Minggu, 07 Juli 2019

AWAN DAN OMBAK [Cerpen Harian Tanjungpinang Pos, dimuat pada Minggu, 11 September 2016]

*saya baru tahu perihal dimuatnya cerpen ini pada Juli 2019 ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜†

ilustrasi oleh Tanjungpinang Pos

AWAN DAN OMBAK
Oleh Dian Nangin
Ada beberapa hal yang ditakdirkan hanya untuk saling memandang, saling mengagumi. Tumbuh keinginan untuk memiliki, namun sang takdir menuliskan alur berbeda. Mereka ada, tidak untuk bersama.
Seperti ombak, yang sampai kapan pun tak akan pernah merengkuh awan. Terlalu jauh untuk ia gapai. Sang ombak hanya bisa termangu memandangi awan, putih berarakan bagai sepasukan malaikat penghuni nirwana. Yang dapat ia lakukan hanyalah cemburu pada langit, karena si ombak dapat  menangkap isyarat kesungguhan cintanya untuk awan.
Kurang lebih sama. Helena dengan Agung.
        Meski hubungan itu takkan pernah berjalan seperti yang Helena harapkan, ia tidak akan ‘mengasingkan’ Agung dari hatinya. Dengan dada lapang, ia belajar melepas sekaligus mengenang. Berharap dengan begitu ia bisa berdamai dengan takdir yang tidak sepaham dengan keinginannya.
***
Helena dan Agung berjalan bersisian. Gadis itu melepas sandal dan menentengnya, membiarkan telapak kakinya bersentuhan langsung dengan pasir.

Selasa, 25 Juni 2019

BINTANG KEHIDUPAN [Cerpen Remaja, Harian Analisa, edisi Minggu 23 Juni 2019]

ilustrasi oleh Analisa

BINTANG KEHIDUPAN
Oleh Dian Nangin
            Langit malam ini sungguh gelap. Aku tak pernah benar-benar memperhatikan langit sebelumnya—kecuali pada malam jelang tahun baru karena ada pesta kembang api. Tapi malam ini,  sembari menyandarkan punggung di sofa usang di belakang rumah, mataku lekat menatap kelamnya langit yang seakan menggenapi kesedihanku. Aku sering mendengar kalimat ‘kesepian di tengah keramaian’ dan kupikir kalimat itu terlalu berlebihan. Kini tiba waktuku mengalaminya sendiri dan merasakan kebenarannya.
            Ruang depan masih dipenuhi orang sekalipun jasad ibu sudah kami antarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya sore tadi. Sebagian kerabat masih belum akan pulang hingga beberapa hari ke depan. Sebagian berkata masih ingin menemaniku dan nenek, sebagian beralasan ingin ikut dalam acara doa bersama yang akan diadakan oleh perkumpulan tetangga dan persekutuan tempat ibadah kami. Suara bincang-bincang terdengar dari arah depan, diselingi bunyi langkah kaki yang hilir mudik ke dapur entah untuk keperluan apa saja.
            Namun, untuk sesaat, aku serasa tuli.

Jumat, 31 Mei 2019

MENANAMKAN BUDAYA LITERASI SEJAK DINI


oleh Dian Nangin

Peran Keluarga
            Kebanyakan teman-teman sesama pecinta buku dan juga rekan-rekan penulis mengatakan bahwa mereka sudah hobi membaca sejak kecil. Walau tak begitu ingat kapan tepatnya hobi itu bermula, namun mereka masih mengenang majalah anak-anak, komik, dan bacaan lain yang digandrungi sewaktu belia.
            Orang-orang yang gemar membaca yang saya kenal punya riwayat masa kecil yang dekat dengan buku. Rata-rata, kegemaran dan kedekatan itu memang diwariskan oleh orangtua mereka. Barangkali hal tersebut tidak mutlak seratus persen, tapi tetap saja itu merupakan bukti kuat bahwa orangtua memegang peranan penting dalam menumbuhkan budaya baca bagi anak-anaknya.
            Saya pun juga demikian. Walau latar belakang keluarga saya bukan akademisi, bukan pula pengoleksi buku, juga bukan tipe keluarga yang menyisihkan pengeluaran khusus untuk membeli buku, namun ayah ibu saya cukup suka membaca. Surat kabar, buletin gereja, majalah, buku renungan harian, menjadi santapan sehari-hari mereka. Bahkan mendiang nenek saya yang gemar mendongeng, menghabiskan masa tuanya dengan membaca. Mata lamurnya menyipit dan berkedip dengan intensitas yang lebih tinggi ketika menekuni baris demi baris kalimat dalam buku yang ia baca. Selain itu, ketika masuk sekolah saya langsung duduk di kelas satu SD tanpa mencicipi bangku TK terlebih dahulu (tahun 1997), maka ayah saya rutin mengajari saya membaca setiap sore. Setelah mahir membaca, buku pelajaran Bahasa Indonesia menjadi favorit saya, menjadi buku yang paling cepat lecek karena terlalu sering saya buka, sebab di sana ada banyak cerita dan teks-teks yang dapat saya nikmati.
dok. pribadi
           Kebiasaan membaca yang ditunjukkan keluarga lalu menjadi cikal bakal saya menggemari segala jenis bahan bacaan, mulai dari sekedar teks pendek di belakang kotak kemasan susu, selembar kecil komik dalam bungkus kerupuk, buku pelajaran, Alkitab, hingga akhirnya saya berkenalan dengan beragam novel serta genrenya.

Rabu, 22 Mei 2019

JALAN-JALAN KE RETREAT CENTER GBKP, Sibolangit, Sumatera Utara


Saya adalah seorang jemaat GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) dan tempat ini sudah sangat dekat dengan saya. Sejauh saya bisa mengingat, saya sudah mengunjungi tempat ini sejak saya bahkan belum masuk sekolah.  Banyak agenda gereja yang kami lakukan di sini, banyak kenangan yang sudah terpatri dalam kepala, dan saya juga menyaksikan perubahan dan perkembangan yang terjadi pada retreat center ini.
dok. pribadi
 Nyaris setiap tahun saya melakukan kunjungan ke tempat ini. Bahkan setelah saya mulai kuliah, kegiatan kerohanian dari kampus pun beberapa kali dilakukan di tempat ini. Sesuai namanya, retreat center ini memang dipusatkan sebagai tempat kegiatan keagamaan, penyegaran rohani, retreat, training pelayan gereja, hingga kegiatan umum seperti seminar.
dok. pribadi

Senin, 06 Mei 2019

TERSESAT [Cerpen Harian Analisa, Minggu 05 Mei 2019]


ilustrasi oleh Harian Analisa/Renjaya Siahaan

TERSESAT
Oleh Dian Nangin 
             Satu persatu cahaya yang menerobos rimbun dedaunan perlahan menghilang. Hanya tersisa keremangan yang memaksa mataku bekerja lebih awas. Ini berarti matahari sudah semakin jauh bergeser ke arah barat. Ini juga berarti aku harus semakin bergegas sebelum hutan belantara ini diselimuti gelap. Aku tengah tersesat dalam sebuah perjalanan yang tak kuingat darimana dan kapan bermula. Daripada menguras otak dan tenaga untuk memikirkan asal muasal perjalanan ini, lebih baik aku berjuang menemukan jalan keluar.
             Sesekali pekik-pekik manusia terdengar sayup, sahut menyahut. Aku berteriak memberitahu keberadaanku, berharap ada yang berbaik hati mencari dan menolongku sebelum malam turun. Namun, teriakanku hanya disambut gema pekik-pekik lain tanpa ada yang benar-benar datang menolong.

Rabu, 24 April 2019

Balas Budi Benalu [Dimuat di Wattpad Penerbit Haru, edisi Selasa, 23 April 2019]


Akhirnya, cerpen ini menemukan jodohnya!๐Ÿ’ƒ
Saya lupa kapan tepatnya menulis cerpen ini, namun berdasarkan catatan saya, cerpen ini pertama kali saya kirim pada 20 Agustus 2016 ke salah satu koran lokal di Medan. Tidak lolos muat, saya menarik dan menyimpannya di folder laptop. Saya lalu sibuk menulis cerpen-cerpen baru dan mengedarkannya ke berbagai media cetak dan elektronik. Setelah beberapa lama diacuhkan, saya akhirnya membaca ulang cerpen ini dan merevisinya sedikit, lalu mengirimkannya kembali ke sebuah media cetak di Lampung. Berbulan-bulan menunggu, cerpen ini kembali tidak lolos muat.
Lalu, cerpen ini kembali mengalami revisi, bongkar pasang alur, berubah genre, dan dikirim ulang untuk ke sekian kali. Namun, ternyata ia harus bersabar menunggu sementara cerpen-cerpen lain mendapat tempat masing-masing di berbagai media. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mencoba mengirimnya ke Penerbit Haru yang menerima kiriman cerpen untuk dimuat di Wattpad mereka. Butuh proses yang cukup lama hingga akhirnya si ‘Balas Budi Benalu’ ini menemukan ruangnya. 
Cerpen ini saya kirim pada Desember 2018, mendapat konfirmasi dari Redaksi pada akhir Februari 2019, dinyatakan lolos muat pada akhir Maret 2019, dan akhirnya mejeng di wattpad Penerbit Haru pada 23 April 2019. Betapa sebuah perjalanan yang panjang, fiuhhh….*lap keringat๐Ÿ˜…
Selamat membaca!

Jumat, 12 April 2019

MEMBACA HANYA SEKADAR HOBI? TIDAK LAGI!


Suatu pagi, pintu rumah saya diketuk dengan ritme yang menandakan sebuah ketergesaan. Saya menyahut, dengan santai membuka kunci serta gerendel pada pintu besi. Si pengetuk, seorang tetangga yang beberapa tahun lebih muda, tampak panik bercampur excited. Ia nyaris mengomel karena saya bergerak lamban.
“Ada apa sih?” tanyaku.
“Ini urgent, Kak,” sahutnya cepat.
Setelah masuk, ia membeberkan hal mendesak tersebut dan saya hanya bisa menarik nafas. Hal urgent itu tak lebih dari ketidakmampuannya menyusun kata-kata untuk membalas pesan WA dari HRD sebuah perusahaan tempatnya kemarin mengantarkan surat lamaran kerja pertamanya.
“Apa susahnya membalas itu?” tanyaku.
Saya melihat pesan di layar ponselnya. Tampak beberapa pertanyaan berkenaan tentang pribadi si pelamar dan juga mengenai pekerjaan yang dilamar. Saya berpikir sebentar, lalu mengembalikan ponselnya.
“Jawab saja dengan jujur dan sopan.”
“Iya, tapi bagaimana merangkai kalimatnya?!” katanya dengan wajah memelas.
“Katakan begini, bla…bla…bla…” kucoba membantu sambil mondar-mandir mengerjakan beberapa hal.
“Wah, iya, benar! Itu maksudku!!” Tangannya bergerak cepat di layar ponsel untuk mengetik balasan pesan tersebut. Kepalanya menoleh ke kanan kiri untuk mengikuti pergerakanku. “Gimana tadi, Kak? Aduh, aku cepat kali lupa. Coba ulangi…”