Senin, 12 Oktober 2020

PELAKON SKENARIO [Cerpen Medan Pos, edisi Minggu, 11 Oktober 2020]

Harian Medan Pos
 

PELAKON SKENARIO

Oleh Dian Nangin 

“Langsung pesan atau masih mau menunggu?”

 Kau sedang sibuk menepis tetes-tetes air yang sempat mendarat di pakaianmu ketika pertanyaan tersebut meluncur dari pelayan yang menghampirimu. Pertanyaan reguler yang senantiasa ia suguhkan selama dua tahun terakhir sejak kau rutin berkunjung ke kafe itu. Bersama dia, kekasihmu.

“Sebentar lagi,” kau menjawab.

“Baik.” Pelayan itu mengangguk paham. Seperti biasa, pikirnya. Ia sebenarnya sudah hafal luar kepala jawabanmu, namun tetap bertanya. Karena kalau tidak, terasa ada yang kurang dari rutinitas sore itu—pada setiap kunjunganmu.

“Eh,” kau berseru, berubah pikiran. ”Secangkir cokelat panas boleh juga.”

Si pelayan mengangguk kembali. Kau alihkan perhatianmu pada hujan di luar, hingga tak sempat kau tangkap raut heran pelayan itu. Dalam sekejap, pendapatnya berubah. Baginya, kau hari ini sungguh tidak sama seperti hari yang lalu-lalu. Biasanya kau selalu setia menunggu kekasihmu. Takkan kau pesan apapun sebelum dia tiba, tak peduli berapa lama dia terlambat. Tidak pernah sekali pun kebiasaan itu kau ingkari.

Memang, hari ini pun sungguh tidak biasa bagimu. Kafe ini, pelayan itu dengan pertanyaannya, kunjungan rutin, dan suasana hati, sudah kau lalui ratusan kali dengan format yang sama. Tak pernah berubah. Namun, petang ini jelas-jelas ada yang beda.

Terasa berbeda karena kini kau sendiri tanpa dia, karena tak akan ada lagi pertemuan. Kau kini sedang melakukan selebrasi perpisahan seorang diri. Selebrasi pilu.

Selasa, 29 September 2020

RIAK PENANTIAN [Cerpen Harian WASPADA, 20 September 2020]

ilustrasi oleh Harian WASPADA

RIAK PENANTIAN

Oleh Dian Nangin

 

            Seperti ombak yang tak pernah lelah meriak ke tepian—dengan apalagi harus kusandingkan kesabaran dan kesetiaanku menunggumu, Adelaide? Kadang gulungan ombak itu berukuran besar hingga mampu menghempas perahu-perahu nelayan, kadang tenang dan berirama. Namun ia tak pernah berhenti bergerak. Seperti penantianku, senantiasa beriak.

            Tak pernah bisa kulupakan hari ketika aku mengantar dan menungguimu manortor di  tempat biasa tamu-tamu asing berambut pirang itu disambut. Kepalamu berhiaskan sortari. Tak jua pudar kekagumanku melihat tubuh rampingmu dalam balutan ulos. Mungkinkah rasa jemu sudah enyah dari hatiku bila itu menyangkut tentangmu?

            Hari itu, kau tampak lebih bersemangat—ya, biasanya kau juga semangat dan memesona. Namun kau keluarkan semua daya yang kau punya demi mempersembahkan tarian terbaik dan kesan mendalam agar tamu-tamu itu kelak punya kenangan untuk dibawa pulang. Aku, yang tak mampu membaca tanda apa pun, hanya ikut menonton pertunjukanmu.

Ternyata, itu menjadi pertunjukanmu yang terakhir. Aku ingat kau pernah berkata bahwa kau ingin menari selamanya di sini, di tanah batak tempat kita pertama kali membuka mata dan menjeritkan tangis. Tapi, semua itu kau sangkal. Kau telah mengepak ransel dan menyusun rute perjalanan. Kau berencana pergi menempuh mimpi-mimpi.

            “Sudah cukup banyak kita menerima kunjungan. Sesekali aku ingin pergi dan mengunjungi tempat-tempat yang jauh,” katamu beralasan.

            “Sejak kapan angan-angan itu melenting di kepalamu?”

            Kau balas bertanya. “Apa kau tak pernah bercita-cita keluar dari kampung ini?”

Kamis, 02 Juli 2020

ANGIN BERKABAR HUJAN [Cerpen Harian Republika, Edisi Minggu, 28 Juni 2020]

ilustrasi oleh Harian Republika


ANGIN BERKABAR HUJAN
Oleh Dian Nangin
            Sepasang tangan lelaki tua itu berkacak di pinggang. Tangan tersebut berwarna kelam, serupa malam yang akan segera datang menggantikan petang. Sulur-sulur pembuluh darah tampak menonjol di balik kulitnya yang penuh kerut, bukti kerja keras yang masih ia lakoni hingga usia hampir tujuh dekade kini. Baru saja ia selesai menggali lubang-lubang kecil dan menjatuhkan butir-butir biji kacang panjang ke dalamnya. Butuh usaha yang sedikit ekstra karena tanah begitu kering dan keras ketika digali. Sudah cukup lama hujan tidak turun, namun bagaimanapun, mereka tak bisa berhenti menanam.
            Itulah yang ia lakukan bersama istrinya selama puluhan tahun: mengolah tanah dengan bermandi peluh dan berhujan air mata. Menghidupi anak-anak mereka dengan bertani—profesi tanpa pilihan yang diwariskan para pendahulu mereka. Yah, apalah yang bisa dilakukan orang-orang kampung yang bahkan tak mencicipi bangku pendidikan setidaknya hingga Sekolah Menengah Pertama itu.
Beragam jenis tanaman telah melewati proses tumbuh-rawat-panen di tangan mereka. Kadang upaya itu memberi hasil yang cukup memuaskan, namun tak jarang juga berakhir buruk dan menyebabkan kerugian—yah, roda kehidupan berputar. Sejak awal, mereka tak membangun mimpi untuk menjejakkan kaki di puncak kemakmuran

Senin, 29 Juni 2020

Jasad Mimpi Sang Pengarang [Cerpen Harian Medan Pos, edisi Minggu, 28 Juni 2020]

dimuat di Harian Medan Pos

JASAD MIMPI SANG PENGARANG
Oleh Dian Nangin
Ketika wajah langit mulai berselaput mendung, aku melakukan sebuah prosesi menuju pemakaman. Tak ada lagu-lagu penghiburan, ayat-ayat yang melipur lara, sekeranjang bunga-bunga, atau tepuk di bahu serta peluk singkat sarat empati. Hanya ada jasad ratusan file cerita pendek yang berada dalam belasan folder. Folder itu lalu menjelma peti yang akan menemaninya ke tempat peristirahatan terakhir.
 Kutatap layar putih di hadapanku dengan folder-folder berbaris rapi, dengan nama-nama yang akrab. Tidak pernah ada perpisahan yang mudah. Walau perpisahan ini sebenarnya telah membayangi dari jauh-jauh hari dan aku—sedikit banyak—telah berlatih  mempersiapkan diri, namun tak pernah ada kesiapan yang sempurna. Kuhalau titik-titik air yang mulai menggenangi pelupuk mata.
            Sebentar, aku harus menarik nafas! Aku ingin mengenang dengan tenang waktu yang telah kulewatkan bersama impian ini hingga kini tiba saat bagiku untuk melepasnya. Ah, terlalu lama! Terlalu lama aku memelihara impian ini hingga tak lagi kuingat kapan ia tumbuh. Tak terhitung sudah berapa kali aku dan ilham-ilham di kepalaku melakukan persetubuhan hingga melahirkan karya yang (tidak selalu) mengagumkan.
            Tidak mudah untuk menjadi seorang pengarang. Dalam tubuhku tersimpan bibit-bibit kegelisahan yang perlahan tumbuh meraksasa, menggerogoti jiwa. Pikiran selalu menaruh curiga pada mimpi yang singgah dalam tidur. Ada banyak hal yang seenaknya menerobos masuk ke dalam tubuh dan hati tanpa bisa diabaikan dengan mudah serupa mengacuhkan angin yang meniup kulit.

Kamis, 14 Mei 2020

MEMBACA PERTANDA [Cerpen Harian Rakyat Sultra, edisi Senin, 11 Mei 2020]

Harian Rakyat Sultra

MEMBACA PERTANDA
Oleh Dian Nangin
 “Bagaimana kalau seorang dari kita meninggal, Bu?” kulontarkan pertanyaan itu pada ibu dengan nada polos. Ibu beberapa kali membawaku ke rumah duka untuk melayat kerabat atau rekan kerjanya. Alih-alih bergabung dengan kawan sebaya atau asyik menjilati es krim sementara para orang tua sibuk menumpahkan tangis di ruang duka, aku justru mengamati raut setiap orang. Kuterka-terka seberapa dalam hati mereka terluka ditinggal orang yang mereka kasihi.
“Kalau mati, ya tinggal ditanam di tanah,” sahut ibuku enteng, seolah prosesinya tak ubahnya melemparkan ayam-ayam peliharaannya yang mati ke dalam sebuah lubang sedalam setengah meter lalu menutupnya kembali dengan tanah sembari mengumpat pada tikus atau musang yang telah menggigiti unggas-unggas itu.
Aku tak tahu apakah jawaban ketus itu dipengaruhi emosi sebab sudah beberapa kali anak-anak ayam peliharaan ibu yang baru menetas mati digigit mamalia-mamalia itu. Pupus sudah harapannya melihat anak-anak ayam yang baru menciap-ciap itu untuk tumbuh besar, hingga akhirnya tiba waktunya untuk bertelur dan beranak pinak atau diolah menjadi lauk.
Atau, barangkali aku masih terlalu kecil untuk menerima sebuah jawaban logis dan agamis.

Selasa, 28 April 2020

Menyampaikan Kekalahan Pada Ibu [Cerpen Harian Waspada, Minggu 26 April 2020]

ilustrasi oleh Harian Waspada

MENYAMPAIKAN KEKALAHAN PADA IBU
Oleh Dian Nangin
        Betapa berat terasa kekalahan yang kupikul di bahu lelahku. Malam telah pekat. Bintang tak tampak. Hanya ada bayangan samar bulan di balik awan tipis, seolah ia menunggu waktu yang tepat untuk keluar dan menumpahkan sinarnya—sinar yang seolah tidak dijatahkan untukku. Kuharap ibu sudah tidur, namun harapan itu seketika pupus sebab kulihat masih ada sejumput cahaya yang menerobos ventilasi jendela. Itu artinya ibu masih sibuk dengan kain-kain jahitan titipan tetangga.
          Tepat di depan pintu, aku berhenti sejenak. Melintas di ingatanku senyum ibu yang mengembang lebar siang tadi ketika mengiringi kepergianku dari ambang pintu. Senyum itu menguarkan sejuta harap bahwa aku akan pulang dengan kemenangan.
Tapi sekarang kepalaku lunglai, hampir-hampir menghantam pintu dan jatuh ke lantai. Malam ini aku (kembali) menjadi pecundang, menggenapi kekalahanku untuk ke sekian kali. Tak kuingat apakah ada mimpi buruk yang singgah di tidurku tadi malam, sebab aku terlalu asyik berkhayal akan melangkah ke podium tinggi dan menerima trofi penuh percaya diri. Ternyata, aku belum pantas menjadi jawara. Berbekal sejumlah prestasi dan pengalaman, kukira aku telah menjadi unggul. Nyatanya masih ada sejumlah kekurangan yang tak bisa kulihat sendiri. Betapa pahit rasanya kekalahan dan lebih pahit lagi ketika aku harus menyampaikannya pada ibu malam ini.

Selasa, 07 April 2020

Perihal Penantian dan Bunga-Bunga [Cerpen Harian Medan Pos, edisi Minggu, 05 April 2020]


PERIHAL PENANTIAN DAN BUNGA-BUNGA
Oleh Dian Nangin

Tak pernah kulupa menunaikan kebiasaan ini tiap pagi, yakni merapatkan mata pada kisi-kisi jendela. Memang, celah yang hanya sekian senti itu tak akan memuaskan indra penglihatanku, tapi mataku tak akan salah mengenali meski sosokmu telah bertahun-tahun pergi.
Pagi ini aku mengintip keluar dengan mata berat, menahan kantuk. Kemarin malam adalah tanggal kepulanganmu setelah lima tahun pergi dan lima tahun lagi janji untuk kembali tak kunjung kau tepati. Padahal aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk bersiap: membasuh tubuh dengan air kembang yang wangi semerbak, mengenakan pakaian terbaik dan duduk manis di beranda, ditemani secangkir teh panas. Namun, hingga malam larut, isi cangkir telah susut, dan betis habis digigiti nyamuk, kau tak kunjung datang. Yang muncul kemudian adalah seorang perempuan tua—ibuku, dengan raut yang ditabah-tabahkan membimbingku kembali masuk ke dalam rumah.

Rabu, 19 Februari 2020

RUMAH INANG [Cerpen Harian Waspada, edisi Minggu, 16 Februari 2020]


RUMAH INANG
Oleh Dian Nangin

          Inang sebenarnya ingin memprotes dengan keras anak-anak dan para menantunya yang tengah berunding di hadapannya, namun tubuhnya yang tak berdaya hanya duduk kaku di atas kursi roda. Batinnya bergemuruh mendengar hal yang sungguh tak ia inginkan; mereka sepakat untuk menitipkannya ke panti jompo. Kesepakatan lainnya adalah menjual rumah milik Inang yang kini sudah tak ada lagi yang mengurusnya, sebab nyaris dua tahun terakhir Inang dirawat di rumah sakit karena menderita stroke.
Kedua bola mata Inang bergerak, berusaha menjangkau sebanyak mungkin pemandangan dalam rumahnya. Menikmatinya dalam lirih. Ia perlahan menyusuri bagian dalam bangunan yang setidaknya telah berusia satu abad ini.

Kamis, 26 Desember 2019

ES BATU [Cerpen Harian Banjarmasin Post, edisi Minggu 22 Desember 2019]

ilustrasi oleh Banjarmasin Post

ES BATU
Oleh Dian Nangin

Petang telah diambil alih malam. Seorang lelaki duduk terpekur di samping gerobak dorongnya yang terparkir begitu saja di depan sebuah toko kelontong yang sudah tutup. Di dalam gerobak terbaring putranya yang berumur tujuh tahun. Sesekali bocah itu mengigau. Suhu tubuhnya mendadak naik drastis siang tadi dan sang ayah belum mampu memberi tindakan yang maksimal untuk memulihkan kondisinya.
Lelaki tersebut menengadahkan kepala ketika mendengar suara langkah mendekat, suara yang ditunggu-tunggunya sedari tadi. “Apa yang berhasil kau dapatkan?”
Seorang perempuan, istrinya, mengacungkan plastik berisi es batu. “Hanya ini. Kita coba kompres saja dulu. Semoga panasnya segera turun.”
Lelaki itu menerima es batu yang memang sekeras batu, lalu membenturkannya ke sebongkah batu besar di dekatnya. Sang istri mencari-cari selembar kain dalam gerobak yang dapat digunakan untuk mengompres.
            Suami istri itu lalu duduk bersisian, termangu menunggu dinginnya kain kompres yang diletakkan di kening putra semata wayang mereka bekerja. Sebenarnya, mereka telah pergi ke klinik-klinik dan pusat kesehatan, namun pelayanan yang diharapkan tak mereka peroleh.  Jumlah pasien hari itu membludak. Perubahan cuaca membuat tubuh-tubuh berdaya tahan lemah rentan dihinggapi penyakit. Mereka ditolak hanya setelah berbicara sepotong kalimat.
            “Tolong, anak saya demam tinggi…” Lelaki itu ragu merogoh sakunya, menyodorkan sepotong kartu dan kertas-kertas dengan dada berdegup kencang.
            Perawat berbedak tebal berlipstik norak itu memeriksa sekilas. Ia berdehem. “Tunggakan berbulan-bulan. Silakan datang lagi bila sudah dilunasi.”
            “Tapi…”

Selasa, 17 September 2019

Masa Itu Telah Berlalu [Cerpen WASPADA, edisi Minggu, 15 September 2019]

ilustrasi oleh Harian Waspada

MASA ITU TELAH BERLALU
Oleh Dian Nangin

            Kupikir, bukan sebuah kebetulan aku mendongak ke langit dan mendapati bulan utuh nan cemerlang di langit malam ini. Utuh, bukan separuh, bukan pula menyabit. Bulan tengah melintas di antara celah atap-atap rumah yang cukup rapat, hanya menyisakan ruang sempit bagiku untuk menyadari keberadaannya. Pun hanya ada sedikit waktu untuk menikmati keindahannya sebelum ia berlalu. Dan, tak dapat kubendung semua memori tentangmu yang tiba-tiba mengetuk-ngetuk kepalaku dari dalam, seakan mereka ingin membebaskan diri.
            Kalau ada satu hal yang kubenci, itu adalah mengenangmu. Kau, yang tak lagi bersamaku. Namun, demi melihat bulan yang cemerlang itu, mau tak mau apapun yang kusimpan dalam kotak ingatan tentangmu menyeruak keluar.
            “Ayo menikmati cahaya bulan!” katamu malam itu sambil menyeret dua kursi ke teras. Aku yang sedang merajut dua pasang kaus kaki untuk cucu kembar kita yang akan lahir hanya mengernyit heran.
            “Menikmati bulan? Kau terdengar seperti pujangga,” olokku. “Itu bukan aktivitas yang lazim dilakukan oleh pasangan tua macam kita.”
            “Bulan bisa menjadi milik siapa saja.”
            Kuletakkan rajutan setengah jadi itu. Kuikuti langkahmu ke teras. Kutengadahkan kepala dan bibirku spontan tersenyum mendapati benda langit itu bertengger anggun di atas sana, seolah sedang memamerkan diri pada kita.

Senin, 19 Agustus 2019

BUTET [Cerpen Harian Analisa, edisi Minggu 18 Agustus 2019]

ilustrasi oleh Analisa/ Renjaya Siahaan

BUTET
Oleh Dian Nangin  
            “Butet,” katanya sambil menggenggam selintas telapak tanganku yang terulur. Sontak mulutku ternganga. Aku menunggu ia menyebutkan nama kedua, ketiga, atau meralatnya dengan nama asli dan menerangkan bahwa Butet hanyalah nama panggilan—yang tetap saja belum akan bisa kupercayai.
            Boru Lumban Tobing,” tambahnya sambil tersenyum. Rautnya menunjukkan bahwa ia sudah sering melihat ekspresi tak percaya seperti yang disuguhkan wajahku.
            Keningku berkerut. Nama itu sangat tidak cocok dengan mata biru dan kulit putihnya. Pun, penampilannya sama sekali tidak merepresentasikan nama yang disandangnya. Akan lebih masuk akal bila ia memperkenalkan diri sebagai Janice, Allicia, Emily, atau nama lain khas perempuan-perempuan benua Amerika. Orang-orang sering bersikap acuh dengan berkata apalah arti sebuah nama, namun kini aku ingin menggugatnya karena benar-benar penasaran akan muasal dan alasan penyematan nama itu pada dirinya.
            “Kau...asli Batak?!” Usai bertanya, aku merutuki diri dalam hati. Pertanyaan bodoh! Dengan sekali pandang, siapapun tahu bahwa perawakannya ia warisi dari orangtua yang jelas-jelas bukan keturunan asli Indonesia.

Minggu, 18 Agustus 2019

A HAPPY ENDING FOR TIMUN MAS (Re-telling Cerita Rakyat)

Diceritakan kembali oleh Dian Nangin

ilustrasi oleh www.penuliscilik.com
“Kabulkanlah permohonan hamba, ya, Allah,” demikian perempuan janda itu mengakhiri doanya. Tak pernah jemu ia memanjatkan doa yang sama tiap malam, betapa ia menginginkan seorang anak. Suaminya telah mati. Mereka tak pernah dikaruniai anak. Si janda tua hidup dalam sepi. Hanya doa yang ia miliki, serta keajaiban yang mustahil namun tetap ia yakini. Ia lalu pergi tidur, berharap esok hari keajaiban akan menghampirinya.
Tapi, tak ada keajaiban kendati ia sudah berdoa semalam suntuk. Hidup harus terus berlanjut. Perempuan janda itu bertani sepanjang hari. Petangnya ia masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ketika sedang mengikat kayu-kayu kering yang berhasil dikumpulkannya, ia melihat bungkusan aneh di bawah pohon besar tak jauh darinya. Bergegas ia membuka bungkusan itu dan kecewalah hatinya. Isinya hanya  biji mentimun, bukan seorang anak seperti yang ia harapkan.
               Kekecewaannya disela langkah-langkah berat yang datang mendekat. Si janda membalikkan badan dan hadir di depannya sesosok raksasa. Raksasa itu tertawa menggema,  menggetarkan tanah dan pepohonan. Janda tersebut mematung. Wajahnya pucat.
            “Jangan takut, perempuan tua! Aku tidak akan menelanmu hidup-hidup,” katanya. “Kau menginginkan seorang anak, bukan?”
            “Y-ya,” jawab perempuan itu tergagap.
            “Tanamlah biji timun itu, maka kau akan memperoleh seorang anak,” ujar sang raksasa sembari menunjuk bungkusan di pangkuan perempuan itu. “Tapi ada syaratnya; kelak anak itu dewasa, kau harus menyerahkannya padaku untuk kumakan.”

Kamis, 11 Juli 2019

SABDA ANGIN [Cerpen Harian Waspada, edisi Minggu 07 Juli 2019]

ilustrasi oleh Harian Waspada

SABDA ANGIN
Oleh Dian Nangin
Selain ransel besar yang menggantung di punggung, pemandangan para pendaki yang berjalan beriringan jauh di depanku, dan angin yang bertiup semakin kencang, tak ada yang menemani langkahku menaklukkan jalan berbatu nan terjal. Aku sudah terbiasa mendaki gunung sendiri, namun jelas ini terlalu sunyi. Tak ada kekasihku yang bertahun lalu setia menemami.
Tak ada lagi kekasihku yang mencintai bunga-bunga liar. Namun, cinta itu tidak serta merta menjadikannya semacam ahli, yang hafal nama-nama latin setiap bunga serta mengetahui jenis-jenisnya. Ia menyukai bunga liar semata untuk kesenangan pribadi, bisa dikatakan iseng, namun keisengan yang rutin dan konsisten.
            “Bunga liar adalah bunga yang paling tangguh,” begitu dia pernah berkomentar ketika kami mendaki sebuah gunung di Sulawesi. “Apalagi bunga yang bisa tumbuh di atas gunung seperti ini. Tak ada yang menanam dan memelihara, namun mereka tumbuh tak kalah cantik dengan bunga lain yang ditanam di pekarangan, di taman kota, atau di dalam pot yang diletakkan di dalam rumah—tipikal bunga penuh perawatan dan disayang-sayang.”

Selasa, 09 Juli 2019

JANJI BERINGIN [Dimuat di media online NUSANTARANEWS, 4 Maret 2018]

*saya baru mengetahui perihal dimuatnya cerpen ini pada Juli 2019

ilustrasi oleh Nusantara News


JANJI BERINGIN
Oleh Dian Nangin
Cekakak-cekikik sarat keriangan terdengar memenuhi taman itu, amat berbanding terbalik dengan air muka seorang perempuan tua yang menatap sebatang beringin yang juga sudah tua di tepi taman. Kepalanya mendongak, memandang ke ujung batang tempat rerimbunan gelap penuh jalinan kusut akar-akar yang ujungnya jatuh menggantung. Kedua tangannya bertaut di depan perut, seolah sedang berdoa menyampaikan sesuatu, entah pada Tuhan atau si pohon beringin.
“Apa kabar kekasihku? Pernahkah ia datang menemuimu?”
Pelan, ia membisikkan pertanyaan itu—tak ingin ada telinga lain yang ikut mendengar. Apa yang akan dipikirkan orang tentangnya bila mendengar pertanyaan yang ia lontarkan tersebut? Sudah setua itu, namun masih merindukan kekasih? Orang-orang tentu membayangkannya sebagai wanita tua kebanyakan yang menghabiskan usia senja dengan merajut benang wol menjadi baju hangat, topi, kaus kaki, atau apapun yang ia kuasai  untuk dihadiahkan pada cucu-cucunya yang berisik namun ia sayangi.
Pasti tak akan ada yang menyangka kalau sebenarnya ia masih sendiri,

Minggu, 07 Juli 2019

AWAN DAN OMBAK [Cerpen Harian Tanjungpinang Pos, dimuat pada Minggu, 11 September 2016]

*saya baru tahu perihal dimuatnya cerpen ini pada Juli 2019 😮😆

ilustrasi oleh Tanjungpinang Pos

AWAN DAN OMBAK
Oleh Dian Nangin
Ada beberapa hal yang ditakdirkan hanya untuk saling memandang, saling mengagumi. Tumbuh keinginan untuk memiliki, namun sang takdir menuliskan alur berbeda. Mereka ada, tidak untuk bersama.
Seperti ombak, yang sampai kapan pun tak akan pernah merengkuh awan. Terlalu jauh untuk ia gapai. Sang ombak hanya bisa termangu memandangi awan, putih berarakan bagai sepasukan malaikat penghuni nirwana. Yang dapat ia lakukan hanyalah cemburu pada langit, karena si ombak dapat  menangkap isyarat kesungguhan cintanya untuk awan.
Kurang lebih sama. Helena dengan Agung.
        Meski hubungan itu takkan pernah berjalan seperti yang Helena harapkan, ia tidak akan ‘mengasingkan’ Agung dari hatinya. Dengan dada lapang, ia belajar melepas sekaligus mengenang. Berharap dengan begitu ia bisa berdamai dengan takdir yang tidak sepaham dengan keinginannya.
***
Helena dan Agung berjalan bersisian. Gadis itu melepas sandal dan menentengnya, membiarkan telapak kakinya bersentuhan langsung dengan pasir.

Kamis, 07 Februari 2019

Perempuan-perempuan di Kaki Gunung [Cerpen Harian Analisa, edisi Rabu 06 Februari 2019]

ilustrasi oleh Harian Analisa

PEREMPUAN-PEREMPUAN DI KAKI GUNUNG
Oleh Dian Nangin
            Cukup sepotong kokok pertama ayam yang bertengger di dahan jambu belakang rumah sebagai alarm pagi dan perempuan itu spontan terjaga. Ia tak lantas bangkit karena pergerakannya barusan membangunkan anak balitanya dan ia harus menepuk-nepuk punggung si anak agar kembali terlelap. Pagi masih begitu muda untuknya, belum saatnya ia bangun. Setelah si anak tenang dan kembali tidur, baru perempuan itu bangkit dan menjaga bunyi langkah kakinya ketika keluar bilik kecil itu.
Pintu belakang mengeluarkan suara derit yang kentara ketika dibuka. Serta merta segenggam abu tumpah menyiram wajahnya. Perempuan itu terbatuk-batuk sambil mengibaskan tangan. Dalam kegelapan ia menoleh dan mendongak jauh ke atas, ke arah yang selalu akrab di matanya. Batinnya berkata pasti gunung api di arah selatan itu meletus lagi tadi malam. Entah pukul berapa, entah untuk kali ke berapa.

Selasa, 22 Januari 2019

Dunia di Luar Rahim [Cerpen Banjarmasin Post, Minggu 20 Januari 2019]

ilustrasi oleh Banjarmasin Post

DUNIA DI LUAR RAHIM
Oleh Dian Nangin

“Tentang apa sebenarnya hidup ini?”
Pertanyaanku membuatnya tertawa. “Hei, kau—kita—masih muda. Kenapa pertanyaanmu begitu serius?”
“Aku sudah memikirkannya begitu lama. Tapi tak pernah kutemukan jawaban yang utuh,” aku mendongakkan kepala. Andai langit punya pikiran, apa pendapatnya tentang kehidupan di bumi yang saban waktu dilihatnya dari atas sana?
“Sudahlah. Tidak usah memikirkan hal-hal yang berat. Di usia ini kita hanya perlu menikmati hidup dan bersenang-senang,” ujarnya ringan.
Aku menggeleng, semua ini tidak sesederhana itu. Banyak hal yang menerobos masuk ke dalam ruang pikirku, tak dapat kuabaikan begitu saja.
“Kemana kita akan pergi?” ia bertanya, bosan. Sudah dua jam kami duduk di halte ini tanpa naik ke salah satu bus yang sejak tadi datang dan pergi.
“Kemana saja,” aku menjawab asal. Sejak melangkah keluar rumah tadi, aku memang tak punya rencana untuk dilakukan dan tak punya tempat untuk dituju.

Minggu, 30 Desember 2018

RINDU [Cerpen Harian Analisa, Minggu 30 Desember 2018]

ilustrasi oleh Renjaya Siahaan

RINDU
Oleh Dian Nangin

            Seorang perempuan tua, suatu siang jelang sore, asyik berkemas. Anak dan cucunya sibuk dengan kegiatan masing-masing di luar sana. Sementara seharian ini—pun ratusan hari sebelumnya, yang ia lakukan hanyalah duduk mengaso di rumah. Hampir mati ia didera bosan, pun ia tak diizinkan oleh anak-anaknya untuk melakukan pekerjaan walau sekedar kegiatan kecil. Cukup sudah tenaga masa mudanya habis terkuras karena bekerja keras, demikian selalu anak-anaknya berkata. Yang ia lakukan sekarang hanyalah bersantai, menikmati masa tua tanpa beban, tak perlu kemana-mana.
Namun, selalu ada hal-hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Seperti sore ini, ia mendapati rasa rindunya terhadap anak perempuannya yang tinggal bersama menantu dan cucu-cucunya di lain desa telah membengkak.

Jumat, 28 Desember 2018

Kaki Sewarna Tanah [Cerpen Harian Republika, Minggu 23 Desember 2018]

ilustrasi Republika

KAKI SEWARNA TANAH
Oleh Eka Dianta Br Perangin-angin

            Setelah sepuluh tahun merantau untuk kuliah dan bekerja, aku pulang hanya untuk mendapati kampungku telah menjadi tempat asing. Ia telah berubah menjelma sepotong metropolitan. Rumah-rumah reot yang dulu tampak tak lebih dari tumpukan sampah itu berubah menjadi komplek-komplek perumahan dalam waktu singkat, seolah disulap dalam satu kedipan mata. Tak kutemukan lagi pemandangan yang akrab di mata kanak-kanakku dulu: lapangan sepak bola yang selalu berlumpur kala hujan, jalan berbatu-batu, serta kawat-kawat jemuran yang saling silang di depan setiap rumah.
Dan, ketika tiba di rumah ayah, tahulah aku hanya lelaki tua itu yang kukuh mempertahankan rumahnya. Tak goyah walau ditawar dengan harga cukup lumayan. Lokasi rumah ayah berada di tepi jalan besar yang menjadi pintu masuk salah satu komplek yang megah, berhadapan dengan gapura cantik penuh ukiran.
            Sejak aku pulang, berbagai keluhan hinggap di telingaku. Tetangga-tetangga lama kami pindah entah kemana dan muncul pendatang baru yang sangat suka berceloteh. Sudah pasti, mereka benci ayah karena tak kunjung melepas rumahnya. Orang-orang menjadi senewen. Sikap toleransi telah terbang menguap. Olok-olok mereka, rumah ayah ibarat seberkas kurap di kulit yang putih mulus.

Sabtu, 01 Desember 2018

Menunggu Hujan Reda [Cerpen Harian Waspada, Minggu, 25 November 2018]

ilustrasi oleh Harian Waspada

MENUNGGU HUJAN REDA
Oleh Dian Nangin
Air jatuh satu-satu dari bibir atap. Memuaskan dahaga bunga-bunga dalam pot yang seharian ini dibanjur terik matahari. Air juga jatuh di permukaan aspal. Di puncak kepala orang-orang di jalanan yang lantas menepi dan mencari tempat berteduh. Rinainya berubah deras ketika lelaki itu baru akan menyudahi pertemuan dengan perempuannya. Sudah hampir dua jam ia duduk berdua dengan perempuan itu pojok kafe, menyesap kopi hitam dan menikmati roti bakar. Live music jazz menambah suasana romantis.
“Ayo, pesan secangkir lagi! Barangkali ini hari keberuntunganku, bisa sedikit berlama-lama denganmu. Biasanya pekerjaan menahanmu untuk lembur, biarlah hari ini hujan yang menahanmu untukku,” perempuan itu berkata lembut sambil mengangkat tangan, kembali memanggil pelayan kafe.