Kamis, 14 Februari 2013
Happy Valentine For You....Yes, You...
Yaps, nggak terasa, waktu telah menjamah valentine time di 2013. Januari telah berlalu, and it's February now.
Apa sih arti valentine?
Tanda Kasih, Tanda Sayang.
Jadi kalau ingin menunjukkan tanda kasih sayang kita kepada orang yang kita cintai, harus menunggu tanggal 14 Februari? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Setiap hari, setiap waktu, selama kita masih hidup, kita masih bisa menunjukkan dan mencurahkan semua rasa kasih sayang kepada sekitar kita. Tanggal 14 hanyalah tanggal pemersatu, semua warga dunia merayakannya secara bersama-sama. Lihat saja. Semua orang membicarakannya. Di facebook, dan di twitter, hari kasih sayang menjadi trending topic.
Mungkin bagi anak belasan, atau bagi sebagian orang dewasa juga, moment kasih sayang ini harus dirayakan (dengan atribut serba pink, dengan kue, dengan coklat, dengan bunga, dengan boneka, dLL). Tapi aku sendiri tidak pernah merayakannya secara khusus. Bukan ABG lagi, hehehe, meski aku tetap menerima dengan tangan terbuka kalau ada yang menawarkan coklat :)
Sepertinya, masa-masa lebay untuk merayakan hari kasih sayang buatku sudah lewat. Sewaktu SMP aku sudah puas tukar-tukaran kado dengan sahabat-sahabatku. Sewaktu SMA, aku pernah juara beberapa kali sewaktu ada lomba membuat Valentine Card, dan aku berlimpah cokelat waktu itu. Aku dan teman-teman saling berbagi, saling mengucapkan 'aku sayang kamu', sebagian ada yang saling memberi tanda kasih. Itu dulu yang terpikirkan sewaktu SMA, dan itu menyenangkan.
Kini, saat usia beranjak ke angka yang lebih tinggi, kita seharusnya belajar lebih memahami bagaimana rupa kasih sayang itu sebenarnya. Memahami dengan arti yang berbeda (bukan dengan menuntut diberikan cokelat).
Aku punya satu tokoh, orang yang sangat dekat denganku, orang yang sangat kucintai, yang benar-benar menjadi teladan bagiku. Beberapa waktu lalu, ia menceritakan kisah hidupnya kepadaku, kisah tentang bagaimana ia mengabadikan si ’valentine’ itu di seluruh hidupnya. Mungkin akan kedengaran kurang menarik bagi orang lain, tapi kisahnya itu memberiku pemahaman berbeda tentang kasih sayang. Soalnya, di jaman ini, kebanyakan orang (muda) hanya mendedikasikan kasih sayang bagi kekasihnya. :P
Well, I'll tell you next time ~~(berbicara kepada blog)
Happy Valentine
Rabu, 26 Desember 2012
Menutup 2012
Apalagi sih yang biasa dilakukan di penghujung tahun seperti ini, selain menengok sebentar ke belakang dan siap membuat resolusi untuk tahun depan?!
Resolusi?
Hmmm, satu kata yang membuatku selalu memungkiri diri sendiri, menunjukkan kalau mentalku belum kuat, tak punya keteguhan hati dan belum bisa memimpin diri sendiri.
Mungkin aku adalah satu diantara sederetan orang yang pada awalnya suka semangat menyusun resolusi, tapi dengan gampang dapat melupakannya seketika, dan aku juga memiliki terlalu banyak alasan untuk berkilah, mengapa resolusiku banyak sekali yang tidak tercapai. Sulit lah, aku tidak mampu lah, masih ada tahun depan lah, dan lain sebagainya....
Dan sejak awal tahun 2012, aku sengaja tidak membuat resolusi, karena aku hanya akan mengulang resolusi dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi aku memutuskan untuk menjalani hidupku seadanya, membiarkannya mengalir seperti arus air. Tapi, bukan berarti aku terlalu pasrah akan keadaan, ya...
Dan, dapat di tebak. Tak ada apapun yang dapat kubanggakan selama menjalani tahun ini. Semua kejadian hampir terasa hambar, tak ada moment yang paling spesial. Ya, palingan tahun ini aku melewati umur 21 tahun, umur dewasa sesungguhnya dan telah melewati batas 'anak dibawah umur', hehehe.... Dan ini bukan juga menjadi jaminan bahwa aku telah dewasa sepenuhnya, karena kadang aku juga masih bisa bersikap kekanakan, ya, manusiawilah....
Terlalu banyak kebohongan yang kuumbar di sepanjang tahun ini, dan kalau nanti itu semua terbongkar, akan banyak mulut yang marah, hati yang kecewa dan mata yang menangis.
Uh, membayangkannya saja aku hampir tak berani. Aku hanya memohon kepada Tuhan yang Maha Pemurah, semoga aku diberi cara dan kesempatan untuk memperbaiki itu semua, membersihkan apa yang telah kunodai, dan mengobati semua rasa kecewa. Aku tau, tak ada satu hal pun yang luput dari mata Tuhan dan karma itu berlaku. Aku sebenarnya tak ingin menghindar, tapi kumohon, kalau bisa, jauhkanlah semua karma dariku. Aku akan berjuang, pasti....
Aku cukup sedih bila menoleh ke belakang, memutar kembali semua kelakuanku, mengenang kegagalanku, dan, ah, sudah cukup!!!
Ditahun depan, aku hanya ingin diberi kemampuan untuk memperbaiki semua,
dan satu keinginanku yang terbesar adalah: ingin menerbitkan novel.
Semoga tercapai, amin....
Selamat menyambut tahun baru 2013
Resolusi?
Hmmm, satu kata yang membuatku selalu memungkiri diri sendiri, menunjukkan kalau mentalku belum kuat, tak punya keteguhan hati dan belum bisa memimpin diri sendiri.
Mungkin aku adalah satu diantara sederetan orang yang pada awalnya suka semangat menyusun resolusi, tapi dengan gampang dapat melupakannya seketika, dan aku juga memiliki terlalu banyak alasan untuk berkilah, mengapa resolusiku banyak sekali yang tidak tercapai. Sulit lah, aku tidak mampu lah, masih ada tahun depan lah, dan lain sebagainya....
Dan sejak awal tahun 2012, aku sengaja tidak membuat resolusi, karena aku hanya akan mengulang resolusi dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi aku memutuskan untuk menjalani hidupku seadanya, membiarkannya mengalir seperti arus air. Tapi, bukan berarti aku terlalu pasrah akan keadaan, ya...
Dan, dapat di tebak. Tak ada apapun yang dapat kubanggakan selama menjalani tahun ini. Semua kejadian hampir terasa hambar, tak ada moment yang paling spesial. Ya, palingan tahun ini aku melewati umur 21 tahun, umur dewasa sesungguhnya dan telah melewati batas 'anak dibawah umur', hehehe.... Dan ini bukan juga menjadi jaminan bahwa aku telah dewasa sepenuhnya, karena kadang aku juga masih bisa bersikap kekanakan, ya, manusiawilah....
Terlalu banyak kebohongan yang kuumbar di sepanjang tahun ini, dan kalau nanti itu semua terbongkar, akan banyak mulut yang marah, hati yang kecewa dan mata yang menangis.
Uh, membayangkannya saja aku hampir tak berani. Aku hanya memohon kepada Tuhan yang Maha Pemurah, semoga aku diberi cara dan kesempatan untuk memperbaiki itu semua, membersihkan apa yang telah kunodai, dan mengobati semua rasa kecewa. Aku tau, tak ada satu hal pun yang luput dari mata Tuhan dan karma itu berlaku. Aku sebenarnya tak ingin menghindar, tapi kumohon, kalau bisa, jauhkanlah semua karma dariku. Aku akan berjuang, pasti....
Aku cukup sedih bila menoleh ke belakang, memutar kembali semua kelakuanku, mengenang kegagalanku, dan, ah, sudah cukup!!!
Ditahun depan, aku hanya ingin diberi kemampuan untuk memperbaiki semua,
dan satu keinginanku yang terbesar adalah: ingin menerbitkan novel.
Semoga tercapai, amin....
Selamat menyambut tahun baru 2013
Selasa, 30 Oktober 2012
Togetherness (Foto)
Waktu semakin cepat berlalu.
Just want to post some photos, dengan moment yang menyenangkan untuk dikenang. Bulan lalu laptopku hang, rusak parah, mati total. Setelah di perbaiki, semua file dan dokumennya hilang.
Saat mengetahuinya, aku diam. Lalu nangis darah :'( (sorry, it's so lebay...)
Selain kehilangan dokumen-dokumen penting, hal yang juga sangat kusesali adalah terhapusnya kenangan-kenangan yang terabadikan dalam foto. Dan beberapa file foto berikut adalah yang kebetulan tersimpan dalam flashdisk...
Foto dua tahun lalu, di Kampus USU. Niatnya mau bikin foto siluet, malah begini jadinya.
empat sendalanen, nina kin
Teman-teman sepelayanan, sekarang semua kuliah, entah dimana.
Just want to post some photos, dengan moment yang menyenangkan untuk dikenang. Bulan lalu laptopku hang, rusak parah, mati total. Setelah di perbaiki, semua file dan dokumennya hilang.
Saat mengetahuinya, aku diam. Lalu nangis darah :'( (sorry, it's so lebay...)
Selain kehilangan dokumen-dokumen penting, hal yang juga sangat kusesali adalah terhapusnya kenangan-kenangan yang terabadikan dalam foto. Dan beberapa file foto berikut adalah yang kebetulan tersimpan dalam flashdisk...
Foto dua tahun lalu, di Kampus USU. Niatnya mau bikin foto siluet, malah begini jadinya.
Teman-teman sepelayanan, sekarang semua kuliah, entah dimana.
Rabu, 17 Oktober 2012
Model & Fotografer Gadungan ( Foto)
Well, kali ini aku hanya ingin share foto-foto(yang mungkin kurang penting), tapi ya....pengen di post saja...
Aku (menurutku) punya bakat di bidang fotografi, tapi karena tidak didukung oleh fasilitas yang memadai, ya...cuma menggunakan apa yang ada, yang penting jeprat-jepret...!
Foto ini diambil di waktu luang, hanya iseng dan tanpa adanya pengetahuan yang mendukung, seperti teknik memotret, angle yang tepat, maupun cara mengedit yang menarik. Semua hanya mengikuti insting dan mood!
Nah, dan yang menjadi modelnya ini adalah Indah Dameria (@dameriamanik). Dia memang bercita-cita jadi model dan narsis di depan kamera (narsis kalau kameranya dipegang sendiri atau aku yang memotret). Masalahnya adalah, dia enggak pe-de kalau fotonya dilihat samaorang lain. Gubrak! Gimana mau jadi model coba??
Aku (menurutku) punya bakat di bidang fotografi, tapi karena tidak didukung oleh fasilitas yang memadai, ya...cuma menggunakan apa yang ada, yang penting jeprat-jepret...!
Foto ini diambil di waktu luang, hanya iseng dan tanpa adanya pengetahuan yang mendukung, seperti teknik memotret, angle yang tepat, maupun cara mengedit yang menarik. Semua hanya mengikuti insting dan mood!
Nah, dan yang menjadi modelnya ini adalah Indah Dameria (@dameriamanik). Dia memang bercita-cita jadi model dan narsis di depan kamera (narsis kalau kameranya dipegang sendiri atau aku yang memotret). Masalahnya adalah, dia enggak pe-de kalau fotonya dilihat samaorang lain. Gubrak! Gimana mau jadi model coba??
Edensor, Andrea Hirata
Aku terjamin secara sederhana, terlindungi oleh sistem, stabil secara psikologis, mapan secara sosial, dan semua itu membuatku bosan. Aku merasa seperti tupai yang sibuk menggendong pinangnya, kura-kura yang mengerut ke dalam tamengnya,atau siput yang sembunyi dibalik cangkangnya.
Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.
Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda,berkembang-terurai dan terpencar ke arah yang mengejutkan.
Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang.
Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut di cengkeram dingin.
Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh penaklukan. Aku ingin hidup, ingin merasakan sari pati hidup...!!!
Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.
Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda,berkembang-terurai dan terpencar ke arah yang mengejutkan.
Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang.
Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut di cengkeram dingin.
Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh penaklukan. Aku ingin hidup, ingin merasakan sari pati hidup...!!!
Kamis, 27 September 2012
Pengamen Cilik Dan Hatinya
Kisah ini sudah cukup lama terjadi, sekitar awal tahun 2011 dan baru kepikiran sekarang untuk membaginya di blog, mungkin bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca....
Siang itu cukup terik, tapi aku tetap melangkahkan kaki meninggalkan kampus MIPA menuju kampus ISIP, ingin bertemu dengan seorang teman.Ingin ngobrol dengan santai sekalian browsing, maka kami memilih duduk di koridor. Bla...bla...bla... obrolan pun mengalir, lalu kami mengeluarkan laptop masing-masing dan sibuk browsing.
"Kricing...kricing..." Sesuatu mengusik perhatianku. Seorang pengamen cilik sedang bernyanyi di dekat segerombolan mahasiswi yang sedang asyik menggosip. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada laptop.Sebegitu asyiknya sampai aku dan si teman tidak sadar si pengamen sudah berada di belakang kami. Aku hanya mengangkat tangan dan menggeleng tanpa menoleh, menolak nyanyiannya dengan halus. Ia kemudian beranjak.
Ia mendatangi sekumpulan mahasiswa yang juga asyik ngobrol sambil nongkrong di bawah pohon, tak jauh dari hadapan kami. Alat musik tutup botolnya ia pukul-pukulkan ke tangan, menimbulkan bunyi gemerincing yang berisik. Aku mengangkat wajahku lagi. Para mahasiswa kelihatan acuh tak acuh, hanya melirik sekilas. Tapi ketika si pengamen belia menyelesaikan nyanyiannya, mereka merogoh saku dan mengeluarkan dompet, mencoba mengumpulkan uang koin yang mungkin terselip di sana sini. Setelah memberikannya pada pengamen kecil itu, mereka kembali asyik pada topik obrolan. Meski tak ada lagi yang memperhatikan, anak kecil itu tetap mengucapkan terima kasih, bahkan sampai membungkukkan kepalanya. Cukup sopan. Wajahnya bahagia, meski hanya karena beberapa keping recehan....
Aku tercenung sesaat. Kenapa aku sampai tak punya hati, barangkali hanya untuk mendengar gumaman nyanyiannya, menghargai sedikit usahanya dan memberi yang menjadi bagiannya? Ah, aku terlalu tidak peduli....
Kami memanggil pengamen kecil itu kembali saat ia berjalan melewati kami. Ia mendekat dengan takut-takut... Kami tersenyum ramah dan bersahabat....
"Ada apa, Kak?"
"Kamu masih mau bernyanyi?"
"Kalau nyanyinya bagus, nanti kakak kasi uang..." kataku dan si teman bergantian.
"Kakak maunya aku nyanyi apa?" tanyanya dengan mata berbinar, mungkin berharap akan mendapat uang lebih hari ini, setelah sering tidak dihiraukan oleh orang lain.
"Lagu apa saja. Lagu yang sering kamu nyanyikanlah, lagu anak band bisa?" Ia menggeleng dan aku sedikit terkejut. Ia berbeda dengan pengamen cilik yang biasanya kulihat. Meski baru berumur 5 atau 6 tahun, mereka membawakan lagu-lagu anak band yang agaknya kurang cocok dengan usia mereka.
"Jadi lagu apa bisanya?"
"Lagu sekolah minggu...." jawabnya polos. Surprise! Kami mengangguk.
"Happy yee...ye...ye... Happy ya...ya...ya... Aku senang jadi anak Tuhan..." Dia bernyanyi diiringi alat musiknya hingga selesai. Aku dan si teman memberinya tepuk tangan. Aku mencari dompet, seingatku aku punya beberapa keping uang lima ratusan. Kami memberinya dan ia menerima dengan senyuman. Tangan kecilnya terlihat penuh saat menggenggam uang logam itu. "Terima kasih kakak...," katanya tulus.
Kami mengajaknya duduk.
"Kamu sudah sekolah?" Ia mengangguk. "Kelas berapa?"
"Kelas dua, kak..."
"Bapak sama Ibu kamu kerja apa? Kok kamu sampai ikutan cari uang?"
"Ibu aku tukang cuci sama bantu-bantu di rumah orang, bapak aku tukang becak...." Ia menunduk. Duh, kok jadi sedih dia nya?
"Kamu berapa bersaudara?"
"Enam, kak..." Alamak!! *tepuk jidat. Ini dia masalah utama negeri kita ini, yang miskin beranak banyak!
"Kamu anak ke...?"
"Tiga..." jawabnya. Duh, anak ke tiga masih berusia sekitar tujuh tahun, anak ke empat, ke lima, ke enam, usia berapa ya?
"Cita-cita kamu apa?"
"Jadi polisi, kak..."
'Terus kakak-kakak kamu juga kerja?"
"Iya, Kak. Kakakku cari botol bekas, abangku jualan koran." Duh, anak-anak sekecil itu.....
"Uang hasil ngamen kamu mau buat apa?"
"Ditabung dulu di celengan ayamku. Kalau sudah penuh, aku mau beli sepatu...." Bagus juga, ia bekerja dan menabung untuk membeli apa yang diinginkannya. Beda dengan pengamen di perempatan jalan sana, siap mengamen dan mendapat uang, malah beli rokok....
"Memangnya berapa harga sepatunya?"
"Tiga puluh ribu, kak...."
Miris! Anak-anak orang kaya di gedongan sana berhamburan uang. Anak kaum terpinggirkan seperti pengamen cilik ini harus mengumpulkan receh demi receh untuk membeli sepatu sekolah.
Kali ini tangan kami tergerak sendiri, mengeluarkan sedikit uang, yang sekiranya dapat memenuhi celengannya, agar anak kecil ini bisa segera beli sepatu.
Tapi ia menggeleng ketika kami menyodorkan beberapa lembar uang lima ribuan.
"Kenapa?"
"Kata ibuku, aku enggak boleh menerima uang kalau bukan hasil usahaku...."
Aku takjub. Ditengah kemiskinan yang menjepitnya, otak dan hati kecilnya masih dipenuhi ajaran baik, dan ia patuh!
"Oke, bilang sama ibu kamu, kalau kakak kasih kamu uang karena kamu sudah nyanyi lagu sekolah minggu."
Kami meraih tangannya dan menyelipkan uang kertas itu. Ia menggenggamnya kuat. Matanya berbinar dan senyumnya lebar.
"Terima kasih, ya, kakak...." Ia bangkit, berlari menjauh sambil melambaikan tangannya. Aku hanya bisa menarik nafas panjang, setidaknya hari ini satu biji kebaikan telah kami lakukan....
Ada pelajaran yang bisa di petik??
Siang itu cukup terik, tapi aku tetap melangkahkan kaki meninggalkan kampus MIPA menuju kampus ISIP, ingin bertemu dengan seorang teman.Ingin ngobrol dengan santai sekalian browsing, maka kami memilih duduk di koridor. Bla...bla...bla... obrolan pun mengalir, lalu kami mengeluarkan laptop masing-masing dan sibuk browsing.
"Kricing...kricing..." Sesuatu mengusik perhatianku. Seorang pengamen cilik sedang bernyanyi di dekat segerombolan mahasiswi yang sedang asyik menggosip. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada laptop.Sebegitu asyiknya sampai aku dan si teman tidak sadar si pengamen sudah berada di belakang kami. Aku hanya mengangkat tangan dan menggeleng tanpa menoleh, menolak nyanyiannya dengan halus. Ia kemudian beranjak.
Ia mendatangi sekumpulan mahasiswa yang juga asyik ngobrol sambil nongkrong di bawah pohon, tak jauh dari hadapan kami. Alat musik tutup botolnya ia pukul-pukulkan ke tangan, menimbulkan bunyi gemerincing yang berisik. Aku mengangkat wajahku lagi. Para mahasiswa kelihatan acuh tak acuh, hanya melirik sekilas. Tapi ketika si pengamen belia menyelesaikan nyanyiannya, mereka merogoh saku dan mengeluarkan dompet, mencoba mengumpulkan uang koin yang mungkin terselip di sana sini. Setelah memberikannya pada pengamen kecil itu, mereka kembali asyik pada topik obrolan. Meski tak ada lagi yang memperhatikan, anak kecil itu tetap mengucapkan terima kasih, bahkan sampai membungkukkan kepalanya. Cukup sopan. Wajahnya bahagia, meski hanya karena beberapa keping recehan....
Aku tercenung sesaat. Kenapa aku sampai tak punya hati, barangkali hanya untuk mendengar gumaman nyanyiannya, menghargai sedikit usahanya dan memberi yang menjadi bagiannya? Ah, aku terlalu tidak peduli....
Kami memanggil pengamen kecil itu kembali saat ia berjalan melewati kami. Ia mendekat dengan takut-takut... Kami tersenyum ramah dan bersahabat....
"Ada apa, Kak?"
"Kamu masih mau bernyanyi?"
"Kalau nyanyinya bagus, nanti kakak kasi uang..." kataku dan si teman bergantian.
"Kakak maunya aku nyanyi apa?" tanyanya dengan mata berbinar, mungkin berharap akan mendapat uang lebih hari ini, setelah sering tidak dihiraukan oleh orang lain.
"Lagu apa saja. Lagu yang sering kamu nyanyikanlah, lagu anak band bisa?" Ia menggeleng dan aku sedikit terkejut. Ia berbeda dengan pengamen cilik yang biasanya kulihat. Meski baru berumur 5 atau 6 tahun, mereka membawakan lagu-lagu anak band yang agaknya kurang cocok dengan usia mereka.
"Jadi lagu apa bisanya?"
"Lagu sekolah minggu...." jawabnya polos. Surprise! Kami mengangguk.
"Happy yee...ye...ye... Happy ya...ya...ya... Aku senang jadi anak Tuhan..." Dia bernyanyi diiringi alat musiknya hingga selesai. Aku dan si teman memberinya tepuk tangan. Aku mencari dompet, seingatku aku punya beberapa keping uang lima ratusan. Kami memberinya dan ia menerima dengan senyuman. Tangan kecilnya terlihat penuh saat menggenggam uang logam itu. "Terima kasih kakak...," katanya tulus.
Kami mengajaknya duduk.
"Kamu sudah sekolah?" Ia mengangguk. "Kelas berapa?"
"Kelas dua, kak..."
"Bapak sama Ibu kamu kerja apa? Kok kamu sampai ikutan cari uang?"
"Ibu aku tukang cuci sama bantu-bantu di rumah orang, bapak aku tukang becak...." Ia menunduk. Duh, kok jadi sedih dia nya?
"Kamu berapa bersaudara?"
"Enam, kak..." Alamak!! *tepuk jidat. Ini dia masalah utama negeri kita ini, yang miskin beranak banyak!
"Kamu anak ke...?"
"Tiga..." jawabnya. Duh, anak ke tiga masih berusia sekitar tujuh tahun, anak ke empat, ke lima, ke enam, usia berapa ya?
"Cita-cita kamu apa?"
"Jadi polisi, kak..."
'Terus kakak-kakak kamu juga kerja?"
"Iya, Kak. Kakakku cari botol bekas, abangku jualan koran." Duh, anak-anak sekecil itu.....
"Uang hasil ngamen kamu mau buat apa?"
"Ditabung dulu di celengan ayamku. Kalau sudah penuh, aku mau beli sepatu...." Bagus juga, ia bekerja dan menabung untuk membeli apa yang diinginkannya. Beda dengan pengamen di perempatan jalan sana, siap mengamen dan mendapat uang, malah beli rokok....
"Memangnya berapa harga sepatunya?"
"Tiga puluh ribu, kak...."
Miris! Anak-anak orang kaya di gedongan sana berhamburan uang. Anak kaum terpinggirkan seperti pengamen cilik ini harus mengumpulkan receh demi receh untuk membeli sepatu sekolah.
Kali ini tangan kami tergerak sendiri, mengeluarkan sedikit uang, yang sekiranya dapat memenuhi celengannya, agar anak kecil ini bisa segera beli sepatu.
Tapi ia menggeleng ketika kami menyodorkan beberapa lembar uang lima ribuan.
"Kenapa?"
"Kata ibuku, aku enggak boleh menerima uang kalau bukan hasil usahaku...."
Aku takjub. Ditengah kemiskinan yang menjepitnya, otak dan hati kecilnya masih dipenuhi ajaran baik, dan ia patuh!
"Oke, bilang sama ibu kamu, kalau kakak kasih kamu uang karena kamu sudah nyanyi lagu sekolah minggu."
Kami meraih tangannya dan menyelipkan uang kertas itu. Ia menggenggamnya kuat. Matanya berbinar dan senyumnya lebar.
"Terima kasih, ya, kakak...." Ia bangkit, berlari menjauh sambil melambaikan tangannya. Aku hanya bisa menarik nafas panjang, setidaknya hari ini satu biji kebaikan telah kami lakukan....
Ada pelajaran yang bisa di petik??
Jumat, 14 September 2012
My Lovely Younger Brother
Ini dia si bungsu dari empat bersaudara :Arif Peranata
Saat ini dia sedang duduk di bangku kelas 3 SMP, artinya tahun depan akan mengikuti Ujian Nasional. Doakan ya si bungsu ini lulus dan masuk SMA terbaik.
Ini adalah foto hasil ngubek-ngubek drive laptop dan mendapati foto ini di sudut sebuah file.
Ini bareng anjing kesayangannya, Paguh. Settingnya adalah di ladang. Paguh hidup benar-benar menyandang penuh arti namanya : kuat dan bertahan. Pernah beberapa kali Paguh tertabrak mobil, untungnya tidak berakibat fatal. Hanya luka lecet.
Suatu kali pernah di pagi hari Paguh mengikuti Arif bersepeda. Paguh berlari-lari di samping sepeda Arif, sebuah mobil menyambar tubuh Paguh. Mobil itu segera melarikan diri. Arif hanya terpana memandang tubuh Paguh yang tergeletak, tak bergerak. Ia segera melompat dari sepedanya. Ketika ia menyentuh Paguh, hendak menggendongnya masuk rumah, tiba-tiba Paguh berdiri dan berlari. Ah, ternyata ia tidak kenapa-kenapa.
Nah, kali ini dengan ayam-ayam peliharaan. Ayah Ibuku memang gemar beternak ayam dan bebek. Lumayan, ayam kan bisa dikembang biakkan terus hingga banyak. Jadinya bisa sering-sering potong ayam. Sedangkan telur bebek bisa digoreng. Yummy....
Nah, diantara ayam-ayam milik ibu, Arif mengumpulkan anak-anak ayam yang seumuran dan mengklaim bahwa itu adalah miliknya.....
Saat ini dia sedang duduk di bangku kelas 3 SMP, artinya tahun depan akan mengikuti Ujian Nasional. Doakan ya si bungsu ini lulus dan masuk SMA terbaik.
Ini adalah foto hasil ngubek-ngubek drive laptop dan mendapati foto ini di sudut sebuah file.
Ini bareng anjing kesayangannya, Paguh. Settingnya adalah di ladang. Paguh hidup benar-benar menyandang penuh arti namanya : kuat dan bertahan. Pernah beberapa kali Paguh tertabrak mobil, untungnya tidak berakibat fatal. Hanya luka lecet.
Suatu kali pernah di pagi hari Paguh mengikuti Arif bersepeda. Paguh berlari-lari di samping sepeda Arif, sebuah mobil menyambar tubuh Paguh. Mobil itu segera melarikan diri. Arif hanya terpana memandang tubuh Paguh yang tergeletak, tak bergerak. Ia segera melompat dari sepedanya. Ketika ia menyentuh Paguh, hendak menggendongnya masuk rumah, tiba-tiba Paguh berdiri dan berlari. Ah, ternyata ia tidak kenapa-kenapa.
Nah, kali ini dengan ayam-ayam peliharaan. Ayah Ibuku memang gemar beternak ayam dan bebek. Lumayan, ayam kan bisa dikembang biakkan terus hingga banyak. Jadinya bisa sering-sering potong ayam. Sedangkan telur bebek bisa digoreng. Yummy....
Nah, diantara ayam-ayam milik ibu, Arif mengumpulkan anak-anak ayam yang seumuran dan mengklaim bahwa itu adalah miliknya.....
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)
.jpg)