![]() |
| Harian Rakyat Sultra |
MEMBACA
PERTANDA
Oleh
Dian Nangin
“Bagaimana kalau seorang dari kita meninggal,
Bu?” kulontarkan pertanyaan itu pada ibu dengan nada polos. Ibu beberapa kali
membawaku ke rumah duka untuk melayat kerabat atau rekan kerjanya. Alih-alih
bergabung dengan kawan sebaya atau asyik menjilati es krim sementara para orang
tua sibuk menumpahkan tangis di ruang duka, aku justru mengamati raut setiap
orang. Kuterka-terka seberapa dalam hati mereka terluka ditinggal orang yang
mereka kasihi.
“Kalau mati, ya tinggal
ditanam di tanah,” sahut ibuku enteng, seolah prosesinya tak ubahnya
melemparkan ayam-ayam peliharaannya yang mati ke dalam sebuah lubang sedalam
setengah meter lalu menutupnya kembali dengan tanah sembari mengumpat pada
tikus atau musang yang telah menggigiti unggas-unggas itu.
Aku tak tahu apakah jawaban
ketus itu dipengaruhi emosi sebab sudah beberapa kali anak-anak ayam peliharaan
ibu yang baru menetas mati digigit mamalia-mamalia itu. Pupus sudah harapannya
melihat anak-anak ayam yang baru menciap-ciap itu untuk tumbuh besar, hingga
akhirnya tiba waktunya untuk bertelur dan beranak pinak atau diolah menjadi
lauk.
Atau, barangkali aku masih terlalu
kecil untuk menerima sebuah jawaban logis dan agamis.







