Selasa, 24 Januari 2017

Tersesat dalam Kabut [Rakyat Sultra, Senin 23 Januari 2017]

TERSESAT DALAM KABUT
Oleh Dian Nangin
            Ingatan terakhir yang terpatri di benakku sebelum aku terjebak dalam kabut ini adalah betapa sibuknya aku mengurusi babi-babi peliharaanku. Aku sedang mencampur dedak pada pakan babi yang kutanak sebelum menumpahkannya ke palungan-palungan kosong, yang kemudian akan diserbu oleh moncong-moncong penuh liur yang tak pernah sabar.
            Aku telah terbiasa dengan kabut, sebab ia memang sering menyelimuti desa ini, menimbulkan kesan muram. Ketika aku berkutat dengan makanan babi sore itu pun, gerimis bersanding kabut baru saja usai merinai, menyisakan jalan berlumpur dan titik-titik air yang menggantung di ujung rimbun dedaunan pohon yang memadati pekarangan belakang pondokku. Pepohonan yang bila tersenggol sedikit saja akan menjatuhkan titik-titik air itu seolah hujan kembali turun. 
          Namun gugusan kabut ini terasa asing. Ia memang masih dingin sebagaimana biasanya, tapi ia seakan bernyawa. Seakan ada tarikan nafas dari hidung-hidung tak terlihat. Seolah ada tatapan yang mengekori gerak-gerikku............

Untuk membaca cerpen ini lebih lengkap, silakan kirim email ke dian_nangin23@yahoo.co.id, saya akan mengirimkannya dalam bentuk PDF.

Sekian.
Terima kasih.

Selasa, 10 Januari 2017

PENYULAM WAKTU [Harian Rakyat Sultra, Sabtu 31 Desember 2016]

Halo 2017...!
Sebenarnya tahun yang baru ini sudah berlalu sepuluh hari, but I hope it's still not too late to wish you all happy new year. Saya berharap pada tahun 2017 ini, kita semua diberkahi dengan kesehatan, rezeki yang cukup, umur yang panjang. Tak juga lupa kebahagiaan yang melimpah, seperti sukacita yang saya rasakan ketika menerima email dari Harian Rakyat Sultra pada tanggal 3 Januari kemarin. Email tersebut berisi konfirmasi pemberitahuan bahwa salah satu cerpen yang saya kirim telah dimuat di harian tersebut pada edisi Sabtu, 31 Desember 2016.


Bila anda ingin membaca cerpen ini, silakan kirim email anda ke dian_nangin23@yahoo.co.id. Saya akan mengirim linknya kepada anda.

Sampai jumpa di cerpen berikutnya....

Rabu, 14 Desember 2016

Desa Yang Hilang [Waspada, 11 Desember 2016]

ilustrasi oleh Waspada
DESA YANG HILANG
Oleh Dian Nangin

Seantero desa tiba-tiba gaduh, riuh rendah seperti semut kebakaran sarang. Orang-orang tumpah ruah keluar rumah. Truk-truk pengangkut bergerak. Berlusin-lusin lelaki gagah dengan langkah berderap sigap mengerahkan tenaga.
“Ayo, ayo! Cepaaat!” Lengkingan perintah saling menimpali.
“Lewat sini!” Orang-orang saling memanggil satu sama lain, tak ingin tercerai berai dari keluarga, dari sanak saudara.
“Tasku! Mana tasku?”
Di tengah kekacauan, seorang lelaki tersuruk-suruk menggendong putri semata wayangnya menuju truk terdekat. Lehernya dipeluk erat oleh dua lengan kecil yang mengigil. Gadis kecilnya itu ketakutan setengah mati, tak mampu memahami apa yang tengah terjadi. Kunciran rambutnya bergoyang-goyang hebat.
Lelaki itu setengah melemparkan putrinya ke atas truk. “Tunggu di sini, Cike! Bapak akan kembali!”

TAKDIR ANGIN [JOGLOSEMAR, 11 Desember 2016]

ilustrasi oleh Joglosemar

TAKDIR ANGIN
Oleh Dian Nangin

        Sewaktu masih kecil, aku mengira langit hanya tiga jengkal lebih tinggi dari kepala orang dewasa. Aku berpikir bisa menyentuhnya dengan memanjat pokok jambu di pekarangan belakang rumah. Kujaga keseimbangan tubuh agar bisa bertengger di cabang dahan paling tinggi. Tapi ketika kuulurkan tangan, ternyata langit masih cukup jauh dari ujung jemari yang sudah berusaha kupanjang-panjangkan. Kucari sebatang galah, barangkali dengan bantuannya, aku bisa menjangkau langit. Namun lagi-lagi bentangan mega biru itu masih belum bisa kusentuh.
            Ketika guru Bahasa Indonesia memberi tugas mengarang tentang pengalaman liburan, betapa aku ingin menulis cerita tentang kunjunganku ke langit. Aku ingin berbeda dari

Senin, 05 Desember 2016

November di Kota Hujan [Analisa, 04 Desember 2016]

NOVEMBER DI KOTA HUJAN
Oleh Dian Nangin

Ilustrasi oleh Renjaya Siahaan

Di bulan-bulan penghujung tahun seperti ini, tak ada hal lain yang lebih sering diperbincangkan selain cuaca. Mendung. Rinai air. Basah. Sarat kemurungan, ketidaknyamanan. Barangkali hanya satu dua isu panas yang dapat mengalahkan dinginnya hujan. Isu panas yang ditunggangi para provokator yang mengira bahwa mereka bisa menyetir negeri ini ke arah yang mereka inginkan.
Tapi itu bukan urusan kita, Na.
Kita punya hal lain yang lebih penting untuk dilakukan. Ada pertemuan yang perlu kita genapkan. Serta selaksa rindu yang harus kita tunaikan.

Jumat, 18 November 2016

Mendayung Pagi [FLORES SASTRA, 14 Nopember 2016]



MENDAYUNG PAGI
Oleh Dian Nangin
       Ranti baru benar-benar terjaga ketika ayam telah berkokok entah yang ke berapa kali. Biasanya ia selalu bangun mendahului unggas yang ia pelihara itu. Ranti terburu menuju dapur, membuka kunci pintu belakang, lalu menyeret masuk sekarung singkong yang baru dipanen kemarin dari sepetak kebunnya. Tak sempat ia nikmati indahnya rembulan yang membulat sempurna di puncak pepohonan belakang rumahnya itu.
     Dengan tangan terlatih ia mulai menguliti singkong, merendamnya dalam air bersih, mencuci periuk besar, lalu menanggar air. Di sisi lain dapur, ia menanak beras dua cangkir terakhir dan merebus telur ayam di atas kompor minyak. Tanpa sempat istirahat, tangannya kembali sibuk menyusun kayu bakar dalam tungku dengan hati yang tak henti-henti merutuk kenapa bisa sampai bangun terlambat meski ia sendiri tahu apa penyebabnya.

Senin, 31 Oktober 2016

ESENSI MATAHARI [Banjarmasin Post, 30 Oktober 2016]

Hello, everyone! Are you ready to say goodbye to October and then welcome November?

Oktober memberi saya penutup yang manis dengan dimuatnya sebuah cerpen saya di Banjarmasin Post pada minggu terakhirnya. Tak sabar menunggu November tiba dan berharap hal-hal baik serta tak kalah manis dari bulan-bulan sebelumnya akan terjadi.

Selamat membaca...
ESENSI MATAHARI
Oleh Dian Nangin

Maja mengernyit untuk ke sekian kali ketika rasa asin singgah di sudut bibirnya. Segera ia menarik lengan baju untuk menyapu kening hingga dagunya yang banjir peluh. Matahari sudah tinggi. Di tubuh, batas suhu panas sudah di luar toleransi. Namun Maja bertahan, sebab bundelan koran dalam pelukannya belum laku banyak.