Rabu, 16 April 2014

PULANG

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with www.thebaybali.com & Get discovered! 





Aku terbangun ketika seorang pramugari menggoyangkan bahuku pelan. Kulayangkan pandanganku ke luar jendela, dan tampak segalanya masih berwarna putih. Pramugari itu menawarkan snack dan minuman. Aku menguap kecil sebentar sambil menutup mulut dengan tangan, lalu mengangguk.
Aku baru saja kembali dari sebuah penjalanan panjang. Keliling dunia, kalau boleh aku menyebutnya begitu, meski kenyataannya aku hanya mengunjungi beberapa negara asia dan eropa. Dan aku sedang dalam perjalanan menuju ‘rumah’, dan tak sabar ingin mengunjungi ‘kekasih lama’.
 Aku yakin ketika aku menyebut rumah, kamu pasti membayangkan bangunan tempat tinggal yang nyaman. Aku tak akan menyalahkan apa yang kamu bayangkan, namun bukan rumah seperti itu tepatnya maksudku. Rumah bagiku adalah tanah tempat aku dilahirkan. Telah banyak negara kujelajahi, namun entah kenapa hatiku tertambat kuat di Indonesia. Aku juga punya rumah dengan arti yang sesungguhnya, namun aku tak yakin kepulanganku akan di terima kembali oleh ayah bunda.
Akan kuceritakan sedikit padamu mengenai diriku. Aku hanyalah anak adopsi yang berasal dari sebuah panti asuhan, yang diangkat menjadi anak oleh sepasang suami istri yang telah menikah dua belas tahun, tapi tak juga dikaruniai anak. Aku berusia sembilan tahun waktu itu.
Aku menjadi anak emas hingga di penghujung masa SMP ku, lalu bunda dinyatakan mengandung. Lalu lahirlah adik laki-lakiku, Rangga. Tentu saja konsentrasi bunda yang sejak awal hanya fokus padaku, kini terpecah menjadi dua. Namun aku tidak cemburu, karena aku sadar posisiku. Aku juga tidak menemukan perbedaan yang terlalu berarti dari sikap ayah bunda padaku sejak kehadiran Rangga. Kasih sayang mereka bagi sama rata.
Bunda bahkan punya sejuta planning untukku, karena ia ingin aku menjadi kakak yang patut jadi teladan bagi Rangga. Ia menyarankanku ikut kursus ini itu, ikut kompetisi sana sini. Ia juga melibatkanku mengurusi butik dan salonnya. Aku turuti semuanya, kulakukan dengan ulet dan tekun, meski aku tahu bahwa apa yang kujalani sekarang bukanlah yang kuinginkan. Semua keberhasilan, predikat juara, dan kebanggaan lainnya kupersembahkan bagi mereka, sebagai ungkapan terima kasih.
Tapi ada satu hal yang tak pernah mereka tahu, bahwa aku telah lama menabung demi satu impianku: melakukan perjalanan ini. Pernah suatu kali kusinggung pada bunda mengenai keinginanku ini, namun bunda tak setuju dan tak mau berkompromi.
Aku meninggalkan rumah setahun lalu, tepat ketika aku mengakhiri SMA. Aku ingin melakukan perjalanan, perjalanan yang sangat panjang dan jauh. Dan dapat ditebak dengan mudah, kepergianku tidak direstui doa ayah bunda.
Bukankah kita sendiri yang tau apa yang kita inginkan? Ketika itu aku berpikir bahwa aku sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri. Aku tak ingin menjadi boneka bagi orang lain. Tak ada seorangpun yang dapat mendikteku. Kuputuskan tetap pergi, meski di belakangku bunda terus mengomel-ngomel. Semoga saja tak ada sumpah-serapah dalam kalimat-kalimatnya dulu. Itu kini yang kuharapkan.
Bepergian seorang diri ke luar negeri bukan masalah bagiku. Mungkin terdengar sedikit mencemaskan, namun aku yakin aku akan baik-baik saja. Aku menyimpulkan bahwa darah berani dan nekat ini mengalir dari orang tua kandungku, meski aku tak kenal dan tak tahu keberadaan mereka sekarang. Sedangkan bunda tak terlalu suka alam dan bepergian apalagi ala backpack, kecuali dengan pesawat kelas bisnis dan hanya ke tempat yang bergengsi, menurutnya.
Pernah beberapa kali aku menelepon ke rumah, namun selalu diangkat oleh Bik Sumi. Ia menyatakan rindu dan khawatir dengan keadaanku. Darinya aku mengorek tentang kabar ayah, bunda, dan Rangga. Ia mengatakan bahwa bunda terkesan cuek bila Bik Sumi menyinggung tentangku. Namun suatu kali ia tak sengaja memergoki bunda masuk ke kamarku, lalu memandang fotoku dengan tatapan sedih. Hal ini memunculkan sedikit rasa percaya diriku bahwa bunda masih mengharapkan kepulanganku, meski aku tak yakin seratus persen.
Satu hal yang membuat hatiku berbunga-bunga adalah ketika belakangan teman playgroup Rangga bermain ke rumah. Adik kecilku itu dengan bangga memperkenalkanku ke teman-temannya melalui foto keluarga yang di pajang di ruang tamu. “Ini kakakku, Kak Gadis,” ucap Bik Sumi dengan menirukan suara cadel Rangga. Sementara ayah jarang di rumah, tapi dari ekspresinya yang di tangkap Bik Sumi sehari-hari, tampak ayah juga selalu memikirkanku.
Aku tak sabar ingin segera tiba, namun aku juga bingung, apa yang akan kulakukan nanti. Aku sebenarnya telah sangat bahagia dengan perjalananku, petualanganku, namun rasanya ada yang kurang. Ada yang belum lengkap. Ada suatu dorongan raksasa dalam hatiku, yang terus memaksaku untuk pulang.
***
Aku kini tengah reuni dan bercengkerama dengan ‘kekasih lama’ yang tadi telah kukatakan padamu. Jangan berpikir bahwa kekasih yang kumaksud berbentuk seorang cowok dengan badan proposional, good looking, dan penuh cinta. Kekasihku ini adalah sebuah pulau indah di ‘rumahku’, dan aku telah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama ketika dulu kami sekeluarga liburan ke sini di awal-awal aku diangkat jadi anak. Aku tak bisa melupakannya, selalu lekat dalam pikiranku, meski banyak pulau yang tak kalah indah yang telah kukunjungi. Aku tak akan pernah putus cinta dengannya. Dan di sinilah aku, The Bay Bali.
Aku duduk di pasir putih tanpa alas. Kupandang laut lepas dengan pikiran mengawang-awang. Tampak seorang bocah bule, kira-kira berusia lima tahun, berlari tak sabar menuju bibir pantai yang dijilati ombak. Papan surfing mini terkepit di ketiaknya. Seorang laki-laki muda tergopoh-gopoh mengejarnya.
Aku memperhatikan mereka berdua asyik belajar surfing di ombak yang kecil-kecil. Anak yang mengenakan rompi pelampung itu tampak sangat antusias. Ayahnya mengangkatnya, lalu mendudukkannya di atas papan surfing mininya, kemudian mendorongnya pelan-pelan.
Go, Daddy, go...” teriaknya riang sambil mengepalkan tangan kanannya ke udara. Ketika ia terjungkir dari papannya karena ombak menghempaskannya hingga terlepas dari pegangan ayahnya, ia meringis. Tapi ia tak berhenti mencoba. Ia minta dinaikkan lagi ke papan surfingnya.
Aku jadi teringat ketika pertama kali mencoba mengendalikan papan surfingku sendiri. Awalnya aku masih takut-takut, kagok, sering terjungkir, bahkan beberapa bagian tubuhku pernah terluka karena menghantam papan surfingku sendiri ketika terjatuh. Hingga suatu hari aku sudah mampu berdiri sendiri dengan gagahnya di atas papan panjang itu. Aku sudah mampu menantang ombak yang ada di depanku, di lautan manapun yang telah kukunjungi. Kukatakan padamu bahwa salah satu kebahagiaanku adalah ketika aku berhasil menguasai mereka semua. Rasanya aku tak takut pada apapun lagi.
***
Aku bangkit dan sedang menepuk-nepuk celanaku ketika seseorang menyentuh bahuku.
“Joe....” seruku takjub begitu melihat siapa di belakangku. Aku melompat kepelukannya, namun segera kulepas sambil meringis dan mendapati hatiku malu karena kelakuanku tadi. Joe hanya tertawa sambil mengacak rambut pendekku.
“Segitu kangennya, ya, sama aku?” godanya. Ia adalah sahabatku di panti asuhan. Kami sangat akrab, bahkan seperti ia sudah kuanggap sebagai kakak laki-laki. Dulu aku sampai menangis ketika harus berpisah dengannya karena aku telah lebih dulu bertemu orang tua angkat. Namun ia menenangkanku, mengatakan bahwa hubungan kami akan baik-baik saja. Kami tetap satu sekolah hingga kelas dua SMP, namun ia harus pindah karena ia juga diangkat jadi anak oleh orang lain.
“Tadi aku enggak yakin kalau orang yang kulihat adalah kamu. Tapi setelah kupastikan, aku memang enggak salah orang,” katanya.
“Wah, bisa kebetulan begini ya?!”
“Bukan kebetulan. Ini memang sudah seharusnya terjadi,” jawabnya sambil tersenyum penuh arti. Sungguh di luar dugaan. Kami telah terpisah sekian tahun, tahu-tahu bertemu di tempat elok ini.
“Udah lama di Bali?”
“Belum. Baru tadi pagi landing di sini. Kamu?” jawabku, seraya balik bertanya.
“Aku sudah seminggu di sini. Ada proyek bisnis keluarga, tapi hari ini aku free.”
“Kalau gitu boleh dong kamu jadi tour guide sehari?” gurauku. Joe mengangguk cepat, seolah tak perlu berpikir untuk mengiyakan permintaan asalku tadi.
“Ke sana yuk, dijamin nggak akan boring...” ucapnya sambil menggamit lenganku. Aku menurut. Aku merasa sangat beruntung hari ini. Aku bisa mengunjungi kekasih lama, sekaligus bertemu sahabat lama.
Kami tiba di kawasan yang tema dan konsepnya seperti lingkungan kehidupan bajak laut. Ada rumah-rumah pohon, tenda terbuka di sana sini, bahkan lengkap dengan sebuah kapal yang menghadap laut. Nuansanya sangat lain dari pantai-pantai kebanyakan. Seandainya bisa memilih, aku ingin tinggal di tempat seperti ini. Akan sangat menyenangkan setiap hari bisa melihat deburan ombak, juga belaian angin laut yang sepoi-sepoi.
“Aku dengar kamu pergi dari rumah, ya?” tanya Joe pelan. Dengar? Dia dengar darimana? Apakah aku sudah setenar itu sampai semua orang tahu tentangku?
“Ya,” sahutku singkat.
“Apa kamu enggak kepikiran keluarga kamu?”
“Aku kepikiran kok. Tapi aku ingin bebas mencoba hal lain, mencari kesenanganku sendiri.”
Tampak olehku sepasang orang tua yang telah berusia senja duduk selonjoran di sebuah tempat dari bambu yang di rancang sedemikian rupa dengan posisi digantung di bawah dahan pohon yang besar dan kuat, hingga menyerupai ayunan. Mereka duduk berdampingan. Si suami tampak menggoda istrinya, lalu keduanya tertawa bersama, tampak bahagia menjalani ujung hari  mereka.


Kami berhenti di bawah sebuah pohon, tepat di depan anak-anak tangga yang juga tersusun atas bambu-bambu. Di atas kami tampak bangunan tree house yang sangat indah.
“Kamu enggak akan meraih kebahagiaan dengan mengorbankan orang lain, kan?” tanya Joe. Aku tersentak. Pertanyaan Joe mengusikku.
“Enggak ada yang jadi korban, kok.”
“Siapa bilang? Ayah bunda kamu yang baik itu adalah korban atas keputusan kamu. Kamu tahu mengapa mereka mengadopsi anak? Karena mereka ingin mencari kebahagiaan melalui kita.” Joe mulai menapaki tangga bambu itu.
“Mereka enggak kasih izin. Bunda ingin aku kuliah dengan jurusan yang dia mau, sementara aku ingin backpakingan. Pendapat kami bentrok.” sahutku cepat sambil mengekor langkahnya.  
“Semua perbedaan pendapat pasti punya solusi. Percayalah. Hanya saja semua orang sibuk mementingkan diri sendiri dan terlalu menuruti egonya...”
Kami telah tiba di lantai paling atas. Aku terdiam dan sedikit merasa tersinggung mendengar kalimatnya yang secara tidak langsung menuduhku. Meski demikian, aku merasakan kebenaran kalimat-kalimatnya. Aku seharusnya lebih berpikir matang dan membicarakan semua dengan baik-baik.
“Kamu benar, Joe.”
“Hanya keluarga tempat untuk kembali, kan? Dulu keluarga kita adalah panti asuhan, tapi kini kita punya keluarga sendiri. Kita harus menjaganya dengan baik.”
Joe selalu lebih bijak dan lebih dewasa dari aku. Dan ia telah membuatku sadar. Kutarik nafas panjang, lalu berucap,” kamu sangat benar. Aku ingin pulang, dan.....minta maaf.” Setelah mengucapkan kalimat itu, aku menemukan apa yang kurang dalam kebahagiaanku dan untuk apa aku pulang.


Kami terdiam sambil memandang ke bawah. Arena kapal Pirates sedang ramai-ramainya. Aku tertarik dengan keriuhan anak-anak berkostum bajak laut di bawah sana. Mereka asyik berkejar-kejaran mengitari sebuah kapal yang seolah telah dihempaskan oleh ombak besar hingga terdampar ke tempat ini. Anak-anak itu bermain perang-perangan, saling mengklaim daerahnya sendiri, dan bertindak seolah merekalah pemimpin perompak yang gagah dan garang. Suasana ramai dengan suara teriakan, tawa canda, dan berbagai ekspresi lainnya. Para orang tua tampak mengawasi mereka sambil sibuk memotret tingkah lucu bocah-bocah itu.
Tanpa sengaja, aku menangkap bayangan anak kecil yang sepertinya kukenal. Namun ia segera berlari ke sisi lain kapal, hingga hilang dari pandanganku. Rangga? Apa benar itu tadi Rangga? Aku mengedarkan pandanganku lebih luas, berharap menemukan sesuatu untuk memperjelas dugaanku.
“Ada apa?” tanya Joe. Sepertinya perubahan sikapku tertangkap olehnya.
“Rangga. Sepertinya aku melihat adikku di sana tadi,” jawabku sembari menunjuk kapal pirates yang masih tak berkurang riuhnya.
“Kamu yakin? Coba hubungi ayah, atau bunda kamu saja untuk memastikan...”
Segera kukeluarkan ponsel dari saku celana pendekku, lalu menelusuri deretan kontak. Bukan ayah atau ibu yang ingin kutelepon, melainkan rumahku di Jakarta sana. Dan seperti yang sudah-sudah, Bik Sumi lagi yang menjawabku. Tanpa basa basi, aku langsung menanyakan Rangga.
“Tuan, Nyonya sama Den Rangga lagi ke Bali, Non.”
Benar sangkaku. Berarti tak ada yang salah dengan penglihatanku barusan, bocah itu memang Rangga.
“Acara apa, Bik?” tanyaku penasaran. Sejak Rangga lahir, ayah menjadi sangat sibuk, lebih sibuk ketika telah mengadopsiku. Beliau adalah ayah yang sangat baik dan bertanggung jawab. Tumben sekali di hari kerja begini ayah bisa meluangkan waktu untuk pergi jalan-jalan.
“Kan Den Rangga ulang tahun, Non. Kemarin Rangga mintanya jalan-jalan ke Bali. Non Gadis dimana?”
Aku menepuk dahi, lalu mematikan telepon tanpa menghiraukan pertanyaan Bik Sumi.
“Benar, Joe. Yang kulihat tadi memang Rangga. Ia ulang tahun hari ini. Bik Sumi bilang mereka ke sini untuk merayakannya,” jawabku sedikit gelisah. “Kenapa bisa serba kebetulan begini?”
“Bagus!” Joe mengangguk-angguk.
“Bagus apanya?”
“Bukannya tadi kamu bilang kamu mau minta maaf dan berkumpul lagi dengan mereka? Ini momen yang memang sudah di rancang Yang Di Atas. Bukan kebetulan.”
Kuacak rambutku hingga kacau. Niat awalku ke sini hanya untuk menenangkan pikiran sebelum pulang ke Jakarta, menemui ayah dan bunda. Namun semua berbanding terbalik.
Kutatap Joe penuh harap. “Kamu temani aku, ya...”
Ia mengangguk.
***
Aku dan Joe kini berdiri di depan restoran Bebek Bengil. Keluargaku ada di dalam sana, begitu kata Joe, setelah ia kutugasi melakukan penguntitan kecil-kecilan. Joe menggenggam tanganku sambil menuntunku masuk ke dalam restoran itu.
“Tangan kamu dingin banget, Dis,” bisiknya. Aku hanya mengangguk kecil. Aku sedikit gugup, cemas membayangkan bagaimana reaksi ayah dan bunda yang sudah setahun tidak bertemu anaknya, maksudku anak adopsinya. Masihkah mereka peduli? Atau mereka telah lupa padaku, dan cukup bahagia dengan kehadiran Rangga?
Suasana restoran yang nyaman membuatku sedikit rileks. Lalu tampak olehku, keluarga kecilku duduk di depan sana. Jarak kami hanya dipisahkan beberapa meja saja. Rangga yang duduk di samping ayah tiba-tiba menoleh dan menyadari keberadaanku.
“Kak Gadis...!” serunya. Aku rindu suaranya yang menggemaskan itu, sudah sangat lama aku tidak mendengarnya. Ayah dan bunda turut menoleh dan terlihat sangat kaget. Mungkin mereka tidak menduga aku tiba-tiba hadir di depan mata mereka.
Joe mendorong bahuku dengan lembut, mengisyaratkan agar aku melangkah maju. Aku menatapnya, meminta dukungannya agar aku mampu untuk menekan egoku dan berjalan menyongsong Rangga yang kini turun dari kursinya, lalu berlari ke arahku.  Rangga tampak begitu bahagia melihatku kembali. Dapat kutangkap binar-binar ceria di mata bulatnya dan bibirnya yang tersenyum lebar. “Kak Gadis... Kak Gadis...!”
 Beberapa pengunjung sampai menoleh karena mendengar suara berisik Rangga yang memanggil-manggil namaku. Ingin rasanya kulupakan bahwa saat ini aku berada di tempat umum, kemudian aku berlari menyambut Rangga, lalu meraihnya ke dalam pelukanku. Namun aku hanya mampu melangkah dengan canggung. Rangga meraih tanganku, lalu menarikku menuju meja tempatnya semula. Ayah menatapku, dengan ekspresi yang tak dapat kuterjemahkan, apakah ia senang atau kesal, atau apa. Namun tiba-tiba ia bangkit dan memelukku. Aku sama sekali tak menyangkanya, dan kubalas pelukan itu dengan erat.
“Maafkan Gadis, Yah. Gadis enggak tahu terima kasih,” bisikku lirih.
“Enggak apa-apa,” jawabnya lembut. Aku sangat bersyukur karena ayah menunjukkan reaksi seperti yang kuharapkan. Kulirik bunda. Wajahnya beku, ia bahkan tak memandangku. Aku menarik nafas panjang sembari berusaha meruntuhkan sisa-sia gengsi dan egoisku.
“Bunda,” panggilku. Ia tak bergeming. Kutundukkan kepalaku, sedikit menyesal akan sikapku padanya ketika memutuskan pergi dulu. Bunda mengangkat wajahnya, dan tatapan kami bertemu. Aku kaget mendapati matanya telah sembab.
“Bun, sori, Gadis...” belum kuselesaikan kalimatku, namun bunda memotongnya cepat.
“Kamu, ya...” hardiknya, tampak kesal. Aku pasrah menerima kemarahan ibu. “Kamu memang juara membuat ibu marah, kesal, sedih, juga...kangen!”
“Maafin Gadis, Bu,” ucapku pelan. Aku dan ibu berpelukan sambil menangis sesenggukan. Aku tak menyangka ibu demikian merasa kehilangan. Aku benar-benar merasa bodoh dan tak berarti.
“Kamu jangan pernah mengulanginya lagi, atau bunda takkan memaafkanmu.” Aku mengangguk. Ada yang lega di sudut hatiku dan semua kecemasanku berakhir sudah. Setelah bunda melepaskan pelukan dan sedikit lebih tenang, aku baru sadar telah mengabaikan Joe. Dengan gerakan kepala aku mengisyaratkan Joe untuk mendekat.
“Joe, kamu juga di sini?” tanya ayah begitu melihat Joe. “Dia pernah beberapa kali datang ke rumah sejak kamu pergi. Dia nanyain kamu terus. Bik Sumi yang cerita....” ujar ayah tiba-tiba, membuat Joe menunduk, menyembunyikan wajahnya. Mungkin ia malu karena kelakuannya dibongkar ayah tepat di depanku.
“Aduh, ini semua pada kenapa sih? Rangga nggak sabar mau makan bebek,” celetukan polos Rangga mencairkan suasana.
“Tenang saja. Bebeknya nggak akan terbang, kok,” sahut Joe mencoba lucu. Ia berhasil karena kini kami tertawa. Oh, aku melupakan sesuatu. Kudekati Rangga dan tanpa ia sangka-sangka, aku memeluknya.
Happy birthday, ya, sayang...” ucapku. Kucubit pipinya sebelum menciumnya. Joe juga mengikuti apa yang kulakukan. Rangga tampak malu-malu, namun ia tersenyum lebar. Kami duduk bersama dengan nuansa penuh kehangatan. Waitress datang dengan nampan penuh makanan karena ayah memesan lagi untukku dan untuk Joe. Aku tertawa melihat Rangga hampir meneteskan air liur ketika melihat makanan yang berlimpah itu.
Rangga terlihat sangat rakus dan kini ia asyik dengan bebek keduanya. Aku takjub. Setahun berpisah dengannya, sepertinya ia telah tumbuh dengan perut yang lebih besar dan elastis hingga mampu menampung banyak makanan. Tapi tak apalah, hari ini ia ulang tahun, biar saja ia makan sebanyak ia mau. Dan kuakui, hidangan bebek ini memang sungguh istimewa, hanya saja aku malu untuk minta tambah.
***
Pagi ini sungguh indah, dan ini pagi terbaik dalam hidupku. Aku berjalan beriringan dengan Joe menuju pantai Nusa Dua. Ups, ada Rangga juga. Ia memaksa ikut dengan kami, sementara ayah dan bunda masih terlelap karena semalaman kami begadang untuk bercerita dan melepas kangen. Aku juga kembali menerima omelan-omelan bunda karena aku tak seharusnya bersikap sesukaku sendiri. Namun tak masalah, aku memang pantas menerimanya.
Joe menggenggam tanganku, sementara Rangga berjalan di depan kami sambil asyik berceloteh sendiri, mengomentari apa saja yang dilihatnya.
“Aku senang kamu sudah pulang. Semoga kamu tidak akan pergi lagi.”
Kupandang mata Joe. Aku tak mau berpikir berlebihan, namun rasanya ada yang beda dengan tatapannya itu, tidak sama seperti kemarin. Temanku sejak kecil ini tersenyum manis, membuatku terhipnotis untuk tersenyum pula.
“Aku sayang kamu,” bisiknya di telingaku. “Aku akan sangat bahagia kalau kamu mau tinggal di sini,” tambahnya lagi sambil menempatkan tangan kananku di dadanya,”selamanya...”
Aku baru sadar kalau ternyata sumber bahagia Joe adalah aku. Aku tersenyum dan memandang jauh ke depan. Hatiku mengangguk mendahului kepalaku, lalu berbisik, inilah sebenarnya kebahagiaan yang kucari, semua terasa lengkap kini. I’m back home for this true happines.



Sabtu, 08 Februari 2014

Senandung Sinabung

sumber : google




geliatmu memaksa waktu bercengkerama dengan ketidakpastian
tidur panjangmu berujung sudah,
namun merangkai mimpi buruk di malam-malam sepi
membangun ketakutan di wajah-wajah kecil nan polos
letusanmu mencipta derap dan ratap

wajah desa memutih, kelabu
rumah-rumah menjadi yatim piatu, ayah ibu pergi menjaga jarak
hampar hijau kau gersangkan
harapan meranggas
beribu-ribu hati terlunta, mengiba
tangis mengalun dari bibir-bibir menggigil

bisakah sudahi semua ini?
adakah segalanya bisa mereda, kembali seperti sediakala?
cukup,
sudah cukup

 jiwa-jiwa yang lelah ingin pulang, kembali memeluk kakimu

Selasa, 28 Januari 2014

Suatu Sore Di Beranda Kos

bersama gerimis yang mekar sore ini
aku teringat padamu

kutitip rintik rindu pada ayunan angin
semoga ia melayang ke arah yang tepat,
tidak tersesat

hingga dapat mendarat lembut di ujung
payungmu

Rabu, 22 Januari 2014

Hello....Hello...

Hello (again) my blog :)
Just wanna share some photos.
I take all this photos by my self, and from my field. Sebenarnya foto ini saya ambil berbulan-bulan lalu, tapi baru kali ini kepikiran untuk mempostingkannya di sini.


Saya berasal dari keluarga petani, maka sebagian besar foto-foto yang saya pajang di sini bertemakan ladang keluarga kami. Enjoy, everybody... :)




see you...!


Minggu, 16 Juni 2013

Wisata Budaya Di Kota Berastagi

Salah satu gereja inkulturasi yang berlokasi di dekat bukit kubu, Berastagi.
 Ada setitik haru ketika melihat bangunan gereja bergaya tradisional ini berdiri ditengah maraknya bangunan bergaya modern. Ada sedikit malu, karena bertahun-tahun sudah gereja ini berdiri, tapi baru tahun ini aku mengunjunginya. Ada sedikit rasa miris karena yang melestarikan budaya Karo ini bukan orang Karo asli, melainkan seorang asing yang kini berwarga negara Indonesia dan bertekad melestarikan budaya karo melalui bangunan gereja. Ada sedikit kecewa karena gereja yang bergaya tradisional ini merupakan gereja Katolik, bukan gereja GBKP yang notabene adalah gereja suku Karo asli.

Ini adalah suatu sore yang cukup mengasyikkan, ketika aku, adik dan sepupu beserta keponakan sepakat untuk berjalan-jalan di kota Berastagi tercinta, setelah sekian lama tidak bertemu. Sebenarnya ini tidak direncanakan, tapi ternyata kaki membawa kami melangkah mengunjungi tempat-tempat yang sungguh berarti.

Perjalanan ini mungkin kurang menarik bagi sebagian orang, ketika jalan-jalan ke mall atau pusat-pusat wisata modern lebih menyedot perhatian. Tapi ini adalah sebuah moment yang takkan pernah kulupa, sebuah perjalanan yang menuntun kami untuk mengetahui tentang budaya dan adat dari suku kami sendiri.


Pajak Buah Berastagi
 Adalah sebuah pasar wisata yang menyediakan beragam souvenir, buah, sayur, bunga, hewan peliharaan yang juga cocok dijadikan oleh-oleh, seperti hamster, anak anjing, kelinci dan sebagainya. Bila berkunjung ke tanah karo, takkan afdol bila melewatkan kesempatan jalan-jalan di pajak buah Berastagi. A little promote. :)
Museum Pusaka Karo. Pose bersama manekin yang mengenakan pakaian adat suku Karo.

Sungguh, warisan budaya yang berharga dan membanggakan. Semoga semua ini takkan lekang di telan waktu. Aku bangga masih punya kesempatan untuk melihat dan mengetahui semua ini.

Senin, 27 Mei 2013

Life Is A Choice


Sewaktu SMA, aku satu sekolah dengan seorang tetanggaku (cowok), dan sebenarnya kami masih bertalian keluarga, tapi akan sangat rumit bagaimana menjelaskannya. Intinya, kami masih ada hubungan saudara. Begitulah.

Dulu semasa SMA, aku selalu direpotkan olehnya. Bukan karena ia selalu menyontek padaku, atau suka meminjam uang atau sebagainya. Aku repot karena harus selalu mengantarkan surat peringatan atau surat panggilan untuk orang tuanya dari sekolah.

Ia anak bungsu dan entah kenapa, imej bahwa anak bungsu pasti manja dan selalu membuat masalah amat melekat padanya. Aku tak begitu mengerti apa masalahnya, karena aku tak pernah tertarik membaca surat itu.

Kadang yang menerima surat itu ibunya, ayahnya, kakaknya, abangnya, pokoknya semua anggota keluarganya pernah kutemui ketika menyampaikan surat itu. Dan untuk setiap surat yang datang, yang pergi ke sekolah memenuhi panggilan itu pun berbeda-beda.

Untung ketika naik kelas 3, aku berhenti total menjabat sebagai pengantar surat. LOL. Ketika itu aku berpikir, mungkin dia sudah bertobat dan serius belajar karena kami akan menghadapi ujian akhir.

***

Suatu sore, aku pulang kampung karena setelah tamat SMA, aku melanjutkan kuliah di kota Medan. Begitu memasuki rumah, aku mendapati sebuah surat undangan pernikahan di atas meja makan. Iseng-iseng, aku membacanya karena penasaran kerabat mana yang akan menikah.

Dan betapa terkejutnya bahwa nama mempelai yang tertera di sana adalah si tetangga temanku satu sekolah yang suka membuat masalah.

Tidak mengherankan juga ia akan menikah secepat ini. Dulu ia selalu bergonta-ganti pacar, suka mojok di sana sini, bahkan suatu kali aku memergokinya sedang kissing di salah satu sudut sekolah. Nama pasangannya juga kukenal baik. Mereka dulu sekelas dan ternyata perempuan itu yang menjadi kekasih terakhir si tetangga. Dari sepupunya si tetangga aku tahu bahwa dia MBA, married by accident. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku menanyakan kepada sepupunya itu, kenapa si kawan tersebut bisa berkelakuan seperti itu. Apa ia tidak khawatir dengan masa depannya sampai, maaf, menghamili anak orang? Apa ia tidak ingin kuliah? Akan jadi apa kalau hanya tamatan SMA?

Dan jawabannya sungguh membuatku melongo. Ia memang tidak ada niat kuliah. Kuliah atau tidak, akan sama saja baginya. Ia mencontohkan abang dan kakaknya yang rata-rata sarjana, tapi tetap tidak meningkat karirnya. Hidup mereka juga begitu-begitu saja. Bahkan abangnya yang telah menikah, masih suka meminjam uang atau beras ke rumah orang tua mereka. Jadi, buat apa kuliah? Katanya begitu. Lebih enak langsung terjun ke dalam ‘hidup’ yang sesungguhnya, memulai perjuangan.

Menurutku, pikirannya sangat simpel, terbatas, dan tidak maju.

***

Dua tahun berlalu sejak itu, aku mendengar lagi cerita tentangnya dari sepupunya sendiri.

Si kawan tersebut sekarang punya anak, perempuan kalau tidak salah. Aku sempat bergidik, membayangkan aku di usia sekarang mempunyai anak. Sungguh aku belum siap. Sedangkan si kawan itu, sudah punya keluarga. Mereka tinggal di kampung asal istrinya dan bekerja sebagai petani. Dia sangat menyayangi putrinya, juga istrinya. Ia bahkan rela tidak membeli rokok, tidak membeli pakaian baru, tidak makan mewah, demi membeli susu putrinya.

Dan sekarang, ia sedang mempersiapkan pembangunan rumahnya. Meski tidak terlalu besar, paling tidak rumah itu milik mereka sendiri, katanya. Gila...! Ini benar-benar gila. Ia baru menikah 2 tahun, dengan profesi petani, sudah punya anak pula, bagaimana bisa membangun rumah secepat itu? Rasanya hampir mustahil bagiku.

Tapi memang tidak ada yang tau arti dari apa yang telah tergores di telapak tangan, dan apa yang telah digariskan Tuhan. Bisa jadi hasil ladangnya melimpah, berkat usaha keras dan kegigihannya. Rejeki bisa mengalir dari mana saja.

Salut. Aku benar-benar salut mendengarnya.

Mungkin dulu orang tuanya suka dongkol melihat kelakuan si bungsu itu, keluarga besar kesal karena tingkahnya. Tapi bisa kupastikan kalau si kawan yang dulu badung itu sekarang cukup membanggakan.

***

Mendengar kisah si kawan itu, aku tiba-tiba merasa kalah. Aku merasa kalah bukan karena ia telah menikah, telah punya keluarga dan anak sementara aku belum. Aku merasa kalah karena ia lebih dulu berhasil mewujudkan impiannya. Misi hidupnya sejauh ini berhasil, meski cita-citanya sangat sederhana. Paling tidak itu baik untuknya dan membuat hidupnya lebih berkualitas serta berarti. Sementara aku masih sibuk ini itu, masih sibuk dengan pergaulan yang kadang sebenarnya kurang penting, sibuk kuliah demi satu cita, dan masih suka membuang waktu.

Hidup ini adalah pilihan, kan? Pilihan yang bebas dengan konsekuensinya masing-masing. Si kawan itu telah menentukan pilihannya sendiri, dan ia menjalaninya, menikmatinya.

Dan untuk kamu, siapapun itu, tentukanlah pilihan yang tepat, dan selamat menjalaninya... :)

Minggu, 12 Mei 2013

About The Death


Sore tadi, aku iseng membuka facebook. Dan status pertama yang muncul sangat mengejutkanku. Seorang teman lama menuliskan status yang membuatku terhenyak dan seketika waktu seakan berhenti berjalan, dunia berhenti berputar. Si teman menuliskan status ‘turut berbela sungkawa atas kepergian seorang kawan lama untuk selama-lamanya.’

Berbekal penasaran, aku akhirnya menelusuri sasaran status si teman itu. Usut punya usut, akhirnya aku menemukan jawaban. Seorang teman sekelasku sewaktu kelas dua SMA (sekitar lima tahun lalu) telah meninggal karena kecelakaan.

Aku duduk mematung di atas kursi, tak bergerak. Memori ingatan memutar ke belakang, mengunjungi laman kenangan ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu. Si kawan ini (cowok) adalah salah satu teman baikku ketika kami sekelas di 2 IPA II di satu SMA swasta di Kabanjahe sana, meski hubungan kami bukan termasuk kategori  best friend.

Ia orang yang ramah, setidaknya itu kesan yang kudapat ketika setahun berada dalam kelas yang sama dengannya. Konyol, juga lucu. Ketika kelas kami mengadakan perpisahan dengan naik gunung Sibayak, ia selalu ngocol membuat perjalanan tak terlalu boring. Aku bahkan masih menyimpan foto-foto kenangan ketika kami ramai-ramai berpose di tengah jalan yang menanjak, dan ada dia juga.

Ketika naik ke tingkat selanjutnya, kami berpisah, tapi bukan berarti hubungan pertemanan itu terputus sama sekali.  Tak pernah ada rasa canggung atau sungkan untuk bertegur sapa, juga sesekali melempar joke.

Keramahannya membuatnya punya banyak teman, sahabatnya bertebaran di sana sini. Ketika seragam putih abu berganti, jalinan pertemanan itu tak pernah putus. Banyak di antara kami yang melanjutkan kuliah di Medan. Beberapa kali aku bertemu dengannya, dan keramahannya tak berkurang. Itu adalah nilai plusnya dia, membuat banyak sekali orang yang merasa kehilangan ketika terdengar kabar ia meninggal dunia.

Wall facebooknya dipenuhi kalimat duka, bahkan tak sedikit teman, baik cowok atau cewek yang tak segan menumpahkan tangisnya di sana lewat kata-kata. Kalimat-kalimat itu membuatku haru. Semuanya merasa sangat kehilangan atas kepergian seorang sahabat yang sangat baik.

Bukan satu dua kali aku mendengar lontaran kalimat ‘kenapa orang baik sangat cepat dipanggil Tuhan?’, tapi cukup sering. Memang bukan ‘label baik’ yang menentukan cepat atau tidaknya seseorang berpulang, tapi karena waktunya memang sudah tiba, tidak peduli semasa hidupnya seseorang itu bersifat baik atau tidak. Dan kalimat itu mungkin tercipta karena banyak orang menyayangkan seseorang yang baik harus terhenti waktunya di usia muda.

Sempat aku bergidik menerima kenyataan ini, bahwa setiap orang, siapapun itu bisa dipanggil sang Khalik kapan saja. Terlebih lagi si kawan ini seumuran denganku. Aku membayangkan ia yang juga sepertiku. Ia sedang mengejar pendidikan, mewujudkan impian dan cita-citanya. Mungkin ia ingin membahagiakan orang tuanya, dan kelak bermimpi akan bersanding dengan seorang perempuan yang dicintainya. Tapi, sebelum semua itu terwujud, waktu untuknya terhenti.
                                                                        ***
Beberapa minggu lalu, Indonesia juga kehilangan seseorang yang cukup berpengaruh, ialah Ustad Jefri. Meski aku seorang kristiani, bukan berarti aku tidak mengenalnya. Ia adalah satu-satunya ustad yang menjadi idolaku, tidak salah kan?

Pagi itu aku terkaget-kaget ketika menonton sebuah acara gosip di televisi. Dikabarkan Uje telah meninggal pagi buta tadi karena kecelakaan motor. Aku mengernyitkan kening, sedikit tidak percaya. Tapi acara yang ditonton seantero Indonesia ini tidak mungkin menyebarkan berita bohong kan?

Kabar itu benar. Kenapa? Kenapa? Itu kata tanya yang melompat-lompat dalam benakku. Aku tidak mempertanyakan kenapa ia sampai bisa kecelakaan begitu, tapi kenapa Tuhan mengambilnya begitu cepat? Kecelakaan itu hanyalah sebentuk media atau cara yang harus dilaluinya dalam perjalanannya menuju alam sana.

‘Dia orang baik’. Semua orang mengatakan hal itu. Aku juga meyakininya, meski aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya, hanya sesekali aku iseng mendengar dakwah-dakwahnya di televisi.

Aku tidak menyalahkan kehendak Tuhan karena semua hal yang terjadi atau akan terjadi atas ciptaan-Nya adalah hak-Nya, tapi aku sangat menyayangkan kepergian Uje yang sangat cepat dan mendadak ini. Keluarganya masih sangat membutuhkannya. Anaknya masih kecil-kecil dan sangat membutuhkan bimbingan seorang ayah sebaik Uje.  Orang banyak juga masih sangat ingin mendengar dakwahnya. Uje sendiri pun pasti masih memiliki banyak impian dan cita-cita yang belum tercapai, tapi siapapun pasti tidak bisa mengingkari kematian.

Aku merasa sangat haru ketika mengikuti kabar pemakaman Uje. Karena kebaikannya, ia begitu diagungkan. Belum pernah aku melihat artis, atau siapapun yang memiliki nama besar, diiringi oleh massa yang begitu banyak ketika menuju tempat peristirahatan yang terakhir. Uje adalah satu-satunya. Setiap orang punya alasan tersendiri dalam hati, yang membuat nuraninya tergerak untuk turut mengiringi Uje. Bahkan hingga tujuh hari sejak kepergiannya, makamnya masih terus dibanjiri bunga dan doa dari pejiarah yang masih terus datang berkunjung.

Uje telah meninggalkan pengaruh besar yang sangat baik, juga pengingat yang manis bagi banyak orang.

Ah, sebuah pemahaman kecil muncul dalam benakku. Setiap orang punya satu kali kesempatan, punya satu waktu dalam hidup, sebelum hidup itu menemukan titik akhir. Dan satu kesempatan itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan hal utama yang harus dikejar adalah berbuat kebaikan. Ketika kematian datang menjemput, kenangan yang baik itulah yang akan menjadi pengingat bagi orang lain tentang kita. 

Tuhan pasti punya alasan kenapa ia memanggil seseorang itu begitu cepat. Rancangannya jelas lebih sempurna dari rancangan manusia kan?

Untuk kawan lamaku, dan juga Uje, selamat jalan....