![]() |
| ilustrasi oleh Harian Waspada |
MENUNGGU
HUJAN REDA
Oleh
Dian Nangin
Air jatuh satu-satu dari bibir atap.
Memuaskan dahaga bunga-bunga dalam pot yang seharian ini dibanjur terik
matahari. Air juga jatuh di permukaan aspal. Di puncak kepala orang-orang di
jalanan yang lantas menepi dan mencari tempat berteduh. Rinainya berubah deras
ketika lelaki itu baru akan menyudahi pertemuan dengan perempuannya. Sudah
hampir dua jam ia duduk berdua dengan perempuan itu pojok kafe, menyesap kopi
hitam dan menikmati roti bakar. Live
music jazz menambah suasana romantis.
“Ayo, pesan secangkir lagi!
Barangkali ini hari keberuntunganku, bisa sedikit berlama-lama denganmu. Biasanya
pekerjaan menahanmu untuk lembur, biarlah hari ini hujan yang menahanmu untukku,”
perempuan itu berkata lembut sambil mengangkat tangan, kembali memanggil
pelayan kafe.




