Jumat, 18 November 2016

Mendayung Pagi [FLORES SASTRA, 14 Nopember 2016]



MENDAYUNG PAGI
Oleh Dian Nangin
       Ranti baru benar-benar terjaga ketika ayam telah berkokok entah yang ke berapa kali. Biasanya ia selalu bangun mendahului unggas yang ia pelihara itu. Ranti terburu menuju dapur, membuka kunci pintu belakang, lalu menyeret masuk sekarung singkong yang baru dipanen kemarin dari sepetak kebunnya. Tak sempat ia nikmati indahnya rembulan yang membulat sempurna di puncak pepohonan belakang rumahnya itu.
     Dengan tangan terlatih ia mulai menguliti singkong, merendamnya dalam air bersih, mencuci periuk besar, lalu menanggar air. Di sisi lain dapur, ia menanak beras dua cangkir terakhir dan merebus telur ayam di atas kompor minyak. Tanpa sempat istirahat, tangannya kembali sibuk menyusun kayu bakar dalam tungku dengan hati yang tak henti-henti merutuk kenapa bisa sampai bangun terlambat meski ia sendiri tahu apa penyebabnya.

Senin, 31 Oktober 2016

ESENSI MATAHARI [Banjarmasin Post, 30 Oktober 2016]

Hello, everyone! Are you ready to say goodbye to October and then welcome November?

Oktober memberi saya penutup yang manis dengan dimuatnya sebuah cerpen saya di Banjarmasin Post pada minggu terakhirnya. Tak sabar menunggu November tiba dan berharap hal-hal baik serta tak kalah manis dari bulan-bulan sebelumnya akan terjadi.

Selamat membaca...
ESENSI MATAHARI
Oleh Dian Nangin

Maja mengernyit untuk ke sekian kali ketika rasa asin singgah di sudut bibirnya. Segera ia menarik lengan baju untuk menyapu kening hingga dagunya yang banjir peluh. Matahari sudah tinggi. Di tubuh, batas suhu panas sudah di luar toleransi. Namun Maja bertahan, sebab bundelan koran dalam pelukannya belum laku banyak.

Jumat, 28 Oktober 2016

Nyawa Semata Wayang [Flores Sastra, 27 Oktober 2016]

Well, ada sedikit kesalahan penulisan nama oleh pihak Flores Sastra. Saya berasa jadi jiwa yang melayang-layang, hoho... 
Selamat membaca, kawan ^-^


NYAWA SEMATA WAYANG
Oleh Dian Nangin 
Meski sewaktu kanak-kanak dulu aku tak paham apa arti kematian, namun kukira aku telah cukup akrab dengannya.
Pertama kali berhadapan dengan yang namanya kematian adalah ketika nenek berpulang, menyusul kakek yang tak pernah kukenal sebab ia telah tiada bahkan ketika ibuku masih kecil. Suatu petang jelang malam, perempuan tua itu dibawa ke rumah sakit dan tidak kunjung kembali ketika esok hari aku pergi ke sekolah—aku masih kelas 3 SD waktu itu. Sepulang sekolah, kulihat sebuah bendera merah terpancang di depan rumah. Orang-orang berpakaian hitam dan bermata sembab berlalu lalang.
Aku yang belum mengerti apa itu duka hanya duduk di tepi peti mati, melongok ke dalamnya dan memandangi seraut wajah keriput yang damai. Kedua tangan berkulit penuh kerut yang dulu sering kupuntir-puntir terlipat di atas perut. Di mataku, nenek tampak hanya sedang tidur pulas. Aku cuma mengernyit melihat orang-orang menangis begitu keras. Meski sesekali pelayat mendekapku dengan wajah bersimbah air mata, aku tak tahu harus bereaksi apa selain balas memeluk dengan raut datar.
Setelah nenek dikebumikan dan di hari-hari berikutnya kemudian baru aku paham bahwa bila seseorang mati, berarti ia takkan bisa ditemui lagi. Tak peduli kemana kau mencari dan seberapa lama kau menunggu dia kembali. Raga tempatnya menumpang hidup telah kembali ke tanah dan satu-satunya nyawa yang dititipkan padanya sudah harus kembali pada Sang Pencipta. Dua komposisi inti kehidupan yang pada akhirnya berpisah ke berlawanan arah.
Beberapa tahun kemudian, seorang tetangga yang kupanggil paman tutup usia. Anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan di pulau seberang diminta pulang. Ketika tiba di rumah, tangis mereka melengking demi melihat sesosok jasad kaku yang telah menunggu. Lalu tubuh-tubuh itu ambruk tak sadarkan diri, tak sanggup dihantam pilu. Aku menyaksikan semua adegan itu dengan mulut terbungkam bisu.

Senin, 24 Oktober 2016

Jejak Kewarasan [Medan Bisnis, 23 Oktober 2016]

Barangkali cerita seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Atau, bisa jadi juga tak pernah kita temui karena kurangnya atensi terhadap kehidupan sekitar. Cerpen berikut ini barangkali sesuatu yang sederhana, namun saya berharap dapat menghibur. Syukur-syukur ada sesuatu yang bisa dipetik darinya. 
........

“Rin, lihat!” bisikku pada Airin sambil memperlihatkan secarik kertas yang diam-diam kupungut sewaktu angin menerbangkannya dari meja lelaki itu.
“Kenapa?” Airin melongok sekilas, lalu mengalihkan lagi perhatiannya pada ponsel yang sejak tadi diutak-atiknya. Wajar saja Airin tidak tertarik. Deretan angka dan berbagai simbol operasi aritmatika yang tertulis di kertas ini tak ada sangkut pautnya dengan jurusan yang kami geluti; sastra.
“Rin, kertas ini dari dia...” diam-diam kutunjuk lelaki yang masih tertunduk itu, asyik dengan kertas-kertasnya.
“Orang gila itu?” Airin tampak tak percaya. “Nggak mungkin! Itu pasti kertas coretan mahasiswa. Kan, banyak yang ngerjain tugas di sini.”

Berikut link-nya http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2016-10-23/#10/z

Selamat membaca... ^^

Jumat, 14 Oktober 2016

Singgah, Senja


singgah, dan berlalu
pagi telah beku
siang yang sebentar menggebu, lalu bisu

singgah, dan berlalu
hari-hari yang rancak
biar ingatanmu berkecipak
dalam kenangan menggenang

telah berlalu
sederet angka pada almanak usia
 
sebelum senja menua
mengepaklah lagi
hari-hari tak akan datang kembali; barangkali

Medan, 2016

suatu petang berawan
usai mendengar burung-burung bernyanyi

Rabu, 12 Oktober 2016

SENANDUNG TERAKHIR [Cerpen]


Sebenarnya cerpen ini pernah diikutkan LOMBA MENULIS CERPEN HUTAN DAN LINGKUNGAN Perhutani Green Pen Award 2016, namun ternyata tidak menang. Akhirnya berakhir di sini, sekedar untuk diabadikan juga untuk dinikmati bila ada yang berniat membaca. Well, here the story. Bila ada yang ingin menyampaikan kritik, saya tunggu, ya. Selamat membaca....

SENANDUNG TERAKHIR 
Oleh Dian Nangin


Rasanya baru kemarin kau mengamati dan menghitung ruas-ruas baru yang bertambah di tubuhmu. Rasanya baru kemarin ayahmu—yang tubuhnya besar nan gagah itu—bercerita bahwa kau telah lama ditunggunya. Katanya, tiap kali muncul rebung tak jauh dari kakinya tertanam, selalu saja ada yang mengambilnya sebelum sempat tumbuh besar dan bertransformasi menjadi bambu yang elok dan menjulang tinggi.
Cerita itu membuatmu paham mengapa hanya kau berdua saja dengan ayahmu yang berada dalam satu kelompok, sementara bambu lain hidup beberapa batang sekaligus dalam satu rumpun. Itu karena bakal bambu sebelumnya tak punya kesempatan untuk tumbuh, seperti yang ayahmu katakan.
Rasanya baru kemarin kau membangun persahabatan dengan para burung yang aktif berkicau, meramaikan siangmu. Juga dengan para serangga malam yang setia dengan orkestranya. Menidurkan para burung yang meringkuk dalam sarang, kelelahan telah bersenandung sepanjang siang.

Jumat, 16 September 2016

CARA(KU) MENULIS CERPEN

Beragam cara penulis fiksi untuk menuliskan sebuah cerita. Cara tersebut bervariasi, tergantung kenyamanan atau kebiasaan penulis itu sendiri. Suatu cara yang berhasil dilakukan oleh satu penulis, bisa jadi tidak cocok diterapkan oleh penulis lain. Dari kebanyakan artikel yang pernah kubaca, ada yang menyarankan membuat outline terlebih dahulu. Ada yang bergantung pada judul. Ada yang merasa lebih mudah memulai dari ending, atau sebaliknya.

Di sebuah milis aku pernah menemukan penulis (atau mungkin masin calon penulis) yang menanyakan bagaimana mengolah ide yang bertumpuk di kepala? Kadang ada beberapa inspirasi menyerbu sekaligus, membuat tangan kewalahan menulis atau mengetikkannya. Belum selesai yang satu, muncul pula ide lain yang menuntut untuk dikembangkan. Pada akhirnya, tak ada satupun yang rampung. 

Bila hal itu terjadi, aku tetap menuliskannya terlebih dahulu. Seringkali hanya garis-garis besarnya untuk dikembangkan nanti atau kapanpun, setidaknya ide itu meninggalkan jejaknya di file yang bertebaran di laptop atau berupa catatan-catatan di notes. Lalu kemudian di suatu waktu aku membacanya kembali, memilah dan mendalami kira-kira mana yang paling menarik untuk dijadikan cerpen 'sungguhan'. Kadang, bisa jadi pula sebuah ide dikembangkan menjadi beberapa cerita dengan penuturan berbeda. Aku sering melakukan ini karena cukup manjur untuk melatih gaya menulis dan cara mengembangkan imajinasi.

Bukankah ada pepatah yang mengatakan practice makes perfect?


Kalau caraku menulis cerita? Ibarat bermain puzzle! Aku kadang memulai sebuah cerpen karena ada sepotong kalimat unik yang menyambar kepala dan rasanya cocok jadi judul cerita. Seringkali potongan kejadian yang akan kumasukkan ke dalam cerita bisa bersumber dari peristiwa berbeda namun terdapat kemiripan di dalamnya. Kadang, dalam satu kali duduk aku hanya bisa menuliskan dua paragraf terakhir. Kadang hanya seulas klimaks tanpa terlebih dahulu menemukan awal dan akhir cerita. Bisa jadi juga menyelesaikan satu cerita, utuh, sempurna secara EYD dan sebagainya, namun tak kunjung menemukan judul yang cocok. Yang gereget!

Pernah suatu kali aku seharian mengutak-atik dua kalimat pembuka sebuah cerpen. Tapi tak juga berhasil, rasanya ada yang belum pas. Sekilas baca sebenarnya aku merasa cerpen ini selesai, namun aku terus menunda pengirimannya ke media. Lalu (ini pengalaman pribadi) aku pergi keluar. Menyesap secangkir kopi di sebuah kafe. Kemudian lalu lalang berjam-jam di toko buku, membaca ini itu tanpa berniat membeli. Hari jelang sore. Kusempatkan singgah di perpustakaan kota. Itu pun karena letaknya dekat dengan toko buku. Memanfaatkan satu jam terakhir sebelum perpustakaan tutup untuk browsing karena aku terbiasa membawa komputer jinjing kemanapun.

Dan akhirnya, di ujung perjalananku hari itu, ketika duduk melepas lelah di bangku perpus yang dingin, sebuah kalimat melintas cepat di benak. Sekejap saja. Bahkan saat itu aku sedang berselancar di dunia maya. Sejenak aku menyadari, sebenarnya apapun yang kulakukan dan kemanapun aku melangkah hari itu, benakku selalu dibayang-bayangi tulisan yang belum rampung tersebut. Ada pergulatan (agak berlebihan, yak!) dalam pikiran yang terjadi diluar kesadaran.

Tak ingin kehilangan momentum, cepat kubuka file cerpen yang terbengkalai. Menghapus kalimat pembuka yang menurutku kurang 'nendang' itu. Menggantinya dengan sebaris kalimat yang baru saja singgah di kepala. Selanjutnya kubuka Yahoo, tulis pesan baru, ketik alamat email tujuan, mengisi judul, kalimat pengantar, attach file, dan kirim. Selang beberapa minggu kemudian cerpen tersebut terbit! 

Demikian.

Sekian.