Kamis, 14 Mei 2020

MEMBACA PERTANDA [Cerpen Harian Rakyat Sultra, edisi Senin, 11 Mei 2020]

Harian Rakyat Sultra

MEMBACA PERTANDA
Oleh Dian Nangin
 “Bagaimana kalau seorang dari kita meninggal, Bu?” kulontarkan pertanyaan itu pada ibu dengan nada polos. Ibu beberapa kali membawaku ke rumah duka untuk melayat kerabat atau rekan kerjanya. Alih-alih bergabung dengan kawan sebaya atau asyik menjilati es krim sementara para orang tua sibuk menumpahkan tangis di ruang duka, aku justru mengamati raut setiap orang. Kuterka-terka seberapa dalam hati mereka terluka ditinggal orang yang mereka kasihi.
“Kalau mati, ya tinggal ditanam di tanah,” sahut ibuku enteng, seolah prosesinya tak ubahnya melemparkan ayam-ayam peliharaannya yang mati ke dalam sebuah lubang sedalam setengah meter lalu menutupnya kembali dengan tanah sembari mengumpat pada tikus atau musang yang telah menggigiti unggas-unggas itu.
Aku tak tahu apakah jawaban ketus itu dipengaruhi emosi sebab sudah beberapa kali anak-anak ayam peliharaan ibu yang baru menetas mati digigit mamalia-mamalia itu. Pupus sudah harapannya melihat anak-anak ayam yang baru menciap-ciap itu untuk tumbuh besar, hingga akhirnya tiba waktunya untuk bertelur dan beranak pinak atau diolah menjadi lauk.
Atau, barangkali aku masih terlalu kecil untuk menerima sebuah jawaban logis dan agamis.

Selasa, 05 Mei 2020

Proses Kreatif Penulisan Naskah ‘DUA RAHASIA’ [Salah Satu Pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak 2020 oleh Balai Bahasa Sumatera Utara]

Salam literasi!
Banner oleh Balai Bahasa Sumatera Utara


Naskah saya yang berjudul ‘DUA RAHASIA’ menjadi satu dari lima pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak 2020 yang diadakan oleh BBSU. Sebetulnya, naskah ini adalah gabungan dari dua tulisan saya yang sebelumnya. Yang pertama adalah sebuah cerita remaja yang saya tulis sekitar tahun 2015 dan satunya lagi adalah tulisan acak berisi pemikiran, curahan hati, dan pengalaman saya terkait budaya suku Karo. Kedua tulisan ini belum pernah saya publikasikan sebelumnya dan ketika mendengar sayembara yang diadakan BBSU, saya terpikir untuk menggabungkan kedua tulisan ini, tentu saya pun harus menyesuaikannya dengan syarat sayembaranya.

Selasa, 28 April 2020

Menyampaikan Kekalahan Pada Ibu [Cerpen Harian Waspada, Minggu 26 April 2020]

ilustrasi oleh Harian Waspada

MENYAMPAIKAN KEKALAHAN PADA IBU
Oleh Dian Nangin
        Betapa berat terasa kekalahan yang kupikul di bahu lelahku. Malam telah pekat. Bintang tak tampak. Hanya ada bayangan samar bulan di balik awan tipis, seolah ia menunggu waktu yang tepat untuk keluar dan menumpahkan sinarnya—sinar yang seolah tidak dijatahkan untukku. Kuharap ibu sudah tidur, namun harapan itu seketika pupus sebab kulihat masih ada sejumput cahaya yang menerobos ventilasi jendela. Itu artinya ibu masih sibuk dengan kain-kain jahitan titipan tetangga.
          Tepat di depan pintu, aku berhenti sejenak. Melintas di ingatanku senyum ibu yang mengembang lebar siang tadi ketika mengiringi kepergianku dari ambang pintu. Senyum itu menguarkan sejuta harap bahwa aku akan pulang dengan kemenangan.
Tapi sekarang kepalaku lunglai, hampir-hampir menghantam pintu dan jatuh ke lantai. Malam ini aku (kembali) menjadi pecundang, menggenapi kekalahanku untuk ke sekian kali. Tak kuingat apakah ada mimpi buruk yang singgah di tidurku tadi malam, sebab aku terlalu asyik berkhayal akan melangkah ke podium tinggi dan menerima trofi penuh percaya diri. Ternyata, aku belum pantas menjadi jawara. Berbekal sejumlah prestasi dan pengalaman, kukira aku telah menjadi unggul. Nyatanya masih ada sejumlah kekurangan yang tak bisa kulihat sendiri. Betapa pahit rasanya kekalahan dan lebih pahit lagi ketika aku harus menyampaikannya pada ibu malam ini.

Selasa, 07 April 2020

Perihal Penantian dan Bunga-Bunga [Cerpen Harian Medan Pos, edisi Minggu, 05 April 2020]


PERIHAL PENANTIAN DAN BUNGA-BUNGA
Oleh Dian Nangin

Tak pernah kulupa menunaikan kebiasaan ini tiap pagi, yakni merapatkan mata pada kisi-kisi jendela. Memang, celah yang hanya sekian senti itu tak akan memuaskan indra penglihatanku, tapi mataku tak akan salah mengenali meski sosokmu telah bertahun-tahun pergi.
Pagi ini aku mengintip keluar dengan mata berat, menahan kantuk. Kemarin malam adalah tanggal kepulanganmu setelah lima tahun pergi dan lima tahun lagi janji untuk kembali tak kunjung kau tepati. Padahal aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk bersiap: membasuh tubuh dengan air kembang yang wangi semerbak, mengenakan pakaian terbaik dan duduk manis di beranda, ditemani secangkir teh panas. Namun, hingga malam larut, isi cangkir telah susut, dan betis habis digigiti nyamuk, kau tak kunjung datang. Yang muncul kemudian adalah seorang perempuan tua—ibuku, dengan raut yang ditabah-tabahkan membimbingku kembali masuk ke dalam rumah.

Senin, 23 Maret 2020

Coronavirus disease (COVID-19)


“Only one form of contagion travels faster than a virus. And that’s a fear.”
Dan Brown, INFERNO

Dunia sedang tidak baik-baik saja🌎

sumber foto: google

Masih adakah yang tidak aware dengan situasi saat ini? Barangkali tiga bulan lalu kita masih asyik dengan kegiatan sendiri dan menganggap hidup ini sempurna tanpa gangguan berarti; booklovers asyik dengan tumpukan bukunya, para pegawai/pekerja setiap hari hanya fokus pada rutinitas yang terjadwal, para K-popers tak peduli pada hal lain kecuali bintang-bintang Korea pujaannya, dll, dsb. Kini kita disatukan oleh sikap waspada dan terfokus pada satu krisis yang tengah merongrong negeri ini (dan negara-negara lain di dunia) yaitu Pandemi Covid-19. Yah, tidak ada kenyamanan hidup yang sempurna, sebab kesempurnaan tidaklah nyata.

foto: dok. pribadi

Jujur, saya juga lelah dijejali kabar korona setiap hari, baik dari televisi, radio, atau media sosial. Tapi, mau bagaimana lagi? Lelah atau tidak, kita tetap harus memantau penyebarannya dan memperbaharui info-info yang setiap hari berubah.  Belum lagi melihat perdebatan sengit yang menyertai perjalanan penyebaran virus ini di Indonesia, aksi tuding dan saling menyalahkan marak di media sosial. Masyarakat menuduh pemerintah tidak serius menanggapi korona. Sikap-sikap sebagian masyarakat yang bebal dan berbuat semaunya sendiri padahal sudah diingatkan agar mawas diri dan dibatasi pergerakannya. Serta, kesiapan negara ini dalam menangani korona secara keseluruhan mulai dari pusat hingga ke daerah-daerah memang terasa MENGKHAWATIRKAN.
          Tapi, yah, bagaimanapun juga kita harus turut berperan aktif dalam menangani korona ini. Kalaupun kita tidak punya uang berjuta-juta untuk disumbangkan, masih ada banyak hal-hal kecil namun berarti besar untuk dilakukan, seperti jangan menyebar berita hoaks dan kepanikan, rajin cuci tangan dan jaga kebersihan, serta menuruti segala imbauan pemerintah.
          Stay safe untuk semua masyarakat dunia, terkhusus untuk masyarakat Indonesia. Hormat saya untuk para tenaga medis, relawan, dan pihak-pihak yang berada di garda terdepan dalam melawan Covid-19. Tuhan memberkati anda-anda sekalian!😇

Rabu, 19 Februari 2020

RUMAH INANG [Cerpen Harian Waspada, edisi Minggu, 16 Februari 2020]


RUMAH INANG
Oleh Dian Nangin

          Inang sebenarnya ingin memprotes dengan keras anak-anak dan para menantunya yang tengah berunding di hadapannya, namun tubuhnya yang tak berdaya hanya duduk kaku di atas kursi roda. Batinnya bergemuruh mendengar hal yang sungguh tak ia inginkan; mereka sepakat untuk menitipkannya ke panti jompo. Kesepakatan lainnya adalah menjual rumah milik Inang yang kini sudah tak ada lagi yang mengurusnya, sebab nyaris dua tahun terakhir Inang dirawat di rumah sakit karena menderita stroke.
Kedua bola mata Inang bergerak, berusaha menjangkau sebanyak mungkin pemandangan dalam rumahnya. Menikmatinya dalam lirih. Ia perlahan menyusuri bagian dalam bangunan yang setidaknya telah berusia satu abad ini.

Senin, 03 Februari 2020

SATU HARI DI JANUARI 2020: berkunjung ke situs budaya Puteri Hijau, Museum Letjen Jamin Ginting, mengelilingi pedesaan, ‘menyentuh’ Danau Lau Kawar, menjemput malam di pemandian air panas Desa Semangat Gunung


Halo, Februari!
Selamat tinggal Januari! Tak terasa tahun 2020 sudah sebulan berlalu. Bagaimana harimu? Hidupmu? Beranjak dengan ceria? Atau sudah kelelahan dihajar berbagai problema dan cobaan? Kalaupun, ya, mari lupakan sejenak. Ada banyak hal menyenangkan dan berkesan yang patut dikenang. Dan, ini kenanganku—kenangan kami.
Sebelum kembali ke dalam jeratan rutinitas yang tak kenal ampun, saya bersama adik, abang dan saudara sepupu menyusun rencana untuk bepergian pada tanggal 14 Januari 2020. Here we go…

          1. Situs Budaya Puteri Hijau di Desa Seberaya, Kec. Tiga Panah, Kab. Karo
Pada pagi hari pukul 09.30, kami berangkat. Setelah mengisi bensin mobil, perjalanan dimulai. Adik sepupu selaku pengemudi memacu mobil menuju Simp. Ujung Aji, masuk ke dalam dan terus mengemudi mengikuti lekak-lekuk jalan aspal, berbelok ke sebuah persimpangan, terus melaju hingga tiba di sebuah gapura berwarna hijau.
Tujuan kami yang pertama: Situs Budaya Puteri Hijau Desa Seberaya. Setelah bertanya kepada seorang petani yang tengah menyiangi padinya, kami menemukan situs itu tidak jauh dari gerbang masuknya. Situs tersebut berada di sebuah bukit rendah dengan sejumlah anak tangga untuk mencapainya. Namun, demi melihat lokasi situs tersebut, kami terdiam dan berpandangan. Hal pertama yang ditangkap mata adalah kesan mistisnya.