Rabu, 16 Maret 2016

Elegi Untuk Sinabung [Harian Analisa]

Halo, Maret...!

Karya saya kali ini dimuat di Analisa Minggu, 06/03/2016. Termasuk pemuatan yang cukup cepat, mengingat saya baru mengirimnya pada 26/02/2016.

Siapa yang tak tahu bencana letusan Gunung Sinabung? Bencana panjang yang telah dan tengah berlangsung hingga enam tahun kini? Saya seseorang yang lahir, besar, dan berdomisili di Tanah Karo, tempat bencana ini berlangsung meski saya bukanlah bagian dari korban atau pengungsi. Beberapa kali pernah mengunjungi posko pengungsian, bermain bersama anak-anak sinabung, mendengar keluh dan kesah para korban.

Pengalaman itu berkali-kali mengusik saya.

Hinggaplah sebuah inspirasi di pikiran, tergeraklah hati ini menulis tentang Sinabung. Ke dalamnya saya tumpahkan segala isi hati, bermacam pemikiran yang menyerang diam-diam, tanpa sungguh-sungguh bermaksud menyinggung apapun dan siapapun.

Ilustrasi Oleh Renjaya Siahaan
            .........
            Jangan hukum anak-anakmu lebih lama lagi, oh, Maha Pencipta.
Simaklah bisikan-bisikan bibir mereka kala bermunajat. Menolehlah pada kepala-kepala yang tertunduk, tangan-tangan menengadah. Telusurilah air mata yang membentuk anak sungai berjeram deras itu.
Dan teruntukmu, Sinabung, oh, Sinabung kekelengen.
Dinginkanlah hatimu.
Bisakah sudahi semua ini?
Adakah segalanya bisa mereda, kembali seperti sediakala?
Bertahun-tahun kini telah berlalu sejak kau bangun dulu. Apakah masih ada tersisa duka dan luka yang mengganjal perasaanmu? Belumkah kau puas sudah menyapu segala keangkuhan? Tataplah, kini anak-anakmu tak punya apapun lagi, kecuali sepotong hati yang remuk redam. 
"Cukup Sinabung
           Aku mohon sudah cukup
          Jiwa-jiwa yang lelah ingin pulang, kembali memeluk kakimu."

sumber : google
Untuk membaca lengkapnya, silahkan kunjungi website analisa atau klik link berikut : http://harian.analisadaily.com/cerpen-rebana/news/elegi-untuk-sinabung/219640/2016/03/06

Sampai jumpa...!

Senin, 15 Februari 2016

Air Terjun Dua Warna [ Sibolangit, Catatan Perjalanan]

Beberapa waktu lalu ada sebuah kesempatan mengunjungi sebuah objek wisata yang sedang booming. Terletak di desa Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara. 

Air Terjun Dua Warna.

Dinamakan 'Dua Warna' karena (semua orang pasti sudah tahu) air terjun ini terdiri dari dua gradasi warna, yaitu putih dan biru.  Akses masuknya dari desa Bandar Baru (kami masuk melalui sebuah gang di samping sekolah Katolik Deli Murni). Perjalanan dimulai dari posko Pemandu dimana setiap pengunjung harus mendaftarkan kelompok dan membayar tarif guide.

Sebenarnya, tarif menyewa pemandu adalah sebesar 100.000-300.000. Namun, satu keuntungan kami waktu itu, guide yang bersama kami adalah temannya salah satu keponakan yang bersedia 'menampung' kami tanpa terikat biaya pemandu. Yah, tapi tetap kasih uang terima kasih lah. Bagaimana pun ia sudah berbaik hati membawa kami, jadi sepatutnya ia dihargai. 

Pemandu kami hari itu seorang remaja laki-laki yang posturnya kecil, lagi kurus, masih kelas 2 SMA. Dan lincahnya bukan main. Dia dengan entengnya melalui jalan yang berbatu dan berhias akar yang saling melintang (yang rata-rata dikeluhkan anggota kelompok), hingga berlari-lari di atas lumpur. Karena sudah biasa, kali, ya....

step by step
Sebelum berangkat, saya menyempatkan browsing, cari tahu sedikit kira-kira apa yang akan kami hadapi menjelang pengalaman ini. Kebanyakan mengisahkan tentang rutenya yang menguras stamina dan menantang adrenalin. Ternyata tak bohong. Lokasi dan rute yang kami temui sama persis dengan yang diceritakan. Butuh dua hari untuk memulihkan tubuh yang lelah remuk redam, paling tidak satu hari full istrahat.
we are part of the nature
Salah satu nikmatnya menjelajah alam adalah ketika bertemu orang-orang dengan niat yang sama. Tak saling kenal, namun menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, menciptakan kenangan bersama. Ketika melewati medan yang sulit; tanjakan terjal atau turunan licin, misalnya, selalu saling menyemangati bahwa semua akan berhasil melewatinya. Bahkan tak segan mengulurkan tangan untuk membantu. Saling melempar jokes ringan, saling mengolok, serta tertawa bersama.

Dan mereka-mereka yang dalam perjalanan kembali dari air terjun dan berpapasan di jalan, saling menyapa dan menguatkan. Hanya satu dua patah kata, namun rasanya sangat akrab.  

Namun, ada satu hal yang mengganggu perjalanan yang sejak awal sebenarnya sudah diprediksi. Salah timing, karena kami memilih pergi di musim hujan. Setiba di sana, hujan turun deras serta berangin. Meski banyak orang masih nekat nyebur, kami lebih milih berteduh di tenda penjual makanan ringan. Isi perut dulu untuk mengembalikan tenaga.
meski hujan deras, keramaian tetap menyemut dan antusias
Tak lama kemudian hujan reda. Tapi...gantian sama kabut pekat plus gerimis. Lensa kamera dan ponsel berkali-kali harus dilap karena berembun. Hasil foto jadi kurang maksimal. Tapi tangan tak bisa berhenti menjepret.



Dan, meski tubuh sudah gemetar kedinginan hingga gigi bergemelutuk, rasanya tetap tak afdol kalau tak main air.
mermaid pose (fail!)

peek a boo

yeahh
Pulangnya, kaki terasa berkali lipat lebih berat dan tubuh lelah sempurna. Ditambah lagi kami tersesat karena sewaktu pulang, anggota kelompok terpencar-pencar hingga merepotkan pemandunya. Jadilah kami bertiga memutuskan jalan sendiri. Tidak merasa khawatir karena banyak orang yang juga sama-sama kembali ke posko. Berpikir ingat rutenya dengan baik.

Hingga akhirnya...ada sebuah persimpangan yang membingungkan. Ketika masih berpikir-pikir jalan mana yang akan diambil, muncul sebuah kelompok, yang akhirnya sama-sama bingung. Mereka sepakat ambil jalan kanan. Dalam pikiran saya, tadi rutenya bukan lewat jalan yang itu. Rutenya tadi tidak begitu, tapi tidak yakin juga. Dan, salah satu dari kelompok itu mengajak jalan bersama.
"Daripada tersesat sendiri, mending tersesat rame-rame, kan?" katanya.

Nah, benar! Tersesat ujung-ujungnya.

Beruntung, kami masuk daerah dimana banyak orang kemping. Beberapa dari mereka menunjukkan kami arah kembali. Tapi, tersesat lagi. Arahnya makin membingungkan. Kalau tidak berputar-putar di tempat yang sama, ya masuk jalan asing. 

Setelah beberapa kali salah jalan lagi, keluar masuk sungai, mengerahkan tenaga terakhir untuk beberapa tanjakan dan turunan, akhirnya ada juga yang tahu jalan keluar yang benar.  Tapi rutenya cukup ekstrim untuk tubuh yang sendi-sendinya sudah rontok semua. Yakni harus melewati tebing, harus berpegangan dan berpijak pada batu-batu licin, yang meski tidak terlalu tinggi, namun kalau terpeleset sedikit saja, siap-siap tercebut ke sungai berarus deras di bawahnya.

Syukur, ada pemuda baik hati yang rela menunggu langkah lambat kami (yang pacarnya juga baik mau menunggu) dan membantu melewati tebing licin itu. Dan, terima kasih untuk pekemping yang telah menunjukkan jalan pulang. Fiuh, lega setelah kembali ke jalan yang benar!

Enam jam yang bikin lelah campur senang, sekaligus memberi pengalaman yang tak terlupakan!

Entah kenapa Tuhan suka sekali menyembunyikan alam yang kelewat indah semacam ini di tempat yang sulit di jangkau. Dan, hanya orang yang mencari yang akan menemukan.

Selamat mencari keindahan...

Jumat, 22 Januari 2016

Cangkir Tanpa Kopi [Harian Analisa]

Holaa...!

Kemarin, 20 Januari 2016, salah satu cerita pendek saya dimuat di sebuah koran lokal Medan, yakni Harian Analisa. Sebuah penantian panjang sebelum akhirnya tulisan ini mendapat tempat di salah satu halaman koran tersebut, karena naskah cerpen ini telah saya kirim pertengahan tahun lalu. Yah, penantian yang berujung manis.



Cerpen ini mengisahkan sebuah kisah yang cukup sederhana, maklum, pemula... Namun, cerpen ini membuat mimpi saya satu langkah lebih dekat. Untuk kamu-kamu juga yang sedang bertutur dalam kisah, yang tanpa lelah menggoreskan pena atau menarikan jari jemari di atas keyboard laptop, yang terus menerus menghitung hari hingga tiba saatnya buah karya itu lahir, mari terus semangat...!

Untuk membaca cerpen ini, silahkan kunjungi website Analisa di analisadaily.com/cerpen-harian/news/cangkir-tanpa-kopi/206837/2016/01/20

Selamat membaca...!

Selasa, 12 Januari 2016

Aku Datang Sebelum Kau Rindu [Catatan Perjalanan Ke Danau Toba]

Halo, 2016....
Happy new year, everybody...!

Nah, kali ini cerita tentang liburan dadakan. Sama sekali tak terencana. Pada hari kedua di tahun 2016. Dengan tujuan Danau Toba!

Tak terhitung berapa kali kaki ini menapak beragam spot di Danau Toba, seperti Tongging, Haranggaol, Silalahi, hingga menyeberang ke pulau Samosir dan menginap di desa Tomok. Tapi, tak pernah bosan, karena dari sudut manapun, danau ini tetap indah dan memesona.

Karena berangkat dari rumah sudah menjelang siang, kami tak punya waktu banyak untuk melakukan beragam kegiatan. Berangkat sudah pukul sepuluh lewat (dari Berastagi), dan tiba di Tongging pukul dua belas. Menuju ke sebuah spot bernama villa Armina (yang saya baru tahu keberadaannya, mungkin juga baru dibangun menilik dari bangunan dan lokasinya) di salah satu sisi desa Tongging.

Karena benar-benar mendadak, jadinya ya kurang persiapan. Meski ada free floating cottage, kami tetap butuh alas duduk dan akhirnya menyewa tikar. Pondoknya agak menjorok ke arah danau hingga sedikit bergoyang-goyang karena ombak. Hati-hati pusing!

Kotak-kotak bekal langsung dibuka karena perut sudah keroncongan. Sayangnya nggak bawa arang dan ikan, padahal tempatnya oke punya buat bakar-bakar. Alat pemangganggnya juga disediakan padahal. Dari pondok apung ini juga bisa langsung mancing. Waktu kami tiba, beberapa lelaki sudah asyik dengan kail pancing masing-masing.
much fun!
Usai makan, tanpa buang tempo, langsung ganti baju dan melompat ke dalam kolam renang. Menyenangkan, meski tidak terlalu pandai berenang. Dan, main air dalam kolam renang yang hanya berjarak sekitar dua meter dari danau, dengan pemandangan bentangan danau itu sendiri adalah sebuah pengalaman baru (yah, mungkin pengalaman semacam ini sudah dialami banyak orang). Kalau biasanya cebur-ceburan di pantai, kadang belepotan pasir dan digoyang ombak, maka kali ini beda. Melompat ke dalam kolam, menyelam sebentar (soalnya nafasnya tidak cukup panjang), dan ketika kepala menyembul ke permukaan air, terhamparlah danau seluas mata memandang, seolah tiada ujung. Thanks God for this beautiful scenery.

swimming time....!

Ready to jump
Puas berenang, kami segera keluar kolam dan berganti pakaian. Agenda selanjutnya adalah naik kapal berkeliling danau.

Setelah keluar dari villa Armina, kami berkendara sisi lain desa Tongging, menuju ke sebuah lokasi dimana banyak terdapat kapal sewaan. Setelah negosiasi, sepakatlah menyewa sebuah kapal selama dua jam dengan biaya 250.000 rupiah. Pihak penyewa juga mengatakan kami bisa singgah di mana saja, bahkan bisa shopping. Dan, dengan teriakan patriotik dan semangat penuh, kami naik ke atas kapal.

let's go...!
Lihatlah kalimat yang diukir di langit-langit kapal itu. Kalau saja semua orang menerapkannya, aku yakin tak akan ada orang yang galau dan mengeluh rindu. Haha....

keep calm and enjoy the view


Menantang angin
Sebuah peristiwa konyol terjadi ketika kami melakukan kegiatan ini.  

Setelah lumayan jauh berlayar meninggalkan tepian, mesin kapalnya mati tiba-tiba dan penumpang yang tak berpengalaman naik kapal tentu panik. Oh, ternyata bensinnya habis. Penyewa menyilakan kami foto-foto sementara ia kembali mengisi bensin yang telah disediakan sebelumnya.

Ketika kami bertanya di daerah sebelah mana kami akan bisa shopping, sang nahkoda mengarahkan telunjuknya ke sebuah tepian sambil berkata,"Kampung Soping, ya, di sana."
"Bisa beli apa saja di sana, Pak? Apa sama kayak Tomok?"
"Itu kampung biasa."
"Lho, tadi Bapak bilang bisa shopping?"
"Bukan, maksud saya Kampung Soping." (entah ini penulisannya benar atau tidak, ketika saya search di google, nama kampung ini tidak muncul)

"Lalu apa kita akan menuju ke sana?" kami kembali bertanya dengan kesal bercampur kecewa.
Tapi ia menjawab tidak dan menyilakan kami foto-foto lagi. Yah, dari tadi juga udah foto-foto, Pak.

Tak menunggu lama, kami segera memilih kembali ke tepian, karena sepertinya kami tak akan menuju kemana-mana lagi. Siapa juga yang mau berlama-lama di tengah danau yang sepi, dengan mesin kapal mati dan diombang-ambong ombak?

Mesin kembali dinyalakan dan kapal pun putar balik.

Perjalanan hanya memakan waktu hampir satu jam dan kami kembali dengan tangan kosong. Grrr... Yah, buat teman-teman yang ingin melakukan kegiatan serupa, harap cek rutenya lebih detail dan waspada agar tidak kecewa.

Alright! Setelah turun dari kapal, kami kembali berkendara menuju spot lain yang saat ini sedang ramai-ramainya dikunjungi. Panorama Air Terjun Sipiso-Piso. Dan, benar saja! Keramaian tempat itu, ketika kami tiba, sudah seperti sebongkah gula yang dikerubuti semut. Cari parkiran saja susah!

we're here...

right behind us
cheers
Sekian cerita liburan dadakannya.

Setelah ini, semua aspek kehidupan kembali ke rutinitas. Mari mengawali tahun ini dengan energi baru, semangat baru, segala sesuatu yang dianggap patut diperbarui. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di waktu-waktu mendatang, tapi hari baik akan datang ketika kita mampu tersenyum dan bersyukur.

Selamat menjalani hari-hari...!







Senin, 30 November 2015

Lara Hati Mel

            Tak ada yang lebih menyesakkan selain ketakutan yang terus mendera.
 
Mel tidur dengan berkeringat, bukan karena malam begitu gerah. Lalu terbangun dengan gigil, bukan karena udara pagi yang terlalu dingin. Gundah menggerogoti hatinya. Dan sekarang adalah hari ketiga yang hanya ia habiskan dengan bergelung dalam kamar.
Mungkin terjadi sesuatu padanya...
Ketapak langkah yang diiringi suara berbisik terdengar mendekat dan berkerumun di depan kamar Mel.
Ah, pasti sedang tidur. Tahu sendirilah jam kerja orang macam dia. Kalau malam melek seperti kelelawar, siangnya tidur kayak bangkai.
Suara anak-anak kos yang akrab di telinga Mel sibuk menyampaikan spekulasi masing-masing.
Tapi, masa nggak pernah keluar walau sekedar makan?
Ih, jangan-jangan dia sudah...
Huss! Jangan bicara yang tidak-tidak! Suara lain menghardik, menghentikan dugaan negatif yang tak sempat terucap.
Telepon saja pacarnya. Kasih tahu keadaan Kak Mel...
Ya, ya. Lebih baik begitu.
Mel berusaha mengacuhkan kicau-kicau tak penting di luar. Ada hal yang lebih rumit berseliweran di benaknya.
            Sebulan ini ponselnya seringkali berdering. Sejumlah oknum tak kenal lelah memberondongnya dengan rentetan pertanyaan.
            Berapa lama lagi kami harus menunggu?Bukankah seharusnya kau sudah menyelesaikannya? Nada suara ibunya tiap kali menelepon lebih mirip omelan. Mendesak dan tanpa kompromi.
            Lain lagi bila kakaknya menelepon, namun tetap dengan maksud yang sama. Awas kalau kau mengacaukan keinginan ibu. Aku akan menghajarmu.
            Apa saja sih kerjamu di situ? Sudah sampai mana skripsimu?
            Pusing tujuh keliling Mel dibuat telepon-telepon itu. Bila tidak ditanyai, ia disuguhi
serangkaian kisah tentang para kerabat atau anak rekan sang ibu yang sudah mengambil program spesialis, yang sudah buka klinik, yang akan menikah, dan bla, bla, bla, yang lebih sering disampaikan dalam bentuk intimidasi.
Semua bermula beberapa tahun lalu ketika Mel dengan paksa menerima bahwa ia telah terdaftar di jurusan kedokteran. Ide itu milik ibunya, seorang yang terobsesi menjadikan semua anaknya dokter. Sikap diktator sang ibu membuatnya tak punya daya untuk melawan.
Namun, sekeras apapun ia berusaha memusatkan fokus menggeluti jurusan itu, ia tetap tak bisa karena hatinya tidak di sana. Rasanya ia ingin melemparkan jubah putih dan kitab-kitab tebal yang membuatnya muak.
Ia tidak menguasai bidang eksakta, bahkan tidak menaruh minat sedikit pun. Yang ia ingin lakukan hanyalah menjinakkan imajinasinya yang berlari-lari liar. Meramu debur ombak, suitan angin, dan kepak camar di pantai menjadi sastra. Menyusun perjalanan hati menjadi cerita apik. Menuliskan apa yang ia tatap, dengar, cium, sentuh, dan cecap menjadi keping-keping kisah.
Tiap kali ia mengutarakan pada sang ibu apa yang menjadi impiannya, yang ia dapatkan adalah gelengan tegas.
 “Apa yang bisa kau dapat dari tulisan-tulisan tak berguna itu? Tidak bisakah kau menurut pada ibu? Ini juga demi kebaikanmu. Tamatkan kuliah, lalu bekerja, mapan dan menikah, seperti kakak-kakakmu lakukan. Ibu akan tenang menjalani sisa hari-hari. Jangan jadi anak durhaka!”
Bagaimana kalau cita-citanya bukan menjadi mapan? Mel yakin bukan satu bidang pekerjaan tertentu yang akan membuat seseorang kaya atau tidak. Dan, kaya itu relatif. Kalau ia ingin menjalani hidupnya tanpa menuruti pakem yang ada, apa salah? Ia tak pernah berniat menjadi seorang yang durhaka—cap itu melekat begitu saja saat ia ingin menjadi dirinya sendiri.
Semakin kuat Mel meminta, semakin tegas gelengan kepala yang ia terima.
“Bebal! Persis ayahmu!” desis ibunya penuh benci.
Yang Mel tahu tentang sang ayah adalah seorang lelaki yang diceraikan ibunya saat Mel masih kecil, karena ia lebih mengikuti kata hati. Lelaki itu memilih hengkang dari perusahaan bonafit tempatnya berkarir dan menjalani pekerjaan impian sebagai seniman, sekaligus mengarungi hidup baru paska berpisah dengan keluarganya karena ibu Mel tak bisa menerima keputusan lelaki itu. Mel merindukan ayahnya yang sekarang entah berada di mana. Ingin rasanya menumpahkan keluh kesah yang mengimpit dada.
“Pokoknya dokter! Titik! Itu lebih berguna daripada sastra-sastramu itu!”
“Tulisan juga berguna untuk menyembuhkan. Bahkan sanggup melakukan apa yang tenaga medis tidak sanggup lakukan,” Mel mengemukakan pendapatnya.
“Omong kosong! Ibu sudah keluar banyak untukmu. Kau harus menunjukkan pada ibu tanggung jawabmu.”
Mel tak tahu harus sampai sekuel ke berapa pertengkaran itu akan berakhir. Sejak awal ia tak meminta tanggung jawab itu, tapi tetap saja dibebankan dipundaknya dan harus ia emban tanpa tawar menawar. Tapi kini ia tak sanggup memaksakan diri. Dilemparkannya tanggung jawab itu, lalu mengambil jalan lain. Nyaris dua tahun kini ia resmi bukan mahasiswa kedokteran lagi. Melepas tali kekang yang membuatnya sulit bergerak bebas.
Mel berpikir mungkin ia harus seperti Erin, kakak sulungnya yang nekat menikah dengan lelaki yang bukan pilihan ibunya. Kehadiran bayi lucu Erin beberapa tahun kemudian berhasil menghapus kerut masam di wajah sang ibu. Mel mengambil kesimpulan serupa. Mungkin ia harus ‘melahirkan anak’ yang hebat terlebih dahulu, baru kemudian memperoleh restu. Nekat bertaruh waktu.
Perempuan itu sadar kalau proses yang ia harus jalani tak akan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi ia juga tak menyangka akan sesulit ini. Tabungan waktu pertaruhannya semakin menipis.
Dan sekarang teror itu datang. Hati Mel gentar.
Ia berpikir, bersyukurlah orang-orang yang menemukan jati diri dan sesukanya memiliki impian.
Yang menggenggam erat idealisme.
Yang menghargai betapa mahal nilai sebuah kebebasan.
***
Mel terbangun dengan jantung seakan mau meledak hanya karena mendengar dering ponselnya. Seharusnya ia mematikan atau menyingkirkannya saja jauh-jauh agar tidak lagi merasa terganggu. Alat yang berfungsi untuk mempermudah komunikasi itu kini ia rasakan seperti sebuah granat yang siap membuatnya hancur lebur.
Dengan wajah masih tenggelam dalam bantal, tangannya meraba-raba permukaan kasur untuk menemukan ponsel sialan itu. Ketika berhasil meraihnya, ia mengintip layar dengan sebelah mata memicing. Kalau nama yang tertera di sana adalah salah satu dari para peneror, ia siap melemparkan benda elektronik itu ke dinding.
Ternyata bukan peneror. Melainkan kekasihnya, Paul.
“Mel? Kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja?” deretan pertanyaan bernada cemas itu menyerbu bahkan sebelum ponsel menempel sempurna di telinga Mel.
“Tidak.”
“Buka pintunya. Sejak tadi aku berdiri di luar, tapi kau tidak dengar aku mengetuk.”
“Pergilah. Aku sedang ingin sendiri.”
Hela nafas berat terdengar dari luar. Paul mematikan telepon karena ia dan Mel kini bisa saling mendengar.
“Apa yang kali ini terjadi padamu, Mel? Katakanlah kalau ada yang mengganggu pikiran,” Paul berucap penuh sabar. “Kau tahu aku selalu ada untuk mendengarkan.”
“Ibuku.”
Cukup satu kata itu dan Paul sudah mengerti inti perkaranya, sekaligus membuatnya mati langkah. Bila menyangkut perseteruan Mel dengan ibunya, Paul berada di luar lingkaran yang tak bisa campur tangan terlalu banyak. Ia paham keinginan ibu sang kekasih, tapi juga tak berbuat apa-apa ketika Mel memilih hengkang dari jurusan yang tak disukainya itu.
Paul tak bisa memaksa Mel, karena ia pun tidak dapat membayangkan seandainya bertukar posisi dengan kekasihnya itu; harus melakukan hal yang tidak disukai. Sejak awal, lelaki itu sudah dibebaskan menentukan masa depan sendiri. Dengan nikmat ia dapat menggenggam mikrofon dan menggemakan nada-nada yang menyuarakan isi hati serta pikirannya tanpa batasan apapun.
Kadang, satu keputusan tampak seperti dua sisi koin; bisa terlihat benar atau terlihat salah. Tergantung sudut pandang yang menilai. Paul tak bisa mendakwa keputusan Mel adalah salah atau benar. Satu-satunya hal yang dapat dan ingin ia lakukan adalah mendukung perempuan itu hingga akhir.
Namun, bagian tersulitnya adalah ketika pendirian dan keteguhan sang kekasih merapuh akibat tekanan yang memurukkan. Juga waktu dan kesempatan yang belum juga menunjukkan simpati. Lebih lagi, tekanan itu justru datang dari keluarganya, orang-orang terdekat yang harusnya memahami Mel dengan baik.
“Aku ada lagu untukmu. Cobalah dengarkan.”
Mel menyahut malas,“Aku sedang bosan kau jejali lagu-lagumu.”
“Ini bukan laguku, tapi milik band lain.”
“Siapa lagi kali ini?”
“Musikimia.”
Arghh! Mel mengerang. Mendengar namanya saja sudah membuat perut perempuan itu mual. Bukan, bukan band itu yang sebenarnya membuat Mel muak, hanya saja, kenapa namanya harus seperti salah satu mata pelajaran tak pernah bisa menempel otaknya? Mengingatkannya akan sesuatu yang amat dibenci.
“Apa kau yakin tak akan menyanyikan untaian rumus-rumus yang membuat kepalaku tambah pusing? Kalau ya, lebih baik tidak usah bernyanyi!” tolak Mel.
“Bukan seperti itu! Ini berbeda. Mungkin bisa menyelamatkan hati dan harimu. Dengarkan saja dulu...”
Mel tak menjawab. Hanya berharap tak akan mendengar lirik picisan nan gombal, yang semakin menghancurkan mood yang sejak kemarin memang sudah porak poranda.
Paul duduk menunggungi daun pintu yang tertutup. Suara deheman terdengar, lalu disambung petikan gitar. Intro diisinya dengan berganti kunci beberapa kali. Baru kemudian suaranya yang bening dan dalam itu mengalunkan lirik demi lirik.
         Mel tergugah. Walau sempat menolak, ia tak bisa menyangkal bahwa ada satu titik dalam hatinya yang merasa disentuh oleh lagu itu. Perlahan, ia mengangkat kepala dari bantal dan duduk di tepi tempat tidur. Meraih selembar tisu lalu menyapu wajahnya yang sejak kemarin tak pernah kering.

Mel beranjak mendekat, hendak mendengar lebih jelas lagu yang baru pertama kali mampir di telinganya itu. Ia pun turut duduk memunggungi pintu sambil memeluk lutut. Berusaha mengendapkan kata demi kata yang entah bagaimana bisa, betul-betul mewakili kerisauannya.
            Paul tak mendapat respon apa-apa selama bersenandung. Hanya samar sengguk yang ditangkap telinganya. Dekat, dan lirih. Ia serta merta bangkit.
            “Mel? Apa kau menangis?”
            Tidak ada jawaban, membuatnya makin khawatir.
“Buka pintunya, Mel...”
            “Aku tak ingin kau melihatku dalam keadaan kacau balau dan mata bengkak begini,” ucap Mel dengan suara serak.
            “Hei,” Paul berujar lembut. Ia terdiam sebentar ketika seorang perempuan melintasinya.    
Seluruh penghuni kos sebenarnya sudah tidak heran kalau lorong itu bisa beralih fungsi menjadi panggung dadakan. Yang lelaki seorang vokalis menyaru pujangga. Sedang perempuannya perangkai kata-kata. Tak jarang anak kos yang lain disuguhi konser gratisan, disertai  aliran kalimat yang rasanya lebih pantas ada dalam novel atau buku antologi puisi.
            “Bukankah lima tahun lalu aku sudah berjanji akan menerimamu apa adanya? Apa kau masih ragu?”
Tidak, Mel menjawab dalam hati. Ia sama sekali tidak meragukannya.
Pintu itu akhirnya membuka setelah sekian hari terkunci rapat. Mel berdiri dengan bahu terkulai letih. Mata merah. Rambut pendeknya tampak berantakan. Padahal ia dulu nekat memangkas rambut panjangnya karena tak ingin repot dengan segala macam perawatan. Helai-helai pendek di atas bahu membuatnya merasa lebih praktis, juga urusannya lebih ringkas. Ia jadi punya lebih banyak waktu untuk melesat ke sana kemari, mencari inspirasi dan mempermudah segala pergerakannya.
Namun, tingkat kekusutan hari ini mengonfirmasi Paul, mungkin demikian kalutnya Mel hingga seakan sudah dua hari ia tidak mempertemukan rambutnya itu dengan sisir.
            Paul terenyuh, turut merasakan beban Mel hanya dengan memandang wajahnya. Ia meraih perempuan itu ke dalam pelukannya seraya berbisik, “Jangan menyerah, Mel.”
            “Tapi kenapa semua terasa sangat sulit?” tanya Mel dengan kepala terbenam dalam pundak Paul. Aliran air matanya membasahi permukaan bahu kaus pemuda itu.
            “Karena memang tak ada yang mudah dalam hidup ini,” jawab Paul. Diusapnya berkali-kali rambut kusut Mel. “Mari kita hadapi ini bersama. Nyanyikan mimpi-mimpi kita dan terus berjuang. Kelak suatu hari nanti kita akan menari  bersama hasilnya.”
Pelan dan lembut, Paul menyenandungkan satu bait lirik yang ia harap dapat membuat Mel lebih damai dan tenang.

          Untuk beberapa menit lamanya, mereka hanya berdiri.
          Saling mendekap, saling menguatkan.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia dan Nulisbuku.com