Kamis, 29 November 2018

SEBUAH KEYAKINAN [Cerpen Harian Waspada, Minggu, 28 Oktober 2018]

ilustrasi oleh Harian Waspada

SEBUAH KEYAKINAN
Oleh Dian Nangin
            Tak ada apapun yang dijanjikan Adam ketika ia meminta hatiku dan mengikatnya dengan janji sehidup semati. Aku masih bertanya-tanya dalam hati apa alasanku untuk menolak atau mengiyakan, namun tahu-tahu kepalaku mengangguk tanpa berpikir panjang. Kupikir hubungan kami dan permintaannya itu tak serius. Siapa yang akan percaya ia serius? Sebuah ide gila untuk menikah ketika ia masih pengangguran, dua tahun setelah kami melepas seragam putih abu-abu. Semasa sekolah pun ia tak begitu becus, terkenal tak bisa diandalkan dalam bidang akademik. Ketika aku meragukannya, ia dengan yakin berkata cukup mempercayakan masa depan pada waktu.
            Setelah menikah, ia mengutarakan ide gilanya yang lain. “Ayo pindah ke desa. Aku akan bertani. Tak ada gunanya bertahan di kota yang pengap ini.”

THE UGLY DUCKLING


Kisah Si Bebek Buruk Rupa oleh Hans Christian Andersen
Saya sudah sering mendengar kisah tentang si bebek buruk rupa ini, namun, ya, sekedar tau saja 😅. Ketika iseng menelusuri cerita ini di google, saya menemukan banyak kisah serupa dengan berbagai versi. Namun, kisah lengkapnya baru benar-benar saya nikmati setelah membaca  The Fairy Tales of Hans Christian Andersen yang diceritakan ulang oleh Mandy Archer.
Sekilas info, H. C. Andersen (1805-1875)  adalah seorang sastrawan berkebangsaan Denmark dan karya-karyanya sudah banyak mendunia. Salah satu yang paling terkenal selain The Ugly Duckling adalah The Little Mermaid. Saya sudah lebih dulu mengetahui dongeng si Putri Duyung, yang juga banyak dikisahkan ulang dengan beragam versi, namun kali ini saya ingin mengulas Si Bebek Buruk Rupa. 
Cerita dimulai ketika seekor induk bebek sedang mengerami telur-telurnya. Ia menunggu penuh kesabaran selama berminggu-minggu sampai telur-telur itu menetaskan enam anak bebek berwarna kuning cemerlang, imut, ‘berkwek-kwek’ menggemaskan, memiliki kaki mungil merah muda, yah…pokoknya mengagumkan. 
Kelahiran si anak bebek tidak berhenti sampai di situ. Ada sebutir telur lagi yang berukuran agak besar, yang tidak menetas bersamaan dengan telur lainnya. Si induk memilih untuk mengeraminya sebentar lagi, mengacuhkan pendapat bebek lain yang mengatakan bahwa lebih baik ia membawa anak-anaknya berenang daripada mengerami telur terakhir itu.

Sabtu, 10 November 2018

EUFORIA BIG BAD WOLF MEDAN 2018

 For your information, BBW adalah bazaar buku internasional yang diselenggarakan oleh BookXcess, sebuah toko buku kecil yang didirikan oleh pasangan suami istri asal Malaysia, Andrew Yap dan Jacqueline Ng. Toko buku itu menjual buku-buku dengan harga super murah. Semuanya berawal dari semangat yang mereka pegang bahwa buku itu untuk semua orang. Untuk itu harga buku yang dijual harus terjangkau. (Sumber https://www.kompasiana.com/gatot_tri/5bb3663012ae945b251a1423/mengulas-gramedia-boom-sale-dan-big-bad-wolf-surabaya-2018-dua-pesta-buku-besar-yang-hadir-serempak?page=all )

auuuuufff
Hurray.....!!🎈🎈🎈

Akhirnya, penantian panjang para booklover Medan berakhir. BBW telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 2016 di dua kota saja, yaitu Jakarta serta Surabaya dan.....di tahun 2018 tiba giliran kota Medan tercinta dikunjungi si Big Bad Wolf. Saya bisa membayangkan semua pecinta buku menari-nari bahagia, sama seperti saya 💃

Senin, 05 November 2018

Rahasia Separuh Abad [Cerpen Harian Analisa, Minggu, 04 November 2018]

ilustrasi oleh Renjaya Siahaan

RAHASIA SEPARUH ABAD
Oleh Dian Nangin
            Entah kenapa beberapa tahun belakangan ini wajah ayahku sering tampak seperti sedang menanggung sebuah beban berat. Seakan batu besar tengah menindih hatinya, membuatnya mudah lelah, padahal kami sudah tak membebankan padanya pekerjaan sekecil apapun. Barangkali sebuah balas jasa terbaik—walau mungkin tak akan pernah setimpal—yang dapat diberikan anak kepada orang tua adalah mengambil alih semua  pekerjaan dan tanggung jawab, lalu membiarkan mereka menikmati usia senja dengan tenang.
Aku dan saudara-saudaraku telah melakukan segala yang terbaik yang terpikir oleh kami. Seharusnya ayah bahagia melihat semua anak dan cucunya hidup rukun tanpa pernah menjadikan persoalan apapun menjadi besar. Aku sering bertanya-tanya dalam hati, apalagi yang kurang? Namun, wajah tua ayahku semakin lebih sering suram kendati ia suka tertawa untuk menipu kami.
Hingga suatu hari ia menceritakan padaku kisah ini.

Sabtu, 03 November 2018

MAWAR UNTUK ROSSIE [Cerpen Flores Sastra, 01 November 2018]

sumber: floressastra.com

MAWAR UNTUK ROSSIE
Oleh Dian Nangin
Alex mundur lagi ketika tidak melihat adanya celah untuk menyeberang. Jalanan sedang ramai dan padat. Berjubel kendaraan memadati jalan raya. Bunyi klakson sahut menyahut. Bising, mempertebal rasa kesal pemuda itu. Baru dua hari bekerja di kota ini dan ia sudah ingin menyerah. Tak habis pikir ia dengan ayahnya, betapa tega menempatkan Alex di kantor cabang. Kata sang ayah, beliau tidak ingin membeda-bedakan karyawannya dan Alex harus mengumpulkan pengalaman dulu setidaknya satu tahun. 
Tapi, pemuda itu berpendapat lain. Ia merasa sudah sepatutnya diperlakukan istimewa selaku putra seorang pemilik bisnis properti tersohor di ibukota, walau memang benar ia masih lulusan kemarin sore. Sang ayah tak peduli. Alex dikirim ke salah satu kota di pulau Sumatera. Kota yang panas dan hingar bingar. Alex tak suka pada kota ini dan ia kesal pada ayahnya.
Sepuluh menit Alex menunggu dan ia masih belum mendapat kesempatan untuk menyeberang jalan raya. Sebenarnya, lampu lalu lintas masih gagah berdiri dan jembatan penyeberangan masih melintang di atas jalan raya. Sayang, kedua fasilitas itu tidak berfungsi lagi. Ketiga warna lampu lalu lintas tak pernah lagi menyala, sementara kondisi jembatan penyeberang  itu tidak memungkinkan lagi untuk digunakan. Lantainya tampak berlubang di beberapa bagian. Takkan ada seorang pun yang mau ambil resiko melintasinya. Bisa-bisa penyeberang jeblos ke bawah, jatuh ke jalanan, lalu terlindas kendaraan.
Pemuda itu kembali mengambil ancang-ancang. Tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya. Alex menoleh kaget.....

Untuk membaca lebih lanjut, silakan kunjungi link berikut  http://floressastra.com/2018/11/01/mawar-untuk-rossie-cerpen-dian-nangin/

Minggu, 07 Oktober 2018

PAGI TAK PERNAH KEMBALI [Cerpen Cendana News, Sabtu, 06 Oktober 2018]


PAGI TAK PERNAH KEMBALI
Oleh Dian Nangin
            Seharusnya, sejak tadi pagi ia telah mampu membaca situasi Mbah Kakungnya dan menolak usul pergi memanen ikan ke kolam kecil mereka di balik bukit. Selain terlalu melelahkan untuk lelaki tua seperti Mbahnya, ikan-ikan di sana mungkin sudah tak terlalu banyak.
Tapi, bocah sepuluh tahun itu tak punya pilihan. Ketela pohon yang ditanam di pekarangan yang tanahnya berbatu-batu belum berbuah. Beberapa ekor bebek yang mereka pelihara tampak enggan bertelur beberapa waktu belakangan ini. Mungkin karena perut mereka jarang terisi kenyang, seperti pemiliknya. Satu-satunya sumber penghasilan lain adalah kolam ikan yang sudah berbulan-bulan tidak dijenguk itu.
            Setelah berjalan kaki empat jam pulang pergi ke balik sebuah bukit di utara desa....

Silakan baca kelanjutan cerpen ini di website Cendana News https://www.cendananews.com/2018/10/pagi-tak-pernah-kembali.html

Selasa, 11 September 2018

ONE FINE DAY

Live one fine day at a time!

Do not let your worries and fears stop you from living your precious live.
May your heart continue to smile.
May your day be filled with love, inspirations, and blessings 😍
(NN)
teduh, nggak pakai payung ☂
Pernah ada satu hari ketika kau merasa sangat lelah dengan hidup? Pasti pernah. Saya? Sering! 😅 Salah satu obat paling manjur untuk menyembuhkan penat dalam tubuh dan pikiran, bagi saya, adalah kembali ke alam. Lahir dan besar di desa, membuat saya terbiasa menghirup udara dingin nan sejuk, menemukan barisan pegunungan ketika pagi hari membuka pintu, dan mendengar cericit burung serta derik jangkrik setiap waktu. So, walau kaki sudah menginjak dan menetap di kota metropolitan nan polutan, kecintaan terhadap alam tak lantas pudar.