*saya baru mengetahui perihal dimuatnya cerpen ini pada Juli 2019
![]() | ||
| ilustrasi oleh Nusantara News |
JANJI
BERINGIN
Oleh
Dian Nangin
Cekakak-cekikik
sarat keriangan terdengar memenuhi taman itu, amat berbanding terbalik dengan air
muka seorang perempuan tua yang menatap sebatang beringin yang juga sudah tua
di tepi taman. Kepalanya mendongak, memandang ke ujung batang tempat rerimbunan
gelap penuh jalinan kusut akar-akar yang ujungnya jatuh menggantung. Kedua
tangannya bertaut di depan perut, seolah sedang berdoa menyampaikan sesuatu,
entah pada Tuhan atau si pohon beringin.
“Apa kabar kekasihku?
Pernahkah ia datang menemuimu?”
Pelan, ia membisikkan
pertanyaan itu—tak ingin ada telinga lain yang ikut mendengar. Apa yang akan
dipikirkan orang tentangnya bila mendengar pertanyaan yang ia lontarkan
tersebut? Sudah setua itu, namun masih merindukan kekasih? Orang-orang tentu
membayangkannya sebagai wanita tua kebanyakan yang menghabiskan usia senja
dengan merajut benang wol menjadi baju hangat, topi, kaus kaki, atau apapun
yang ia kuasai untuk dihadiahkan pada
cucu-cucunya yang berisik namun ia sayangi.
Pasti tak akan
ada yang menyangka kalau sebenarnya ia masih sendiri,




