Senin, 24 Oktober 2016

Jejak Kewarasan [Medan Bisnis, 23 Oktober 2016]

Barangkali cerita seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Atau, bisa jadi juga tak pernah kita temui karena kurangnya atensi terhadap kehidupan sekitar. Cerpen berikut ini barangkali sesuatu yang sederhana, namun saya berharap dapat menghibur. Syukur-syukur ada sesuatu yang bisa dipetik darinya. 
........

“Rin, lihat!” bisikku pada Airin sambil memperlihatkan secarik kertas yang diam-diam kupungut sewaktu angin menerbangkannya dari meja lelaki itu.
“Kenapa?” Airin melongok sekilas, lalu mengalihkan lagi perhatiannya pada ponsel yang sejak tadi diutak-atiknya. Wajar saja Airin tidak tertarik. Deretan angka dan berbagai simbol operasi aritmatika yang tertulis di kertas ini tak ada sangkut pautnya dengan jurusan yang kami geluti; sastra.
“Rin, kertas ini dari dia...” diam-diam kutunjuk lelaki yang masih tertunduk itu, asyik dengan kertas-kertasnya.
“Orang gila itu?” Airin tampak tak percaya. “Nggak mungkin! Itu pasti kertas coretan mahasiswa. Kan, banyak yang ngerjain tugas di sini.”

Berikut link-nya http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2016-10-23/#10/z

Selamat membaca... ^^

Jumat, 14 Oktober 2016

Singgah, Senja


singgah, dan berlalu
pagi telah beku
siang yang sebentar menggebu, lalu bisu

singgah, dan berlalu
hari-hari yang rancak
biar ingatanmu berkecipak
dalam kenangan menggenang

telah berlalu
sederet angka pada almanak usia
 
sebelum senja menua
mengepaklah lagi
hari-hari tak akan datang kembali; barangkali

Medan, 2016

suatu petang berawan
usai mendengar burung-burung bernyanyi

Rabu, 12 Oktober 2016

SENANDUNG TERAKHIR [Cerpen]


Sebenarnya cerpen ini pernah diikutkan LOMBA MENULIS CERPEN HUTAN DAN LINGKUNGAN Perhutani Green Pen Award 2016, namun ternyata tidak menang. Akhirnya berakhir di sini, sekedar untuk diabadikan juga untuk dinikmati bila ada yang berniat membaca. Well, here the story. Bila ada yang ingin menyampaikan kritik, saya tunggu, ya. Selamat membaca....

SENANDUNG TERAKHIR 
Oleh Dian Nangin


Rasanya baru kemarin kau mengamati dan menghitung ruas-ruas baru yang bertambah di tubuhmu. Rasanya baru kemarin ayahmu—yang tubuhnya besar nan gagah itu—bercerita bahwa kau telah lama ditunggunya. Katanya, tiap kali muncul rebung tak jauh dari kakinya tertanam, selalu saja ada yang mengambilnya sebelum sempat tumbuh besar dan bertransformasi menjadi bambu yang elok dan menjulang tinggi.
Cerita itu membuatmu paham mengapa hanya kau berdua saja dengan ayahmu yang berada dalam satu kelompok, sementara bambu lain hidup beberapa batang sekaligus dalam satu rumpun. Itu karena bakal bambu sebelumnya tak punya kesempatan untuk tumbuh, seperti yang ayahmu katakan.
Rasanya baru kemarin kau membangun persahabatan dengan para burung yang aktif berkicau, meramaikan siangmu. Juga dengan para serangga malam yang setia dengan orkestranya. Menidurkan para burung yang meringkuk dalam sarang, kelelahan telah bersenandung sepanjang siang.

Jumat, 16 September 2016

CARA(KU) MENULIS CERPEN

Beragam cara penulis fiksi untuk menuliskan sebuah cerita. Cara tersebut bervariasi, tergantung kenyamanan atau kebiasaan penulis itu sendiri. Suatu cara yang berhasil dilakukan oleh satu penulis, bisa jadi tidak cocok diterapkan oleh penulis lain. Dari kebanyakan artikel yang pernah kubaca, ada yang menyarankan membuat outline terlebih dahulu. Ada yang bergantung pada judul. Ada yang merasa lebih mudah memulai dari ending, atau sebaliknya.

Di sebuah milis aku pernah menemukan penulis (atau mungkin masin calon penulis) yang menanyakan bagaimana mengolah ide yang bertumpuk di kepala? Kadang ada beberapa inspirasi menyerbu sekaligus, membuat tangan kewalahan menulis atau mengetikkannya. Belum selesai yang satu, muncul pula ide lain yang menuntut untuk dikembangkan. Pada akhirnya, tak ada satupun yang rampung. 

Bila hal itu terjadi, aku tetap menuliskannya terlebih dahulu. Seringkali hanya garis-garis besarnya untuk dikembangkan nanti atau kapanpun, setidaknya ide itu meninggalkan jejaknya di file yang bertebaran di laptop atau berupa catatan-catatan di notes. Lalu kemudian di suatu waktu aku membacanya kembali, memilah dan mendalami kira-kira mana yang paling menarik untuk dijadikan cerpen 'sungguhan'. Kadang, bisa jadi pula sebuah ide dikembangkan menjadi beberapa cerita dengan penuturan berbeda. Aku sering melakukan ini karena cukup manjur untuk melatih gaya menulis dan cara mengembangkan imajinasi.

Bukankah ada pepatah yang mengatakan practice makes perfect?


Kalau caraku menulis cerita? Ibarat bermain puzzle! Aku kadang memulai sebuah cerpen karena ada sepotong kalimat unik yang menyambar kepala dan rasanya cocok jadi judul cerita. Seringkali potongan kejadian yang akan kumasukkan ke dalam cerita bisa bersumber dari peristiwa berbeda namun terdapat kemiripan di dalamnya. Kadang, dalam satu kali duduk aku hanya bisa menuliskan dua paragraf terakhir. Kadang hanya seulas klimaks tanpa terlebih dahulu menemukan awal dan akhir cerita. Bisa jadi juga menyelesaikan satu cerita, utuh, sempurna secara EYD dan sebagainya, namun tak kunjung menemukan judul yang cocok. Yang gereget!

Pernah suatu kali aku seharian mengutak-atik dua kalimat pembuka sebuah cerpen. Tapi tak juga berhasil, rasanya ada yang belum pas. Sekilas baca sebenarnya aku merasa cerpen ini selesai, namun aku terus menunda pengirimannya ke media. Lalu (ini pengalaman pribadi) aku pergi keluar. Menyesap secangkir kopi di sebuah kafe. Kemudian lalu lalang berjam-jam di toko buku, membaca ini itu tanpa berniat membeli. Hari jelang sore. Kusempatkan singgah di perpustakaan kota. Itu pun karena letaknya dekat dengan toko buku. Memanfaatkan satu jam terakhir sebelum perpustakaan tutup untuk browsing karena aku terbiasa membawa komputer jinjing kemanapun.

Dan akhirnya, di ujung perjalananku hari itu, ketika duduk melepas lelah di bangku perpus yang dingin, sebuah kalimat melintas cepat di benak. Sekejap saja. Bahkan saat itu aku sedang berselancar di dunia maya. Sejenak aku menyadari, sebenarnya apapun yang kulakukan dan kemanapun aku melangkah hari itu, benakku selalu dibayang-bayangi tulisan yang belum rampung tersebut. Ada pergulatan (agak berlebihan, yak!) dalam pikiran yang terjadi diluar kesadaran.

Tak ingin kehilangan momentum, cepat kubuka file cerpen yang terbengkalai. Menghapus kalimat pembuka yang menurutku kurang 'nendang' itu. Menggantinya dengan sebaris kalimat yang baru saja singgah di kepala. Selanjutnya kubuka Yahoo, tulis pesan baru, ketik alamat email tujuan, mengisi judul, kalimat pengantar, attach file, dan kirim. Selang beberapa minggu kemudian cerpen tersebut terbit! 

Demikian.

Sekian.

Kamis, 08 September 2016

RERANTING


Sekali waktu kau mungkin mati
Gugur helaimu oleh angin dibawa pergi

Tapi tak usah berlara hati
Embun tetap setia mendekapmu di pagi buta
Kecup basahnya lalu tinggal sebagai tanda cinta

Kuatlah kala matahari menguji
Apa kau akan merapuh
Atau malah tumbuh; makin kukuh

Sebab musim mungkin menghidupkanmu kembali
Enyah segala ranggas
Memucuk lalu tunas
Ditingkahi deru nafas

Siosar, Agustus 2016

Selasa, 06 September 2016

Ajal Yang Tertukar (Medan Bisnis, 04 September 2016)

Hello, September!
Merasa familiar dengan judul cerpen ini? Mungkin sering terdengar sebagai judul sinetron, atau mungkin film, namun (tentu) bukan tentang ajal.

Banyak orang enggan atau bahkan sangat ingin menghindar dari pembicaraan tentang kematian. Tapi, bagaimanapun kematian itu adalah bagian dari tiap pribadi, bukan? Tiap langkah atau tiap pertambahan umur sebenarnya mengantarkan kita lebih dekat dengan kematian.

Sejenak, lupakan rasa enggan dan silahkan nikmati cerpen ini :)
....
Sejak aku memasuki ruangan ini, aroma kematian tercium kental. Begitu pekat. Seolah tiap-tiap nafas telah berada di ambang batas. Seakan tarikan nafas mereka beberapa menit ke depan bisa jadi yang terakhir.
......
.....
"Mari pergi," ajakku.  Tanpa perlu meminta dua kali, ia langsung menyambut uluran tanganku. Bergandengan, kami melangkah melintasi ruang dan waktu. Meninggalkan suaminya yang mendadak tersadar, kemudian meraung dan mengguncang tubuh istrinya yang sudah tak bergerak. Menciptakan kehebohan yang lebih besar ketimbang yang terjadi sebelumnya.

Klik link berikut untuk membaca 'Ajal Yang Tertukar' secara lengkap: http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2016-09-04/files/assets/basic-html/index.html#10

Selamat membaca....

Rabu, 31 Agustus 2016

IBU BUMI (Sumut Pos, 28 Agustus 2016)

HOLA!
 
Tak ada yang lebih membahagiakan bagi penulis selain ketika karya-karyanya terbit. Layaknya seorang ibu yang tengah mengandung menapaki hari penuh debar hingga akhirnya sang bayi lahir. Atau, umpama petani yang akhirnya tiba saat panen setelah penantian panjang. 

Dan kemudian, penulis berharap karyanya dapat diterima, dinikmati, memberi manfaat, atau setidaknya dapat menghibur. Layaknya sang ibu yang berharap si bayi tumbuh sehat dan cerdas. Atau si petani yang berharap panen akan melimpah dan bernilai tinggi.

Oke, oke, cukup dengan pengumpamaan-pengumpamaan itu. Now, let me give you some glimpse about this short story.
......
"Apa yang tumbuh dari rahim bumi selalu baik. Kita, orang-orang desa ini, hidup dari bumi. Dan itu sudah lebih dari cukup. Mereka, orang-orang kota, hidup dari hutan-hutan beton. Tak cocok untuk kita yang terbiasa dengan hutan bersemak dan berpohon tinggi," demikian Emak berfilosofi.
Nur pun sesungguhnya ingin menjadi sosok bumi yang seperti diumpamakan ibunya dulu. Bumi yang memberikan segalanya, semua yang terbaik. Dari rahimnya bermula kehidupan. Kedua pucuk susunya menjaga kelangsungan hidup. Ia sesungguhnya rela berpeluh-peluh demi semua tuntutan kebutuhan. Tapi semua itu kini hanyalah sebentuk keinginan yang terpasung.
......
Silahkan klik link berikut untuk membaca versi lengkap cerpen ini : http://www.langgamsp.com/2016/08/28/6778/cerpen-dian-nangin-2/

Selamat membaca
Salam hangat...