Rabu, 06 Desember 2017

TABIAT [Cerpen Harian Waspada, Minggu 03 Desember 2017]

ilustrasi oleh Harian Waspada
TABIAT
Oleh Dian Nangin
            Dulu aku tak paham mengapa ibuku suka cemberut dan berwajah masam bila ayah berlama-lama di kedai kopi. Dan berkali-kali. Aksi cemberut itu kemudian diikuti sikap  marah dalam diam dengan meninggalkan bantal (dan seringkali tanpa selimut) di sofa ruang tamu, lalu ia mengurung diri di kamar dan tidur sendirian.
Tinggallah ayah dengan ‘hadiah’ yang menyambutnya di sofa kala pulang. Ia memilih untuk tidak repot-repot mendinginkan hati ibu yang sedang panas dengan mengakui kesalahannya, malah menganggap itu sebagai konsekuensi yang setimpal atas kesenangan yang ia peroleh di kedai kopi. Perangai itu memicu pertengkaran lebih dalam lagi, sebab, ibu semakin merajuk karena tak dibujuk dan ayah tak juga meminta maaf.
            Sewaktu masih kecil, ayah cukup sering membawaku ke kedai kopi. Bukan aku

Senin, 20 November 2017

HITAM PUTIH [Cerpen Remaja Harian Analisa, Minggu 19 November 2017]

ilustrasi oleh Harian Analisa
HITAM PUTIH
Oleh Dian Nangin
Pintu berderit kencang dan menghantam dinding setelah dibuka dengan sembrono oleh Ayu, pacarku. Terpaksa kuhentikan gerakan tanganku pada tuts piano yang tengah memainkan sebuah lagu yang baru separuh jalan.
Ayu duduk di sebelahku dengan nafas terengah-engah. Titik-titik keringat membuat anak-anak rambut menempel di sisi-sisi wajahnya.
“Kenapa lagi?” Ini bukan kali pertama aku menghadapi Ayu dengan mood yang sedang berantakan.
“Kacau!” katanya sambil menghembus nafas kencang. “Tiga jam sudah rapat dilakukan, tapi sampai sekarang konsep perayaan hari guru belum diputuskan.”

Pekerjaan Sampingan Bagi Pecerpen [Harian Medan Bisnis, Minggu 19 November 2017]

Dok. Pribadi
PEKERJAAN SAMPINGAN BAGI PECERPEN
Oleh Dian Nangin
Aku hampir tertidur kalau saja ceret di atas kompor tidak bersiul nyaring dan memulihkan kembali kesadaranku. Dengan malas aku bangkit dari kursi bambu dan menyeret kaki menuju dapur. Kuseduh kopi untukku sendiri. Bersama cangkir yang mengepulkan uap, aku berjalan menuju pintu depan dan melayangkan pandang. Tak tampak seorangpun sejauh jangkauan mata.
Hampir dua minggu kedai kopi tempatku bekerja sepi pengunjung. Padahal dulu, aku berpikir bahwa salah satu pekerjaan sampingan paling sempurna untuk seorang penulis cerpen adalah dengan menjadi pegawai kedai kopi. Atau, mungkin kebalikannya. Pekerjaan sampingan seorang pegawai kedai kopi sebaiknya adalah penulis cerpen. Kedua pekerjaan itu saling melengkapi satu sama lain.
        Mungkin tidak ada teori yang mendukung kalimat di atas, murni pengamatan dan pengalamanku belaka. Namun,

Minggu, 05 November 2017

DUA KEKASIH [Harian Analisa, Minggu 05 November 2017]

ilustrasi oleh Renjaya Siahaan

DUA KEKASIH
Oleh Dian Nangin
Aku sedang sekarat—hidupku rasanya sudah di ambang batas. Seakan dapat kulihat malaikat maut tengah tersenyum manis padaku sambil mengulurkan tangan.
Aku hanya bisa tergeletak di lantai. Kepalaku berada di pelukan seorang perempuan. Perempuanku. Wajahnya pias demi melihatku tak berdaya. Ia hanya bisa kutatap di antara celah sempit kelopak mataku yang nyaris menutup. Kulewati menit demi menit sambil menghitung dalam hati, memperkirakan berapa lama lagi aku sanggup bertahan.

Rabu, 25 Oktober 2017

PATAH [Cerpen Harian Waspada, Minggu 22 Oktober 2017]

PATAH
Oleh Dian Nangin
Setelah berjalan bersama begitu jauh, bergandengan tangan melewati kerikil hingga batu besar yang menghadang, menapaki jalan yang tak selalu mulus, ia meminta kami berhenti tepat selangkah sebelum tiba di tujuan akhir. Tujuan akhir yang akan mengantarkan kami pada awal yang baru. Ia memilih berbalik dan pergi. Mustahil bagiku untuk melanjutkan perjalanan seorang diri, sebab perjalanan ini diperuntukkan bagi dua orang.
Tanpa menoleh lagi, ia meninggalkanku beserta sejumlah pekerjaan yang berat untuk dilakukan; menarik ratusan undangan yang telah disebar, membatalkan segala rencana yang telah disusun matang.

Senin, 02 Oktober 2017

JATAH [ Cerpen Harian Banjarmasin Post, 01 Oktober 2017]

ilustrasi oleh Harian Banjarmasin Post

JATAH
Oleh Dian Nangin
Pur melongokkan kepalanya ke luar barisan dan mendapati bahwa antrian masih cukup panjang di depan, pun jauh mengular di belakangnya. Ia tak paham apa sebab musabab angka kematian di penghujung tahun ini cukup tinggi, entah mengapa pula mereka terpilih sebagai jiwa-jiwa yang tak diizinkan melangkah ke tahun yang baru. Sementara manusia-manusia lain masih punya waktu untuk meneruskan hidup, mereka justru terjebak dalam antrian sebelum menerima keputusan akan melangkah ke dalam surga atau mendekam di neraka.
Namun menunggu dalam antrian itu tak serta merta membuatnya bosan, sebab ada sebuah layar yang cukup lebar terpasang jauh di depan, mempertontonkan semacam rekaman kehidupan. Berbagai tingkah dan tindak-tanduk

Senin, 11 September 2017

RAHMAT [Cerpen Harian Waspada, Minggu 10 September 2017]

Ilustrasi oleh Harian WASPADA

RAHMAT
Oleh Dian Nangin
—Untuk abangku, R.E. PA

Lama kupandangi wajah lelaki ini. Namun ia seakan acuh tak acuh padaku, lebih memelihara keintiman bersama sebatang kretek dan asap putih yang bergulung-gulung di udara usai ditiupkan kuncup bibirnya.
Kuteguk kopi hitam yang mulai dingin dan serta merta aku mengernyit.
“Terlalu pahit?” Ternyata ia menangkap reaksiku.
“Sedikit. Tapi enak, kok,” jawabku.
Aku terbiasa mengonsumsi kopi sachet, sesekali pergi ke kafe demi secangkir kopi dengan gula dan krimer ramuan barista profesional. Kini lidahku terkaget-kaget ketika diserbu minuman dengan nama yang sama tapi rasanya begitu berbeda. Namun ada sesuatu di balik kopi ini yang membuatku mampu meneguk dan menyesap esensinya. Sebab kopi ini ditanam sendiri oleh lelaki ini, diolah sendiri pula dengan cara tradisional. Ia juga memaksa untuk menyeduh sendiri dan menghidangkannya bagiku.
“Kau begitu jarang datang. Biarkan aku menjamumu,” katanya beralasan.
Diam-diam aku dilanda haru. Ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap di hati. Pekerjaanku di kota begitu serakah, menyita sebagian besar waktuku dan hanya menyisakan sedikit kesempatan pulang ke kampung untuk menengoknya.