang menang (menurut saya) cukup kecil. Kedua, dewan juri yang menilai karya peserta merupakan orang-orang hebat. Jujur, nyali saya ciut!
Sampai pada suatu siang, saya menerima sebuah email yang berisi pemberitahuan bahwa naskah saya menjadi salah satu dari sebelas cerpen terpilih!

Minggu, 08 September 2019

Selamat Datang Kembali di Kota Medan, Big Bad Wolf!


Mejuah-juah, Wolfie!
*Sekali-sekali boleh dong ya disapa pakai salam suku Karo 😉

Yuhuuu💃
Big Bad Wolf datang kembali! Sejauh pengalaman saya, BBW ini adalah pesta diskon buku terbesar, koleksi terlengkap, dan paling meriah yang pernah ada. Kunjungan ke Medan kali ini adalah yang kedua kalinya setelah kunjungan pertama pada 2018 lalu. Sejak kabar BBW akan ke Medan lagi mampir di telinga saya, otomatis saya mulai menabung. Tahun lalu saya sudah ikut belanja di BBW, tapi karena masih yang pertama kali, saya belanjanya tak karuan. Saya belum kenal BBW, apa saja yang dijual, hal-hal menarik apa yang ditawarkan, dan lain-lain. Tahun ini, daftar belanja dan keuangan sudah lebih terencana!
(dok.pribadi)
Tahun ini, saya mendapatkan preview pass dari bank BCA yang menjadi partner BBW dan bisa digunakan pada tanggal 4 September. Apa keuntungan bisa masuk BBW pas preview sale? Tiket ini eksklusif, jadi kita bisa belanja dua hari sebelum event ini dibuka untuk umum, yang artinya pengunjungnya belum terlalu ramai, susunan buku di meja masih rapi, stoknya masih banyak, dan lain-lain.

Gubernur Sumut, Eddy Rahmayadi, juga hadir pada pembukaan preview sale BCA (dok. pribadi)

Jumat, 26 Juli 2019

UJI NYALI, IKUT KOMPETISI

by Dian Nangin

Entah kenapa, tahun ini saya kerajingan ikut kompetisi. Setelah hampir empat tahun menggeluti dunia fiksi, saya merasa lebih siap dan lebih tertantang untuk mengikuti lomba-lomba kepenulisan. Sebenarnya, beberapa tahun lalu, di awal-awal mulai menulis untuk media massa, saya pernah mengikuti kompetisi menulis cerpen. Namun, saat itu saya masih sangat naif. Saya hanya mengikuti satu kompetisi dalam setahun, hanya mengirim satu karya, yakin menang, mengincar hadiah besar, tanpa pengalaman, tanpa pengetahuan memadai, dan tanpa rekam jejak.
Hasilnya? Mengecewakan, tentu saja. Saya jelas tidak menang. Bahkan masuk top 30  pun tidak. Setelah karya pemenang dirilis, saya segera membandingkan diri. Ternyata cerita saya sangat klise, naskah saya mentah, tidak mengindahkan tata aturan, dsb.

Kini, setelah mencecap banyak pengalaman, saya merasa sudah cukup matang untuk maju ke arena perang 😆. Karya saya sudah mendapat tempat di media massa dan juga media online. Walau demikian, masih banyak pula yang ditolak para Redaktur atau sedang dalam masa tunggu dan telah berbulan-bulan terkatung tanpa konfirmasi. Saya sudah pernah menerima puja-puji, kritik pedas, cibiran remeh, hingga dukungan maksimal. Semua jadi bekal saya untuk mulai berkompetisi. Eh, tapi bukan berarti setiap orang harus mengalami hal yang saya alami baru bisa ikut berkompetisi, ya! Mental dan kesiapan masing-masing orang kan berbeda....

Jumat, 12 April 2019

MEMBACA HANYA SEKADAR HOBI? TIDAK LAGI!


Suatu pagi, pintu rumah saya diketuk dengan ritme yang menandakan sebuah ketergesaan. Saya menyahut, dengan santai membuka kunci serta gerendel pada pintu besi. Si pengetuk, seorang tetangga yang beberapa tahun lebih muda, tampak panik bercampur excited. Ia nyaris mengomel karena saya bergerak lamban.
“Ada apa sih?” tanyaku.
“Ini urgent, Kak,” sahutnya cepat.
Setelah masuk, ia membeberkan hal mendesak tersebut dan saya hanya bisa menarik nafas. Hal urgent itu tak lebih dari ketidakmampuannya menyusun kata-kata untuk membalas pesan WA dari HRD sebuah perusahaan tempatnya kemarin mengantarkan surat lamaran kerja pertamanya.
“Apa susahnya membalas itu?” tanyaku.
Saya melihat pesan di layar ponselnya. Tampak beberapa pertanyaan berkenaan tentang pribadi si pelamar dan juga mengenai pekerjaan yang dilamar. Saya berpikir sebentar, lalu mengembalikan ponselnya.
“Jawab saja dengan jujur dan sopan.”
“Iya, tapi bagaimana merangkai kalimatnya?!” katanya dengan wajah memelas.
“Katakan begini, bla…bla…bla…” kucoba membantu sambil mondar-mandir mengerjakan beberapa hal.
“Wah, iya, benar! Itu maksudku!!” Tangannya bergerak cepat di layar ponsel untuk mengetik balasan pesan tersebut. Kepalanya menoleh ke kanan kiri untuk mengikuti pergerakanku. “Gimana tadi, Kak? Aduh, aku cepat kali lupa. Coba ulangi…”

Minggu, 17 Februari 2019

KECAKAPAN MENULIS

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi juri sebuah ajang lomba menulis cerita pendek dengan tema ‘Guruku Pahlawanku’. Kesempatan itu tentu saja menjadi sebuah pengalaman besar bagi saya yang sebenarnya belum memiliki jam terbang tinggi di dunia menulis (fiksi).
e-sertificate
Saya dan empat juri lain masing-masing diberi tanggung jawab untuk menyeleksi enam cerpen terbaik dari dua ratus lima puluh lebih naskah yang ditulis oleh para peserta yang berasal dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Walau terikat pada satu tema, namun saya menghadapi beragam gaya menulis dan ide cerita yang berasal dari peserta dengan berbagai latar belakang budaya, pendidikan, sosial, ekonomi, agama, dan lingkungan yang sedikit banyak tertuang ke dalam karya mereka.

Saya tidak hendak membahas ide dan cara bercerita masing-masing peserta, namun saya ingin sedikit menyoroti tatabahasa yang mereka gunakan dalam naskah-naskah yang diikutsertakan pada lomba tersebut.

Sabtu, 26 Januari 2019

1st Anniversary Bookish Medan


GRUP KITA
by Sony Sirait
Warna-warni memenuhi ruang
Tak mungkin diputihkan
Tak mungkin dihitamkan
Melebihi pelangi
Tanpa hujan untuk hadir
Walau terik tetap hadir


Setahun berlalu dan keberagaman menguat
Aksara merekatkan yang berbeda
Aliran sungai beda
Bermuara ke laut yang sama

Jumat, 21 Desember 2018

Sekilas Kehidupan Penulis


Suatu kali, saya membaca kicauan seorang penulis di media sosial twitter. Ia bertanya, apa alasan utama bagi seseorang dalam menggeluti dunia menulis? Pertanyaan itu sungguh beralasan, mengingat bidang kepenulisan belakangan ini cukup berkembang. Banyak buku-buku baru bermunculan dalam waktu singkat sebab dipermudah oleh berbagai hal, salah satunya adalah  perkembangan teknologi.  
Sesungguhnya, di balik dunia menulis yang belakangan ini terlihat ‘enak’ dan ‘gampang tenar’, ada proses kreatif yang cukup melelahkan untuk dijalani (untuk menghasilkan karya berkualitas). Pertanyaan tersebut lalu menyeret hal-hal lain yang lebih besar, seperti kreativitas dan kesehatan mental. Saya berakhir di sejumlah website yang membahas tentang dunia kreativitas dan korelasinya dengan kesehatan mental orang-orang yang menggelutinya.
Penelusuran itu membuahkan fakta-fakta bahwa begitu banyak seniman dan penulis yang memiliki masalah dengan kesehatan mental mereka. Imbas dari masalah tersebut, hidup beberapa penulis tersebut berujung tragis. Akibat depresi, Ernest Hemingway menembak kepalanya sendiri. Virginia Woolf mengakhiri hidup dengan mengantongi batu lalu menenggelamkan diri di sungai. Sylvia Plath bunuh diri dengan menghirup gas karbon dioksida dari ovennya. Dan, masih banyak kasus bunuh diri lain yang dilakukan oleh para pekerja seni. 

Jumat, 14 Desember 2018

MENIKMATI PUISI


Puisi, bagi saya, adalah cara lain untuk bercerita/ menikmati cerita. Tak jauh beda dengan cerpen, puisi juga merupakan wadah untuk menuangkan buah pikiran, isi hati, sebagai cara untuk menyampaikan sesuatu. Hanya saja, bentuk wadahnya berbeda.

Memetik Makna

            Apa yang terlintas dalam kepalamu ketika mendengar kata puisi?

dok. pribadi
“Tidak semua orang bisa memahami puisi,” kata seorang teman sesama pecinta buku dalam suatu perbincangan. Saya hanya tersenyum. Kalau tidak paham, bagaimana bisa menikmatinya, kan?! Tidak heran, koleksi buku-bukunya lebih banyak novel dibanding puisi—sepertinya dia memang tidak punya buku puisi.
            Sepintas, puisi memang tampak sedikit lebih sulit untuk dipahami dibanding karya sastra lainnya seperti cerpen atau novel. Barangkali karena puisi memiliki kemungkinan multi-tafsir. Apa yang saya tangkap dari sebuah puisi bisa saja berbeda dengan yang ditangkap orang lain. Juga, apa yang bisa saya interpretasikan dari sebuah puisi hari ini bisa saja berubah esok hari. Selain itu, banyak orang juga berkata diksinya terlalu rumit. Berbelit-belit. Tapi, justru di situlah letak pesonanya.