*saya baru tahu perihal dimuatnya cerpen ini pada Juli 2019 ๐ฎ๐
![]() |
| ilustrasi oleh Tanjungpinang Pos |
AWAN
DAN OMBAK
Oleh
Dian Nangin
Ada beberapa hal
yang ditakdirkan hanya untuk saling memandang, saling mengagumi. Tumbuh
keinginan untuk memiliki, namun sang takdir menuliskan alur berbeda. Mereka
ada, tidak untuk bersama.
Seperti ombak,
yang sampai kapan pun tak akan pernah merengkuh awan. Terlalu jauh untuk ia gapai.
Sang ombak hanya bisa termangu memandangi awan, putih berarakan bagai sepasukan
malaikat penghuni nirwana. Yang dapat ia lakukan hanyalah cemburu pada langit,
karena si ombak dapat menangkap isyarat kesungguhan
cintanya untuk awan.
Kurang lebih
sama. Helena dengan Agung.
Meski
hubungan itu takkan pernah berjalan seperti yang Helena harapkan, ia tidak akan
‘mengasingkan’ Agung dari hatinya. Dengan dada lapang, ia belajar melepas
sekaligus mengenang. Berharap dengan begitu ia bisa berdamai dengan takdir yang
tidak sepaham dengan keinginannya.
***
Helena dan Agung
berjalan bersisian. Gadis itu melepas sandal dan menentengnya, membiarkan
telapak kakinya bersentuhan langsung dengan pasir.



