Selasa, 17 September 2019

Masa Itu Telah Berlalu [Cerpen WASPADA, edisi Minggu, 15 September 2019]

ilustrasi oleh Harian Waspada

MASA ITU TELAH BERLALU
Oleh Dian Nangin

            Kupikir, bukan sebuah kebetulan aku mendongak ke langit dan mendapati bulan utuh nan cemerlang di langit malam ini. Utuh, bukan separuh, bukan pula menyabit. Bulan tengah melintas di antara celah atap-atap rumah yang cukup rapat, hanya menyisakan ruang sempit bagiku untuk menyadari keberadaannya. Pun hanya ada sedikit waktu untuk menikmati keindahannya sebelum ia berlalu. Dan, tak dapat kubendung semua memori tentangmu yang tiba-tiba mengetuk-ngetuk kepalaku dari dalam, seakan mereka ingin membebaskan diri.
            Kalau ada satu hal yang kubenci, itu adalah mengenangmu. Kau, yang tak lagi bersamaku. Namun, demi melihat bulan yang cemerlang itu, mau tak mau apapun yang kusimpan dalam kotak ingatan tentangmu menyeruak keluar.
            “Ayo menikmati cahaya bulan!” katamu malam itu sambil menyeret dua kursi ke teras. Aku yang sedang merajut dua pasang kaus kaki untuk cucu kembar kita yang akan lahir hanya mengernyit heran.
            “Menikmati bulan? Kau terdengar seperti pujangga,” olokku. “Itu bukan aktivitas yang lazim dilakukan oleh pasangan tua macam kita.”
            “Bulan bisa menjadi milik siapa saja.”
            Kuletakkan rajutan setengah jadi itu. Kuikuti langkahmu ke teras. Kutengadahkan kepala dan bibirku spontan tersenyum mendapati benda langit itu bertengger anggun di atas sana, seolah sedang memamerkan diri pada kita.

Minggu, 08 September 2019

Selamat Datang Kembali di Kota Medan, Big Bad Wolf!


Mejuah-juah, Wolfie!
*Sekali-sekali boleh dong ya disapa pakai salam suku Karo 😉

Yuhuuu💃
Big Bad Wolf datang kembali! Sejauh pengalaman saya, BBW ini adalah pesta diskon buku terbesar, koleksi terlengkap, dan paling meriah yang pernah ada. Kunjungan ke Medan kali ini adalah yang kedua kalinya setelah kunjungan pertama pada 2018 lalu. Sejak kabar BBW akan ke Medan lagi mampir di telinga saya, otomatis saya mulai menabung. Tahun lalu saya sudah ikut belanja di BBW, tapi karena masih yang pertama kali, saya belanjanya tak karuan. Saya belum kenal BBW, apa saja yang dijual, hal-hal menarik apa yang ditawarkan, dan lain-lain. Tahun ini, daftar belanja dan keuangan sudah lebih terencana!
(dok.pribadi)
Tahun ini, saya mendapatkan preview pass dari bank BCA yang menjadi partner BBW dan bisa digunakan pada tanggal 4 September. Apa keuntungan bisa masuk BBW pas preview sale? Tiket ini eksklusif, jadi kita bisa belanja dua hari sebelum event ini dibuka untuk umum, yang artinya pengunjungnya belum terlalu ramai, susunan buku di meja masih rapi, stoknya masih banyak, dan lain-lain.

Gubernur Sumut, Eddy Rahmayadi, juga hadir pada pembukaan preview sale BCA (dok. pribadi)

Senin, 19 Agustus 2019

BUTET [Cerpen Harian Analisa, edisi Minggu 18 Agustus 2019]

ilustrasi oleh Analisa/ Renjaya Siahaan

BUTET
Oleh Dian Nangin  
            “Butet,” katanya sambil menggenggam selintas telapak tanganku yang terulur. Sontak mulutku ternganga. Aku menunggu ia menyebutkan nama kedua, ketiga, atau meralatnya dengan nama asli dan menerangkan bahwa Butet hanyalah nama panggilan—yang tetap saja belum akan bisa kupercayai.
            Boru Lumban Tobing,” tambahnya sambil tersenyum. Rautnya menunjukkan bahwa ia sudah sering melihat ekspresi tak percaya seperti yang disuguhkan wajahku.
            Keningku berkerut. Nama itu sangat tidak cocok dengan mata biru dan kulit putihnya. Pun, penampilannya sama sekali tidak merepresentasikan nama yang disandangnya. Akan lebih masuk akal bila ia memperkenalkan diri sebagai Janice, Allicia, Emily, atau nama lain khas perempuan-perempuan benua Amerika. Orang-orang sering bersikap acuh dengan berkata apalah arti sebuah nama, namun kini aku ingin menggugatnya karena benar-benar penasaran akan muasal dan alasan penyematan nama itu pada dirinya.
            “Kau...asli Batak?!” Usai bertanya, aku merutuki diri dalam hati. Pertanyaan bodoh! Dengan sekali pandang, siapapun tahu bahwa perawakannya ia warisi dari orangtua yang jelas-jelas bukan keturunan asli Indonesia.

Minggu, 18 Agustus 2019

A HAPPY ENDING FOR TIMUN MAS (Re-telling Cerita Rakyat)

Diceritakan kembali oleh Dian Nangin

ilustrasi oleh www.penuliscilik.com
“Kabulkanlah permohonan hamba, ya, Allah,” demikian perempuan janda itu mengakhiri doanya. Tak pernah jemu ia memanjatkan doa yang sama tiap malam, betapa ia menginginkan seorang anak. Suaminya telah mati. Mereka tak pernah dikaruniai anak. Si janda tua hidup dalam sepi. Hanya doa yang ia miliki, serta keajaiban yang mustahil namun tetap ia yakini. Ia lalu pergi tidur, berharap esok hari keajaiban akan menghampirinya.
Tapi, tak ada keajaiban kendati ia sudah berdoa semalam suntuk. Hidup harus terus berlanjut. Perempuan janda itu bertani sepanjang hari. Petangnya ia masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ketika sedang mengikat kayu-kayu kering yang berhasil dikumpulkannya, ia melihat bungkusan aneh di bawah pohon besar tak jauh darinya. Bergegas ia membuka bungkusan itu dan kecewalah hatinya. Isinya hanya  biji mentimun, bukan seorang anak seperti yang ia harapkan.
               Kekecewaannya disela langkah-langkah berat yang datang mendekat. Si janda membalikkan badan dan hadir di depannya sesosok raksasa. Raksasa itu tertawa menggema,  menggetarkan tanah dan pepohonan. Janda tersebut mematung. Wajahnya pucat.
            “Jangan takut, perempuan tua! Aku tidak akan menelanmu hidup-hidup,” katanya. “Kau menginginkan seorang anak, bukan?”
            “Y-ya,” jawab perempuan itu tergagap.
            “Tanamlah biji timun itu, maka kau akan memperoleh seorang anak,” ujar sang raksasa sembari menunjuk bungkusan di pangkuan perempuan itu. “Tapi ada syaratnya; kelak anak itu dewasa, kau harus menyerahkannya padaku untuk kumakan.”

Jumat, 26 Juli 2019

UJI NYALI, IKUT KOMPETISI

by Dian Nangin

Entah kenapa, tahun ini saya kerajingan ikut kompetisi. Setelah hampir empat tahun menggeluti dunia fiksi, saya merasa lebih siap dan lebih tertantang untuk mengikuti lomba-lomba kepenulisan. Sebenarnya, beberapa tahun lalu, di awal-awal mulai menulis untuk media massa, saya pernah mengikuti kompetisi menulis cerpen. Namun, saat itu saya masih sangat naif. Saya hanya mengikuti satu kompetisi dalam setahun, hanya mengirim satu karya, yakin menang, mengincar hadiah besar, tanpa pengalaman, tanpa pengetahuan memadai, dan tanpa rekam jejak.
Hasilnya? Mengecewakan, tentu saja. Saya jelas tidak menang. Bahkan masuk top 30  pun tidak. Setelah karya pemenang dirilis, saya segera membandingkan diri. Ternyata cerita saya sangat klise, naskah saya mentah, tidak mengindahkan tata aturan, dsb.

Kini, setelah mencecap banyak pengalaman, saya merasa sudah cukup matang untuk maju ke arena perang 😆. Karya saya sudah mendapat tempat di media massa dan juga media online. Walau demikian, masih banyak pula yang ditolak para Redaktur atau sedang dalam masa tunggu dan telah berbulan-bulan terkatung tanpa konfirmasi. Saya sudah pernah menerima puja-puji, kritik pedas, cibiran remeh, hingga dukungan maksimal. Semua jadi bekal saya untuk mulai berkompetisi. Eh, tapi bukan berarti setiap orang harus mengalami hal yang saya alami baru bisa ikut berkompetisi, ya! Mental dan kesiapan masing-masing orang kan berbeda....

Kamis, 11 Juli 2019

SABDA ANGIN [Cerpen Harian Waspada, edisi Minggu 07 Juli 2019]

ilustrasi oleh Harian Waspada

SABDA ANGIN
Oleh Dian Nangin
Selain ransel besar yang menggantung di punggung, pemandangan para pendaki yang berjalan beriringan jauh di depanku, dan angin yang bertiup semakin kencang, tak ada yang menemani langkahku menaklukkan jalan berbatu nan terjal. Aku sudah terbiasa mendaki gunung sendiri, namun jelas ini terlalu sunyi. Tak ada kekasihku yang bertahun lalu setia menemami.
Tak ada lagi kekasihku yang mencintai bunga-bunga liar. Namun, cinta itu tidak serta merta menjadikannya semacam ahli, yang hafal nama-nama latin setiap bunga serta mengetahui jenis-jenisnya. Ia menyukai bunga liar semata untuk kesenangan pribadi, bisa dikatakan iseng, namun keisengan yang rutin dan konsisten.
            “Bunga liar adalah bunga yang paling tangguh,” begitu dia pernah berkomentar ketika kami mendaki sebuah gunung di Sulawesi. “Apalagi bunga yang bisa tumbuh di atas gunung seperti ini. Tak ada yang menanam dan memelihara, namun mereka tumbuh tak kalah cantik dengan bunga lain yang ditanam di pekarangan, di taman kota, atau di dalam pot yang diletakkan di dalam rumah—tipikal bunga penuh perawatan dan disayang-sayang.”

Selasa, 09 Juli 2019

JANJI BERINGIN [Dimuat di media online NUSANTARANEWS, 4 Maret 2018]

*saya baru mengetahui perihal dimuatnya cerpen ini pada Juli 2019

ilustrasi oleh Nusantara News


JANJI BERINGIN
Oleh Dian Nangin
Cekakak-cekikik sarat keriangan terdengar memenuhi taman itu, amat berbanding terbalik dengan air muka seorang perempuan tua yang menatap sebatang beringin yang juga sudah tua di tepi taman. Kepalanya mendongak, memandang ke ujung batang tempat rerimbunan gelap penuh jalinan kusut akar-akar yang ujungnya jatuh menggantung. Kedua tangannya bertaut di depan perut, seolah sedang berdoa menyampaikan sesuatu, entah pada Tuhan atau si pohon beringin.
“Apa kabar kekasihku? Pernahkah ia datang menemuimu?”
Pelan, ia membisikkan pertanyaan itu—tak ingin ada telinga lain yang ikut mendengar. Apa yang akan dipikirkan orang tentangnya bila mendengar pertanyaan yang ia lontarkan tersebut? Sudah setua itu, namun masih merindukan kekasih? Orang-orang tentu membayangkannya sebagai wanita tua kebanyakan yang menghabiskan usia senja dengan merajut benang wol menjadi baju hangat, topi, kaus kaki, atau apapun yang ia kuasai  untuk dihadiahkan pada cucu-cucunya yang berisik namun ia sayangi.
Pasti tak akan ada yang menyangka kalau sebenarnya ia masih sendiri,