![]() |
| ilustrasi oleh Harian Waspada |
MASA
ITU TELAH BERLALU
Oleh
Dian Nangin
Kupikir,
bukan sebuah kebetulan aku mendongak ke langit dan mendapati bulan utuh nan
cemerlang di langit malam ini. Utuh, bukan separuh, bukan pula menyabit. Bulan
tengah melintas di antara celah atap-atap rumah yang cukup rapat, hanya
menyisakan ruang sempit bagiku untuk menyadari keberadaannya. Pun hanya ada
sedikit waktu untuk menikmati keindahannya sebelum ia berlalu. Dan, tak dapat
kubendung semua memori tentangmu yang tiba-tiba mengetuk-ngetuk kepalaku dari
dalam, seakan mereka ingin membebaskan diri.
Kalau ada satu hal yang kubenci, itu adalah mengenangmu. Kau, yang tak
lagi bersamaku. Namun, demi melihat bulan yang cemerlang itu, mau tak mau
apapun yang kusimpan dalam kotak ingatan tentangmu menyeruak keluar.
“Ayo
menikmati cahaya bulan!” katamu malam itu sambil menyeret dua kursi ke teras. Aku
yang sedang merajut dua pasang kaus kaki untuk cucu kembar kita yang akan lahir
hanya mengernyit heran.
“Menikmati
bulan? Kau terdengar seperti pujangga,” olokku. “Itu bukan aktivitas yang lazim
dilakukan oleh pasangan tua macam kita.”
“Bulan
bisa menjadi milik siapa saja.”
Kuletakkan
rajutan setengah jadi itu. Kuikuti langkahmu ke teras. Kutengadahkan kepala dan
bibirku spontan tersenyum mendapati benda langit itu bertengger anggun di atas
sana, seolah sedang memamerkan diri pada kita.







