Suatu pagi, pintu rumah
saya diketuk dengan ritme yang menandakan sebuah ketergesaan. Saya menyahut,
dengan santai membuka kunci serta gerendel pada pintu besi. Si pengetuk,
seorang tetangga yang beberapa tahun lebih muda, tampak panik bercampur excited. Ia nyaris mengomel karena saya
bergerak lamban.
“Ada apa sih?” tanyaku.
“Ini urgent, Kak,” sahutnya cepat.
Setelah masuk, ia
membeberkan hal mendesak tersebut dan saya hanya bisa menarik nafas. Hal urgent itu tak lebih dari
ketidakmampuannya menyusun kata-kata untuk membalas pesan WA dari HRD sebuah
perusahaan tempatnya kemarin mengantarkan surat lamaran kerja pertamanya.
“Apa susahnya membalas
itu?” tanyaku.
Saya melihat pesan di
layar ponselnya. Tampak beberapa pertanyaan berkenaan tentang pribadi si
pelamar dan juga mengenai pekerjaan yang dilamar. Saya berpikir sebentar, lalu
mengembalikan ponselnya.
“Jawab saja dengan
jujur dan sopan.”
“Iya, tapi bagaimana
merangkai kalimatnya?!” katanya dengan wajah memelas.
“Katakan begini,
bla…bla…bla…” kucoba membantu sambil mondar-mandir mengerjakan beberapa hal.
“Wah, iya, benar! Itu
maksudku!!” Tangannya bergerak cepat di layar ponsel untuk mengetik balasan
pesan tersebut. Kepalanya menoleh ke kanan kiri untuk mengikuti pergerakanku. “Gimana
tadi, Kak? Aduh, aku cepat kali lupa. Coba ulangi…”




