Rabu, 22 Agustus 2018

Tak Sesingkat Cerita Pendek [Cerpen Harian Waspada, Minggu 19 Agustus 2018]

Ilustrasi Oleh Harian Waspada

TAK SESINGKAT CERITA PENDEK
Oleh Dian Nangin
Kucoba mengingat-ingat mimpi apa yang singgah kemarin malam dalam tidurku.  Namun, tak kutemukan relasinya dengan keberadaanku saat ini: menyusuri sebuah gang kecil di pinggir kota yang dulu begitu cantik dengan kebun bunga di setiap rumah. Tak ketinggalan pohon rambutan yang selalu dikerumuni anak kecil. Tapi semua berubah sekarang: jalan sudah melebar, kebun-kebun menyempit dan terabaikan, pepohonan meranggas. Sepeda motor menderu saling mendahului, membuat debu beterbangan.
Semakin keras aku berpikir, semakin aku tersesat dalam labirin dalam kepalaku. Kuputuskan untuk berhenti berpikir, cukup menganggap ada tangan-tangan intuisi yang membimbingku pada sesuatu yang belum kupahami. Kakiku terus mengayun,  mungkin akan kutemukan sebuah alasan yang masuk akal di depan sana.

Minggu, 12 Agustus 2018

BARLIN DAN ANJING-ANJING [Cerpen Analisa Minggu, 12 Agustus 2018]

ilustrasi oleh Renjaya Siahaan

BARLIN DAN ANJING-ANJING
Oleh Dian Nangin 
Di sebelah utara desaku terdapat sebuah balai yang cukup luas dan sering digunakan untuk beragam keperluan. Tak terhitung sudah berapa kali di sana berlangsung perhelatan pernikahan, rupa-rupa hajatan, pesta-pesta adat, pun sekali sebulan disulap menjadi pasar tradisional yang ramai dikunjungi bahkan oleh penduduk kampung sebelah.
Di belakang balai itu ada sebuah dapur besar tempat pemilik pesta menyiapkan konsumsi. Di sanalah ayam-ayam disembelih, kerbau dijagal dan babi-babi dibantai, lalu diolah menjadi hidangan untuk menjamu tamu dan handai taulan.

Minggu, 15 Juli 2018

BAJU SERAGAM (Cerpen Remaja Analisa, Minggu 15 Juli 2018)

ilustrasi Analisa

BAJU SERAGAM
Oleh Dian Nangin
Anggun sangat bersemangat memenuhi kantong belanjanya dengan pylox aneka warna. Di samping mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, temanku sejak SMP itu juga membuat persiapan maksimal untuk acara perpisahan—terutama untuk acara corat-coret baju seragam seusai ujian. Ia sudah menabung selama dua bulan untuk membeli beberapa botol cat semprot itu.
“Kamu pengen warna apa aja, Sarah?” ia bertanya. “Aku yang beliin, deh...”
Aku mengangkat bahu. “Terserah. Lagian aku kayaknya nggak bakal ikut. Sayang bajunya. Mending disumbangin!”
“Ayolah, Sarah! Waktu SMP juga kamu nggak ikut acara corat-coret seragam. Alasannya juga sama. Ini terakhir kali kita pakai seragam, lho! Lagipula seragam kamu itu udah butut, kalaupun disumbangin, siapa yang mau menerima, coba?”

Selasa, 26 Juni 2018

Tak Ada Jalan Pulang [Cerpen Waspada, Minggu 24 Juni 2018]

ilustrasi oleh Harian Waspada
TAK ADA JALAN PULANG
Oleh Dian Nangin 
            Angin laut yang masuk lewat jendela meniup wajahku. Aromanya yang asin menyelinap di helai-helai rambut. Kendaraan yang kutumpangi melaju menusuk jantung kampung nelayan tempatku berasal. Dua puluh tahun lebih aku telah pergi. Waktu itu aku masih berumur tujuh belas, bermodal nekat dan tekad untuk mematahkan asumsi penduduk kampung yang pesimis bahwa kami, orang-orang pesisir yang miskin ini, mustahil menaklukkan kota.
Hari ini aku datang hanya untuk memastikan keadaan seseorang. Satu-satunya sosok berharga yang kumiliki. Walau tumpukan rindu ini sungguh menuntut pertemuan, namun aku tak ingin bersua karena yakin aku tak akan mampu menatap matanya, tak akan sanggup menjawab berondongan pertanyaannya. Ia juga pasti akan melakukan berbagai upaya untuk mencegahku pergi lagi, sementara aku harus minggat secepat dan sejauh mungkin.

Senin, 04 Juni 2018

SUCCESS IS ON THE WAY

Your time is valuable
Your talents are many
and your future is bright

Beberapa waktu lalu saya membaca secara acak apa-apa saja yang pernah saya tulis di sini. Dan, salah satu yang tak luput dari mata adalah salah satu tulisan yang saya posting pertama kali di blog ini. Saya tertawa sekaligus tergugu ketika membaca apa yang ada dalam pikiran saya waktu itu, menumpahkan isi hati bahwa saya ingin menulis dan menjadi penulis terkenal suatu hari nanti. Saya tertawa karena  menyadari kepolosan sendiri seolah keinginan itu sudah di depan mata dan tinggal memetiknya saja, padahal semua tidak semudah itu. Tapi, saya juga tergugu karena benar-benar telah mengabadikan cita-cita itu.

Lalu, apakah saya sudah berhasil? Belum! Sudah berapa kali saya gagal? Sering! Tak lagi terhitung berapa kali. Saya (merasa) sudah cukup berpengalaman menelan pil pahit kegagalan.

Surat pengembalian naskah dari Penerbit Galang Press
Naskah-naskah novel yang saya kirim ke penerbit ditolak dan dikembalikan. Bahkan ada satu naskah yang hingga kini tak ada kabarnya. Entah ditolak entah bagaimana. Pihak penerbit pun tak memberi konfirmasi apa-apa, tak peduli sudah berapa kali saya mengirim email permohonan konfirmasi.

Puluhan cerpen saya pernah ditolak. Puluhan lagi sedang mengantri, menunggu nasib apakah dimuat atau tidak.

Senin, 28 Mei 2018

Rindu Dari Tepi Danau [Cerpen Harian Waspada, Minggu 27 Mei 2018]

ilustrasi oleh Harian Waspada
RINDU DARI TEPI DANAU
Oleh Dian Nangin
            Embun pagi masih tersampir di ujung daun-daun mangga, padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Pagi ke sekian ratus kembali tiba sejak kepergiannya. Aku berdiri di kusen jendela, membiarkan angin yang bertiup sepoi dari danau menerpa wajahku. Kupandang pohon mangga yang berdaun lebat namun sudah lama tak berputik itu, seakan ia tak lagi menemukan cinta dan gairah musim sebagai alasan untuk kembali berbuah. Pohon itu berdiri sendiri di pekarangan berpasir. Seolah kami sama-sama terikat dalam satu predikat sebagai dua makhluk yang kesepian.
            Sudah hampir dua tahun dia pergi, kekasihku yang berambut panjang dan bermata teduh. Tubuhnya semampai, dengan bibir tipis yang menerbitkan lesung pipi kala tersenyum. Kami pertama bertemu ketika ia datang dari kampung sebelah, menempati sebuah kamar yang menghadap danau di penginapan kecil yang dikelola ayahku. Keakraban kami terjalin ketika aku sedang mengemasi buku-buku tua yang ditinggalkan para tamu yang pernah singgah di penginapan kami.

Selasa, 08 Mei 2018

PENCARI HENING [Cerpen Banjarmasin Post, Minggu 06 Mei 2018]

Ilustrasi Banjarmasin Post
PENCARI HENING
Oleh Dian Nangin
            Tak ada yang menyambut kedatangan perempuan itu kecuali gerbang kota yang telah usang dan doyong. Wajah dan penampilannya sarat lelah, tapi tampak segurat harap akan sesuatu yang telah lama menggelayuti hati dan pikirannya. Ia serupa musafir yang telah melakukan pengembaraan yang jauh namun belum juga menemukan tempat perhentian yang tepat.
            Perempuan itu memasuki kota sembari bertanya-tanya, apa yang tengah dilakukan penduduknya hingga mereka tak sempat menaruh perhatian pada gerbang utama sampai terbengkalai begitu? Bukankah penampilan dan kesan pertama yang diberikan ‘wajah’ kota akan mewakili keseluruhan isinya?