 |
| sumber google |
TUTUR
AIR MATA
Oleh
Dian Nangin
Kebanyakan
penumpang langsung terkantuk begitu bus mulai melaju. Sementara aku mengeksplorasi
terlebih dahulu setiap hal yang kujumpai di tempat baru. Ini adalah kali
pertama kami—aku dan beberapa teman—menginjakkan kaki di kota Medan, dimana kami siap bertolak ke
daerah dataran tingginya, berniat menjelajahinya selaku backpacker yang haus pengalaman pengembaraan.
Sopir menyetel lagu
daerah yang dentum-dentumnya mengalahkan gerungan mesin bus. Tapi tampaknya tak
ada yang benar-benar menikmati suguhan musik itu. Beberapa penumpang yang tak
bisa tidur cenderung melamun, berselancar di dunia maya, atau bermain game di ponsel untuk membunuh waktu.
Dan, sepintas tak ada
yang salah dengan perempuan muda yang duduk di sebelahku ini. Tadi dengan sopan
ia bertanya apakah ia bisa duduk dekat jendela. Tentu saja aku mengangguk
sambil menggeser tubuh, memberinya ruang yang cukup. Bahkan kubatalkan niatku
merokok demi membuatnya nyaman.
Sejenak
aku merasa beruntung duduk bersisian dengannya. Bercakap dengan perempuan
cantik, meski sekedar basa basi, akan menjadi hal menyenangkan untuk mengarungi
perjalanan ini. Apalagi kalau bisa lebih dari itu, sedikit lebih dekat apalagi
dapat berlanjut ke hari-hari yang akan datang. Ah, belum apa-apa hatiku sudah
berharap lebih.
Tapi,
ketika aku mencuri pandang, kutangkap samar bayangannya melalui pantulan kaca
jendela. Pandangannya jauh menerawang, seakan dapat menembus kegelapan di luar
sana.