Selasa, 08 Mei 2018

Senyum Sehangat Senja [Cerpen Harian Waspada, Minggu 06 Mei 2018]

Ilustrasi Harian Waspada
SENYUM SEHANGAT SENJA
Oleh Dian Nangin
~untuk bapak, untuk mamak
            Sengaja aku menunggu di persimpangan jalan. Aku ingat pada jam seperti ini, mereka akan muncul di belokan itu, tak jauh dari tempatku menunggu. Aku suka pemandangan yang sederhana ini; sepasang manusia berusia senja melangkah bersisian sambil bergandengan tangan. Si lelaki akan memegang cangkul di tangannya yang lain, dan perempuannya akan menenteng sebuah keranjang anyaman berisi rantang dan botol air yang sudah kosong. Langkah mereka pelan. Sepanjang hari mereka mengisi waktu dengan bekerja di ladang, mengandalkan sisa-sisa tenaga yang tak seberapa. Sesungguhnya uang pensiun masih cukup untuk berdua, namun  berdiam dan hanya tinggal di rumah akan membuat mereka bosan dan sakit kepala.
            Hari ini aku pulang. Anak-anak di perantauan selalu ingin pulang. Dan, ayah ibu adalah tempat untuk pulang. Kadang tanpa alasan khusus, bukan pula karena ada momen istimewa. Hanya karena ada ketukan ambigu dari dalam hati yang kemudian kutemukan namanya; rindu.

Sabtu, 05 Mei 2018

YANG TAK AKAN LAGI SAMA

Things change
People change
Feelings change

dok. pribadi
Saya beserta tiga saudara lainnya lahir dari rahim seorang perempuan petani, perempuan yang sejak  belia hingga jelang usia senjanya terus berkutat di ladang. Sudah pasti kami tidak bisa menghindar dari alam. Walau memiliki ayah yang bekerja sebagai tenaga medis dan sewaktu kecil kami sering bermain dokter-dokteran sambil mengalungkan stetoskopnya di leher, namun tetap saja ladang menjadi arena bermain nomor satu. Di sana kami bermain masak-masakan, membuat rumah-rumahan di atas pohon, menyembunyikan diri di semak-semak ketika sedang merajuk, menariki cacing dari dalam tanah, hingga membedah katak-katak tak berdosa.
dok. pribadi
Walau kini anak-anak petani ini sudah tumbuh dewasa, memelihara cita-cita yang berbeda-beda, dan hijrah ke kota, ladang tetap menjadi bagian diri yang tak terlupakan. Saat kami pulang kampung, tubuh kembali mengakrabi tanah. Tak peduli pendidikan atau aktivitas yang digeluti di kota tak ada sangkut pautnya, namun darah dan naluri bertani mengalir dalam nadi. Tangan kembali cekatan berkotor-kotor membersihkan gulma dari batang-batang kol, memanen kentang, atau menabur pupuk pada tanaman-tanaman lain. 

Senin, 30 April 2018

TEH DAN KOPI [Cerpen Remaja Analisa, Minggu, 29 April 2018]

Ilustrasi Harian Analisa

TEH DAN KOPI
Oleh Dian Nangin
Ini kali pertama aku berkunjung lagi ke desa ini setelah dua tahun lalu aku pulang ke kota. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan keluar rumah. Papa dan Mama masih terlelap. Setelah meninggalkan pesan singkat, aku pergi menuju kebun kopi Wilsen. Sepanjang jalan aku menghirup udara segar dalam-dalam. Aku suka bau rerumputan yang basah oleh embun di pagi hari, salah satu kenikmatan alam yang sulit kutemukan di kota.
Teringat Wilsen, serta merta pula muncul nama Juna. Dan, bila nama mereka berdua telah keluar dari kotak ingatanku, turut mencuat sebuah janji yang mereka pinta dariku. Waktu itu, sehari sebelum aku kembali ke kota, mereka mengutarakan isi hati mereka padaku. Baru kali itu aku menghadapi dilema, tak dapat memutuskan dengan mudah. Wilsen dan Juna, dua teman laki-laki yang telah memberiku kenangan indah di tempat yang awalnya dulu tak kusukai ini.

Sabtu, 21 April 2018

KE(SOK)SIBUKAN YANG LAIN

If you can't figure out your purpose, figure out your passion. For your passion will lead you right into your purpose 💪

dok. pribadi
Selain kesibukan saya membaca, menulis, sesekali ngeblog, (tak tahu apakah ini bisa disebut kesibukan atau tidak ✌) saya juga suka melakukan banyak hal lain. Dua hal  yang sering saya lakukan selain aktivitas di atas adalah baking dan motret. Kalau sudah mengaduk dan mengulen-ngulen adonan, bisa sampai lupa waktu. Kalau kamera sudah di tangan, fokus saya sudah tidak bisa lagi dialihkan ke lain hal. Oh, saya tegaskan, saya bukan fotografer, lho ya! Cuma suka mengutak-atik properti, mengeluarkan ide-ide dalam kepala, lalu dijeprat-jepret. Saya tidak tahu julukan apa tepatnya yang harus diberikan untuk aktivitas ini 👱

dok. pribadi

Senin, 16 April 2018

SQUAD BOOKISH MEDAN

bookish: penggemar baca, kutu buku, kebuku-bukuan (google)

Setelah sekian lama bergelut sendiri dengan hobi baca dan mengoleksi buku (rumah dan lingkungan saya nggak begitu tertarik dengan hobi saya ini), akhirnya saya bertemu teman satu 'spesies' 😀 Pertemuan ini terjadi setelah saya membuat akun instagram dan memposting buku-buku di sana. Setelah beberapa waktu berasyik masyuk dengan sosmed yang satu itu, saya menemukan banyak hal menyenangkan yang membuat kecintaan terhadap buku-buku dan kegemaran membaca semakin akut. Walau hanya lewat dunia maya, saya bisa bertemu dengan ribuan sesama kutubuku, melihat foto-foto kreatif, membaca ulasan beragam buku, dan sebagainya. Saat itulah saya begitu kegirangan karena telah bertemu teman satu 'spesies'. Lewat akun yang bagi penggemar buku diberi nama bookstagram ini, saya bisa berhubungan, berkenalan, menjalin komunikasi, dan berbagi pengalaman dengan sesama bookish.

Dan, senangnya lagi, akun itu menghubungkan saya dengan sesama bookstagram di satu wilayah. Satu demi satu teman bertambah. Awalnya hanya say hello via kolom komentar atau direct message. Bertukar WA. Berbincang-bincang. Dan, akhirnya meet up

Nah, foto-foto berikut adalah dokumentasi pertemuan dengan sesama bookstagram di wilayah Medan sekitarnya. Dan kami menamai diri BOOKISH MEDAN ✋ 

Nemo 💃 Merdeka Walk Medan
Kak Dita, saya, Nola, Nemo

Senin, 12 Maret 2018

MANFAAT MEMBACA (FIKSI)

I'm a proud reader!

Semua orang pasti sudah pernah mendengar kalimat ini: Buku adalah jendela dunia. Tapi, tetap saja, kita nggak akan bisa melihat keluar kalau jendela itu tidak dibuka, tidak dipelajari dan hanya diacuhkan.
dok.pribadi
Well, nggak usahlah kita membicarakan mafaat membaca dengan menelaahnya secara ilmiah. Berat! (kata Dilan 😃) Cukup yang ringan-ringan saja, seperti manfaat yang kita sadari kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya sendiri (seingat saya) sudah gemar membaca sejak saya mengenal huruf. Apa saja saya baca, segala aksara yang tertera di berbagai media dan tidak hanya buku. Terlebih orang tua saya bukan tipe orang yang menyediakan budget khusus untuk membeli

Selasa, 06 Maret 2018

MEMBUNUH SEORANG PENGARANG [Cerpen Joglosemarnews.com, 05 Maret 2018]

Ilustrasi oleh joglosemarnews.com

MEMBUNUH SEORANG PENGARANG
Oleh Dian Nangin 
Kau tahu, sebagai pengarang, perempuan itu hobi berkeliaran—ia lebih suka menggunakan kata itu ketimbang kata berjalan-jalan. Ia sering mangkir dari pekerjaan, hingga akhirnya dipecat setelah berkali-kali menerima teguran. Alih-alih sedih dan menyesal, ia malah senang. Serupa anak sekolahan yang berbahagia karena diusir keluar kelas oleh salah satu guru killer yang dibenci karena telah membuat keributan kecil. Ia jadi bebas melakukan apapun yang diinginkan.
Maka setelah lepas dari serangkaian riasan wajah yang rumit, sepatu tumit, serta rutinitas kantoran yang ia anggap tak lebih dari jeratan yang menyiksa, ia bisa berada di mana saja. Mungkin suatu kali kau tak sengaja bertemu dengannya di sebuah klub malam, berpakaian nyentrik, menenggak salah satu merek minuman beralkohol dan berjingkrak-jingkrak menikmati dentuman musik seperti orang lupa diri. Esoknya ia telah nongkrong di kampung kumuh tepi sungai, bergaul dengan anak-anak gembel.